
"Harusnya ayahku memasukanmu ke dalam penjara saja. Ayahku sudah salah sangka padamu, dia pikir kau gadis yang bertanggung jawab. Padahal sudah ku katakan jika calon menantunya adalah jelmaan iblis betina." Darren masih terduduk di atas lantai menatap kakinya yang kaku.
"Da-Darren."
Mendengar kata penjara Laura menggigil ketakutan, hidupnya masih panjang umurnya juga masih muda, Laura tak ingin menghancurkan hidupnya sendiri, apalagi dengan kekuasaan keluarga Darren bukan tidak mungkin ia akan mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama.
"Bi-biar ku bantu." Di samping itu Laura juga sedikit terenyuh karna Darren terlihat tidak berdaya.
"Awas saja kau berbuat seperti ini lagi padaku. Mulumu yang akan ku kencingi." Darren mendengus ia kemudian meraih badan Darren setelah sebelumnya mendekatkan kursi roda ke arahnya.
"Kau berat sekali." Laura mengakat tubuh Darren, pria itu juga turut ikut menahan menggunakan kedua tangannya, bertumpu di kursi roda.
Laura berkeringat di dahinya saat mencoba membantu Darren.
"Bersihkan bekas ompolku! Jangan sampai Mamaku melihat atau kau akan menderita di rumah ini." Darren memperingati Laura yang hanya di respun mengangguk.
Sial impianku menikahi seorang pangeran berkuda kandas begitu saja justru aku seperti menikahi kudanya saja yang kencing sembarangan tanpa tau aturan. Batin Laura, ia memijat pangkal hidungnya sebelum mendorong kursi roda Darren ke kamar mandi.
Laura membantu Darren untuk melepas bajunya, juga membantu pria keterbatasan itu untuk berpindah duduk di kursi yang tersedia.
Darren sedari tadi membuang wajah bahkan saat Laura hendak meloloskan celananya. Rasa malu masih melingkupi dirinya.
"Cukup aku bisa sendiri. Kau bersihkan air seni ku di kamar saja sebelum ada orang yang mengetahuinya." Laura mengangguk dan membersihkan ruangan kamar yang ia tempati bersama Darren. Tidak hanya itu Laura juga menyiapkan pakaian ganti untuk Darren.
Bukk
Dari arah kamar mandi terdengar suara benda terjatuh. Berbeda dengan tadi Laura tak mendengar saat Darren yang terjatuh dari atas ranjang di karnakan pintu kamar mandi yang tertutup. Sedangkan sekarang pintu kamar mandi itu terbuka menyisakan celah yang dapat di masuki tiga jari tangannya, jadi Laura dengan jelas mendengar bunyi jatuh itu.
Laura berpikir apa sekeras itu juga Darren tadi terjatuh dari atas ranjang?
Perlahan Laura mengintip dari pintu luar tentang apa yang di lakukan Darren dari dalam sana.
"Kaki sialan! Kenapa kau masih menempel di tubuhku jika tak bisa ku pergunakan?" Darren memukul-mukul kedua kakinya dengan keras. Terdengar makian yang pria itu tunjukan pada dirinya sendiri.
Laura mematung di tempatnya berdiri. Meskipun ia kasihan tapi ia tak ingin menunjukan kekalahannya di depan pria itu.
"Astaga sedang apa kau di bawah?" pekik laura pura-pura terkejut. Darren repleks menyeka air matanya, ia bahkan lupa jika dirinya tengah telanjang saat ini.
"Kau tengah cosplay menjadi duyung jantan?" Laura terkekeh.
"Aku terjatuh sialan. Suara tawamu mengingatkan aku pada sosok nenek sihir dalam kisah Cinderella." Darren meraih bahu istrinya untuk pindah ke kursi roda.
"Kau sudah selesai mandi?"
"Hmm."
"Kau tampak lebih tampan dengan wajah polos seperti ini." Puji Laura, sembari membelitkan handuk di pingnggang Darren.
"Pembual."
"Sungguh. Aku tidak berbohong."
Wajah Darren seketika memanas mendapati pujian dari Laura yang terdengar tulus. Entahlah ada maksud apa Laura memujinya.
"Aku sungguh tampan?" tanya Darren.
"Ya kau tampan. Asal jangan berdandan aneh lagi. Cukup kau seperti ini." sebenarnya Laura meminta agar Darren tidak tidak berpenampilan aneh lagi. Ia suduh cukup malu dengan acara pernikahannya kemarin.
Entah Laura mengetahui tekniknya atau bagai mana sehingga tidak terlalu sulit kali ini untuk Laura mengangkat Darren.
"Kita akan berobat ke rumah sakit yang ada di luar negri nanti setelah kita libur semester." ujar Laura, ia tak tega mendengar keluhan pria culun yang malang ini.
"Tidak perlu. Ayahku sudah mendatangkan dokter terbaik ke negara ini." Darren menatap gaun yang di kenakan Laura, sebenarnya pusatnya bukan pada gaunnya tapi pada belahan yang menyembul dengan berani dari balik gaun itu. Indah, ia pria normal yang dapat menilai keindahan di hadapannya.
Seketika Darren gelagapan. "Dari mana kau mengenakan gaun tidak sopan itu? Kau ingin mataku semakin sakit saat menatapnya." Darren membuang muka saat Laura mulai mendorong kursi rodanya.
"Dari Almari. Ternyata banyak gaun mahal di sana." Laura berbinar cerah.
"Oh. Itu pasti Mamaku yang menyiapkannya."
"Mamamu? Tapi dia tidak menyukaiku!" renggut Laura.
"Tidak ada yang menyukaimu di rumah ini. Katakan padaku orang tua mana yang akan menyukai seorang gadis yang sudah membuat cacat anaknya?" sarkas Darren, ia tak menyalahkan sikaf ibunya yang terang-terangan tak menyukai Laura.
"Ya aku tau. Kau juga yang suamiku tidak melindungiku, bagai mana orang lain akan menghargaiku."
"Bagai mana caraku melindungi istriku. Sedangkan aku tak bisa melindungi serta mengurus diriku sendiri." Di sisi lain. Darren kerap kali merasa tak berguna sebagai seorang pria.
"Cepat lah sembuh! Setidaknya lindungi dirimu sendiri. Agar aku tak menganiayaya dirimu." Laura memancing pria itu agar kembali ke mode bertanduk.
"Kau yang akan ku aniyaya Laura. Kau pikir apa tujuanku untuk menikahimu selain balas dendam." Darren menyeringai membuat bulu kuduk Laura langsung berdiri seketika.
"Hehehe. Aku hanya bercanda Darren. Mari berpakaian kita akan sarapan." Laura memakaikan baju pada suaminya juga celana sebatas lutut.
"Aku ingin jalan-jalan sambil menikmati matahari pagi setelah sarapan jadi pakaikan aku sun blok." ujar Darren kembali.
"Tentu Darren tentu."
"Ada takutnya juga, iblis betina itu." pikir Darten dalam hari.
Laura memakaikan Sun Blok juga menyisir rambut Darren menjadi lebih rapih.
"Hah. Setelah menikah aku akan terlihat jelek karna waktuku akan habis untuk mengurus bayi tua ini." Laura menggerutu dalam hati.
"Jika kau ingin berdandan sebelum mengurusku, ada baiknya kau bangun lebih awal agar kau tidak terlambat saat ke kampus besok."
Lah, persis seperti cenayang. Darren bisa menebak tepat apa yang di pikirannya. Jangan-jangan dari tadi juga Darren menebak isi hatinya pikir Laura.
"Akan aku usahakan."
Sebenarnya Laura sudah lapar sejak tadi tapi wanita itu tak berani turun tanpa Darren, apa lagi dari lantai tiga harus menuruni anak tangga yang melingkar, bisa-bisa betisnya berotot seketika.
Setelah siap Laura dan Darren turun ke lantai dasar menggunakan lift.
Sampai di lantai dasar ibu mertuanya langsung menyambut Laura dengan sapaan sinis.
"Selamat pagi tuan putri. Kurasa tidurmu sangat nyenyak sampai bangun terlampau siang."
Ingin sekali Laura berteriak di hadapan wanita cantik itu jika ia sudah bagun sedari tadi, ia terlambat turun hanya karna mengurus bayi besar yang lumpuh. Tapi Laura tidak memiliki keberanian sebesar itu, di karnakan ia mengingat perkataan Darren jika di rumah ini tidak ada yang menyukainya sama sekali. Ia harus menjaga dirinya sendiri dari siapa saja yang berpotensi menyakitinya.
"Ya Ma, tidurku sangat nyenyak." Laura tersenyum tipis menanggapi pertanyaan ibu mertuanya.
"Darren bagai mana pekerjaannya? Apa wanita ini mengurusmu dengan baik layaknya pelayan?"
Kata pelayan seakan menjadi hinaan terbesar untuknya. Laura bahkan mengepalkan tangannya di antara pegangan kursi roda.
Tapi hatinya di rundung ketakutan, takut Darren mengadukan tindakannya yang membiarkan Darren mengompol di celana hingga Darren terjatuh sebanyak dua kali hari ini.
Jangan sampai Darren mengadu, Laura berdoa dalam hati.
"Sejauh ini Laura bekerja dengan baik." ujar Darren.
Syukurlah batin Laura merasa lega.
"Terimalasih karna tidak mengadu." Bisik Laura di telinga kanan Darren.