Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Keluarga ibu Darren


Plak ...


Plak ...


Berkali-kali Laura menampar pipi Darren. Bukan hanya sebelah, melainkan keduanya. Laura layaknya seorang yang tengah membalaskan dendam pada Darren.


Meski panas perih lantaran Laura menamparinya tak main-main, tapi Darren tetap membiarkan Laura bertingkah sesuka hatinya. Lama kelamaan Laura merasa kasihan melihat Darren yang hanya duduk pasrah memejamkan matanya dengan wajah yang ia sodorkan ke Hadapan Laura.


Laura tak menghitung banyaknya tamparan yang ia berikan kepada suaminya. Sialnya meski ia bisa menampat Darren lebih keras dari itu, tapi Laura konsisten menampar Darren dengan porsi yang sama.


Darren menyipitkan matanya, mencoba mengintip apa yang Laura lakukan, saat pipinya tak lagi mendapatkan tamparan.


Laura memalingkan wajah, sedangkan Darren hanya mengulum senyum saat mengetahui Laura tak tega menyakitinya.


"Kenapa diam? Apa hukumanku sudah selesai?" kali ini Darren membuka matanya sepenuhnya.


"Siapa yang menghukummu, aku tadi hanya ngidam menamparmu. Ini juga keinginan bayimu." Jawab Laura dengan ketus.


"Keinginan bayiku atau Mamanya?" Darren malah semakin sengaja menggoda Laura.


"Tau aahh, aku mau tidur siang. Kau pergilah, bekerja atau apa. Kau tak lupa jika ingin menjadi suamiku harus banyak uang." Laura membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Blak-blakan sekali Laura membahas tentang uang, ya Laura bukan tipikal yang pandai berbasa-basi.


"Libur kerja selama beberapa hari tak akan membuatku jatuh miskin. Uangku banyak sayang." Darren turut membaringkan tubuhnya, tangan kekarnya membelit pinggang dan mengelus perut datar istrinya.


"Usap punggungku!" Laura memberi perintah.


Darren hanpir saja tergelak akan perubahan mood Laura yang secepat kilat. Apa Laura tidak gengsi atau risih saat meminta Darren mengusap punggungnya padahal satu jam lalu Laura mengusirnya dari rumah itu.


"Cepat Darren, usap-usap punggungku." Laura membalik tubuhnya menghadap Darren.


"Kau keberatan?" Laura menatap tajam Darren, ia sangat sensitife akhir-akhir ini.


"Tidak-tidak, sini mendekat.!" Darren mulai menyelinapkan tangannya ke bluse yang Laura kenakan dan mengusap punggung kulit Laura yang terasa hangat. Darren juga dapat merasakan sesuatu yang melintang di punggung Laura dengan pengait di sana. Ingin rasanya Darren melepas kaitan itu dan menikmati isinya.


"Darren tidak usah masuk, dari luar baju saja." Laura mrnggeliat tak nyaman. Ia tiba-tiba mengingat sentuhan Darren.


Tak ingin Laura marah Darren mengikuti ingin Laura dan terus mengusap lembut punggung istrinya. Lama kelamaan manik indah Laura mulai sayu, terlihat wanita itu mulai kehilangan kesadarannya dan terlelap di hadapan Darren.


Setelah memastikan Laura terlelap Darren mulai berani memeluk erat tubuh istrinya.


Darren yang mulai mengantuk harus menepis keinginannya untuk memejamkan mata saat ia mendengar ponselnya mendapat panggilan masuk dari orang suruhannya.


Darren beranjak saat orang itu mengatakan jika ibu kandungnya berada di kotanya dengan keluarga barunya, ada kekecewaan di mata Darren terhadap sang Papa yang mengatakan jika ibu kandungnya tak lagi menginginkannya. Apa benar kenyataannya seperti itu? Apa dirinya benar-benar tidak ia inginkan?


Darren mengecup kening Laura dan mengusap lembut perut istrinya. "Aku pergi sebentar!"


.


Darren menatap nanar sebuah rumah yang cukup besar d hadapannya. Beruntung ibu kandungnya tidak kekurangan apapun sehingga Darren tidak perlu mengkhawatirkan ekonomi sang ibu.


Dari informasi yang ia dapat Darren tak memiliki saudara kandung seibu. Maupun saudara tiri, karna baik ibunya maupun ayah sambungnya tidak memiliki anak. Mereka mengadopsi sepasang bersaudara dari panti asuhan.


Saat ia melihat sebuah keluarga hangat keluar dari rumah dan menuju mobil mereka, ibunya, ayah sambung serta dua orang anak sepantaran dengannya, perempuan dan laki-laki, mungkin umur gadis itu di bawah Laura pikir Darren dengan tertawa bahagia. Ia merasa benar-benar tak di butuhkan oleh siapapun. Darren terus saja menatam mobil yang mulai bergerak dan membawa keempat orang di dalamnya.


Darren melemas di tempatnya berdiri ia memeluk lututnya sendiri. Keluarga ibunya bahagia, namun apa kabar dengan dirinya?