Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Hamil Di Luar Nikah


"Katakan Liora siapa ayah janin itu?" Sejak tadi Kenan mendesak putri keduanya untuk mengakui siapa pria yang menghamili Liora.


"Liora, tidak tau." Gadis pendiam itu menggeleng kasar, sebenarnya ia bukan tidak tau siapa ayah dari bayinya hanya saja ia tak ingin membuat Daddy semakin murka padanya jika ia mengatakan ayah dari bayinya.


"Mustahil kau tak mengetahuinya Liora, tidak mungkin tiba-tiba saja sesosok janin ada di rahimmu tanpa pembuahan Lio, ini jaman modern bukan lagi jaman para nabi yang dapat hamil atas ijin Tuhan tanpa pembuahan." Kenan terus mendesak putrinya, untuk mengakui siapa pria itu. Dan lagi untuk kedua kalinya Kenan merasa gagal menjadi seorang ayah. Setelah Lauranya ia nikahnkan dengan paksa.


Hamil di luar nikah yang terjadi pada putri keduanya merupakan tombak mematikan yang berhasil menembus dada hingga ke sumsum tulang belakangnya. Kenan belum bisa melepaskan putri pertamanya dari jerat pernikahan dendam sekarang masalah baru sudah mencekiknya kembali.


Sedikit saja Kenan tak menduga jika Liora akan berbuat demikian padanya, rasa sakit serta di kecewakan melingkupi seluruh jiwanya.


Kenan meluruh ke lantai, begitu tega kah Tuhan menghancurkan keluarga harmonisnya dalam sekejap, padahal selama lebih dari dua puluh tahun keluarganya sangat bahagia dan harmonis.


"Bunuh saja Daddy Liora, bunuh. Kau tak akan tau resiko apa yang kau hasilkan ini." Kenan menunduk dengan air mata yang tumpah ruah.


"Dad maafkan Liora." Gadis yang tengah hamil tiga minggu itu tak tega melihat Daddy menangis menyedihkan ini pertama kali ia melihat hal itu.


"Ken." Fana memeluk tubuh tak berdaya suaminya kegagalan tercetak jelas di rautnya yang basah.


"Hey tenangkan dirimu, ini bukan akhir dari semuanya Ken, kabar baiknya kau akan menjadi kakek tampan." Fana mencoba menghibur suaminya padahal dirinya sendiri lebih terluka dari ini. Sedangkan Liora hanya diam saja.


Jika saja Liora tidak pingsan tadi siang maka Kenan dan Fana tidak akan mengetahui jika Liora tengah mengandung.


"Ku pukir, Lio yang pendiam tidak akan menikamkan belati sedalam ini pada keluarga kita." tanpa sengaja Kenan mengatakan hal itu yang di mana berhasil menyiramkan bansin pada kobaran amarah Liora.


"Salahkan saja terus diriku. Daddy juga bersalah dalam hal ini Daddy terlalu mengurusi Laura, Laura dan Laura terus. Daddy tak pernah tau perasaan dan kesakitan yang kuderita selama ini. Anak Daddy hanya Laura saja sedangkan aku apa? Daddy bahkan tak tidur semalaman saat Laura tinggal dengan suaminya. Kau terlalu membeda-bedakan kami kau selalu menuruti apa keinginannya." Liora berteriak di hadapan Daddy dan Mommynya.


"Liora."


Plakk ....


Fana yang menampar pipi mulus putrinya, untuk pertama kali Fana bertindak kasar pada anaknya. Pipi itu berubah menjadi kemerahan dengan gambar lima jari.


"Jaga bicaramu Liora, kau bersalah mengapa kau mengkambing hitamkan saudaramu. Daddymu tak pernah membanding-bandingkan kalian, kau lupa jika setiap Laura meminta sesuatu kami juga memberikannya padamu meski kau tak berbicara atau memintanya. Lalu di mana letaknya membedakan yang kau maksud?, jika seandainya ada yang kau inginkan dan kami tidak menuruti atau memberikannya itu salahmu sendiri kenapa tidak berbicara. Kami sebagai orang tua bukan dukun yang harus mengetahui apa yang kau inginkan, sekali lagi kau meninggikan suara di hadapan suamiku bukan hanya tanganku yang berbicara kakiku bisa saja mampir di wajahmu." Fana berkata sarkas.


Fana sangat marah dengan apa yang di lakukan putri keduanya seujung rambutpun ia tak menyangka orang setertutup Liora bisa melukai suaminya dengan lidahnya.


Ya Liora merasa salah tapi bukan saatnya ia untuk mengakui kesalahannya. Menurutnya Daddynya pilih kasih dan tidak menyayanginya.


"Sayang." Kenan memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Tenang, awas matamu bisa saja loncat, nanti kau jadi picek. Bagai mana kau mengenali suami tampanmu." Sempat-sempatnya Kenan berbisik kalimat random di situasi segenting ini.


"Daddy bahkan terus membela Laura di saat dia dalam keadaan salah sekalipun." lirih Liora.


"Itu, sifat kami sebagai orang tua Lio. Kami menyayangi kalian, mau sesalah apa kalian kami mencoba agar kalian berada di keadaan yang baik dan nyaman. Itu naluriku sebagai ayah Lio. Kau pikir Daddy mendesakmu untuk mengakui siapa pemilik benih itu kau pikir untuk apa? Untuk kepentingan Daddy? Tidak Lio sungguh Daddy tidak memperdulikan apapun selain kalian dan Mommymu."


"Tapi apa Daddy bertanya apa yang ku inginkan? Aku tidak menginginkan bayi ini Daddy." Liora kembali kehilangan kendali.


"Ini semua karna Laura! Jika saja dia tidak membuat onar ini tidak akan terjadi, aku mencintai Darren tapi Laura menghancurkannya Daddy! Dia menghancurkannya. Laura membuat pria yang ku vintai cacat, Kau juga turut berperan menghancurkan hidupku, mengapa saat Laura menolak pernikahannya dengan Darren Daddy tak menawari aku untuk menjadi pengantin pengganti Daddy justru malah memaksa Laura?" Liora semakin tak terkendali.


"Daddy tidak tau kau menyukai Darren, kau tidak mengatakan apapun. Lagipula Darren juga cacat dan ..."


"Aku tidak perduli sekalipun dia cacat." ujar Liora cepat.


Sejak tadi Laura dan Darren berada di luar menguping setiap pembicaraan keluarganya Laura tak menyangka jika Liora iri pada kedekatan ia dan Daddynya, ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Liora.


Darren sudah berganti pakaian dengan pakain bersih yang selalu ia bawa kemanapun. Begitu juga dengan Laura.


Sialnya Darren tidak merasa senang ataupun berbunga saat Liora mengaku menyukai. Entahlah apa yang ada otaknya.


"Kau dengar. Di dalam ada yang mencintaimu dan menerimamu, kau boleh menceraikan aku dan menikah dengan adikku." ujar Laura ringat entahlah ia seperti mendapat angin segar dan akan terlepas dari tatapan ibu mertuanya yan selalu mengulitinya.


"Enak saja, kau yang membuatku lumpuh, Liora yang harus menggantikan tugasmu untuk mengurusku. Itu tidak adil." Hanya kalimat itu yang Darren lontarkan.


"Baiklah, setelah kau sembuh dan Liora melahirkan kalian bisa hidup bahagia ... Yeyyy." Ujar Laura sampai Darren di buat cengo oleh tidakan Devil wifenya.


"Ck, Liora harus menikah dengan pria pemilik benih itu."


Laura terdiam tiba-tiba ia teringat sesuatu, jika selama ini Liora kerap kali menghabiskan waktu bersama Darren mengingat hanya Liora yang menentangnya untuk menjauhi si culun, bisa saja kan mereka iseng coba-coba dan berhasil.


Laura mendekatkan wajahnya pada wajah Darren dan bertanya.


"Kau pernah menanam saham di perut adikku?" tanya Laura penuh selidik.


Darren seketika melotot akan perkataan istrinya respon tercepatnya menoyor kepala Laura.


"Menanam saham bagai mana maksudmu? Aku lumpuh Sialan. Kau tak dengar kandungannya baru tiga minggu dan aku lumpuh lebih dari sebulan. Katakan bagai mana aku melakukannya?" Darren kembali menoyor kepala Laura.


"Iya juga ya."


"Lagi pula aku tak berniat merusak gadis baik seperti Liora. Kecuali gadis setan sepertimu niat tak niat aku harus merusakmu." aku Darren terang-terangan.


Belum sempat Laura menjawab, Mommy dan Liora berteriak dan ternyata Daddynya pingsan. Entah apa yang terjadi Laura tidak tau mereka tadi tengah berdebat sehingga tidak fokus.


Darren menebak ini ada kaitannya dengan Liora yang hamil di luar nikah