
"Darreeennn ..."
"Hentikan!"
"Apa yang kau lakukan?"
Laura menjerit, ia terkejut bukan main saat tiba-tiba Darren memukul wajah Daniel hingga pria itu tersungkur hingga ketanah.
"Tolong!!"
Akhirnya Laura berteriak ia tak berani memisah perkelahian Darren dan Daniel yang hanya di dominasi oleh Darren saja.
Ada supir dan scurity di rumah Laura yang kemudian mendekat dan memisah keduanya. Darren yang masih emosi dengan mudah melepas supir yang mengunci tubuhnya.
"Darren berhenti!"
"Darren berhenti!"
Berkali-kali Laura berteriak namun pria itu tak mengiraukannya hingga Laura nekad menghadang Darren dan memeluk pria itu.
"Darren berhenti."
Daniel sudah terkapar ia bisa mati jika Darren terus menghajarnya, pukulan yang Darren berikan tak main-main.
Ajaib Darren membeku dan langsung merengkuh tubuh ringkih istrinya. Dengan rakus Darren menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya. Darren menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Ini yang ia inginkan sejak pagi. Pelukan sang istri, apa hanya untuk mendapatkan hal itu Darren harus menjadi pria brutal dan melukai orang lain, Darren tidak keberatan sekalipun ia harus patah tulang jika akhirnya ia bisa merengkuh tubuh ini.
"Maaf, telah membuatmu takut. Tapi aku tak bisa membiarkanmu dengan pria lain." bisik Darren lembut.
Laura diam, seandainya Darren hanya menunjukan sikaf lembutnya mungkin ia akan melunak, tapi Darren tetaplah pria yang kurang ajar yang kerap kali mempertontonkan sosok iblisnya.
Laura tak ingin mempertahankan pelukan itu lebih lama.
"Lepasss!"
"Ra, biarkan seperti ini sebentar saja."
"Lepass!"
"Ra, sebentar saja, ku mohon." Laura memberontak kecil dalam dekapan Darren, tak ingin Laura kelelahan akhirnya Darren melepas dekapannya.
Laura langsung berlari ke arah Daniel yang masih terduduk di lantai.
"Jangan berlari La,,, ingat pada bayimu!" Daniel memperingati Laura dan wanita itu langsung memelankan langkahnya.
"Kau baik-baik saja?" Laura melutut di hadapan Daniel.
"Aku merasa wajah tampanku terluka." Daniel mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
Darren semakin sakit hati kala Laura menanyakan keadaan Daniel sedangkan dirinya ia abaikan begitu saja.
"Lauraaa." panggil Darren lemah.
"Pulanglah! Jaga Mamamu, jangan sampai dia kemari dan kembali meludahi wajahku." Laura membantu Daniel berdiri.
"Aku tak menyangka wanita terhormat seperti ibumu menganggap biasa setelah meludahi orang lain. Apa itu semacam teradisi orang kaya?" Daniel turut mengeluarkan suaranya di anyara ringisannya.
"Lauraaa."
Darren mematung, semakin terlihat jelas keserakahannya.
"Ayo, kita obati lukamu." Laura mengajak Daniel kedalam rumah, hanya Daniel. Tak melihatkah jika Darren sama terlukanya seperti Daniel.
"Ra,, aku juga terluka."
"Apa peduliku? Lagi pula kau terluka karna dirimu sendiri, Dasar lemah! Aku saja yang kau tampar mengobati lukaku sendiri. Sungguh tak tahu malu jika kau ingin ku obati." Laura berlaru. Meski Darren memanggilnya beberapa kali tapi Laura tak menengok kearahnya.
"Sialan ..." Darren berteriak dan memaki dirinya sendiri. " Kenapa lagi-lagi aku kehilan kendali." Darren menendang asal tanah yang ia pijak.
Darren menunggu Laura keluar kembali di dalam mobilnya. Namun hingga malam menyapa baik Laura maupun Daniel tak menampakan wajahnya di luar rumah.
Hingga.
Tokk ...
Tokk ...
Seseorang mengetuk kaca mobil Darren, dan orang itu adalah Ayah mertuanya Kenan. Sepertinya pria itu baru pulang di sampingnya juga terdapat suami Liora.
"Sedang apa kau di sini?" Kenan langsung menodongkan pertanyaan kepada calon mantan menantunya.
Darren hanya diam.
"Kau ingin menekan putriku kembali."
"Daddy."
"Pulanglah! Katakan pada Daddymu lakukan apapun yang ingin dia lakukan aku tak perduli. Aku tak akan menyerahkan kembali putriku." Mendengar itu Darren buru-buru keluar dari mobilnya.
"Dad, kenapa kau pelit sekali. Aku hanya meminta satu kesempatan tapi kau tak memberikannya." Darren terus menghalangi langkah mertuanya.
"Sudah ku katakan kesalahanmu sangat fatal Darren. Kau tak memikirkan psikis Laura?"
"Menjauh dariku!" Kenan mendorong tubuh Darren hingga terjungkal.
Kenan dan Eldy meninggalkan Darren. Tanpa sekalipun berniat mengajaknya masuk.
Darren marah. Pria itu kesal akan dirinya sendiri, juga kecewa atas pelakuan Mama sambungnya.
Darren melajukan mobilnya menuju sebuah bar. Untuk peetama kalinya Darren akan menginjakan kakinya di tempat haram sejuta maksiat itu.
Darren datang sendiri. Karna memang pria itu tak memiliki teman dekat. Malam ini ia akan memuaskan amarahnya hingga ia terpuaskan.
Bergelas-gelas cairan neraka Darren tenggak dengan cepat. Darren tak memperdulikan tubuhnya yang mulai terasa lemah, tubuhnya tak mentolelir alkohol, apa lagi alkohol yang di minum Darren berkadar sangat tinggi.
Darren tidak memperdulikan ponselnya yang bergetar sedari tadi. Ia ingin menunjukan kehancuran dirinya terhadap sang ibu sambung, jika dirinya tak bisa tanpa Laura.
Darren, benar-benar mabuk. Tak ada yang berani mendekat ke arahnya karna Darren terus memaki tak jelas.
Hingga Regantara tiba di sana dengan Ben asistennya.
"Dasar anak bodoh!" umpat Rega.
Darren masih mengenali suara Papanya yang samar-samar terdengar dia antara batas kesadarannya.
"Papa, katakan pada Daddy Kenan agar ia mau mengembalikan Lauraku Pa." Darren meracau tak jelas. Pria muda itu benar-benar mabuk berat.