
Akhirnya ke esokan harinya setelah makan siang Laura dan Darren benar - benar pindah ke apartemen.
Darren benar - benar menyiapkan segala sesuatu dengan sangat baik, mulai dari stok makanan, cemilan juga hal - hal yang di senangi Laura termasuk dengan bioskop mini di apartemennya. Darren mengetahui Laura gemar sekali menonton drama korea kesukaannya. Apa lagi aktor Cha Eun Woo menjadi aktor favoritenya.
"Kau menyukai tempatnya?" Darren bertanya setelah berkeliling apartemennya.
Laura hanya mengangguk, ia senang dan merasa terbebas dari sangkar emas setelah pindah rumah. Apakah kebahagiaan seperti ini yang di rasakan para menantu yang tinggal serumah dengan mertuanya?
Laura mengecup pipi Darren sekilas. "Terimakasih karna mau menuruti ke inginanku." Laura tersenyum manis dan menawan Darren lalu menenggelam Darren pada pesona wanita itu.
"Apa ini bagian dari aktingmu sebagai istriku seutuhnya?" Darren menaikan satu alisnya, ia tak mau melambung terlalu tinggi, takut jatuhnya sakit besty ...
"Anggap saja seperti itu."
"Jika iya, aku menginginkan ciuman di sini." Darren menunjuk bibir tebalnya.
Cup ...
Sesingkat kedipan mata Laura mengecup bibir istrinya, membuat Darren memberenggut tak suka. "Ku bilang ciuman, bukan kecupan singkat."
Darren terlihat merajuk menyilangkan kedua tangannya di atas perut dan membuang pandangan.
"Astagha, kau merajuk."
Darren diam masih di posisi awalnya. Laura yang kini berperan menjadi istri baik hati mencoba menawarkan sesuatu pada Darren.
"Jangan ngambek mulu. Besokan hari libur, aku akan mengajakmu berlibur ke bandung, di sana kita akan berkencan dan kulineran sepuasnya, sampai hari senin." Mendengar kacta kwncan Darren meluruskan bibirnya, ia penasaran kencan yang di maksud Laura seperti apa?
"Aku akan bolos kuliah sehari. Kau juga bolos kerja ya?" Laura berbisik membuat Darren meremang seketika, karna hembusan nafas hangat yang membelai kulit leher serta cuping telinganya. Area itu sangat sensitif untuk Darren.
Tak Darren perdulikan apapun lagi ia segera membenamkan bibirnya di belahan kemerahan milik istrinya. Aneh Laura bagai di bacakan mantra abrakadabra sehingga tidak memberontak, justru Laura menerima dan menyambut baik tautan bibir dari suaminya.
Darren Meny-esap, meng-ulum, juga melu-mat secara rakus bibir istrinya. Laura sampai memejamkan matanya saat Darren semakin memperdalam ciumannya.
Terdengar bunyi kecipakan basah dari tautan yang terlepas, Darren menatap sayu bibir yang di lumuri saliva miliknya. Ia menyeka sisa - sisa saliva yang tertinggal di antara bibir itu menggunakan ibu jarinya. Darren juga menyatukan kening mereka.
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski awalnya kau tak mencintaiku, dalam waktu sebulan aku akan membuatmu terbiasa dengan kehadiranku. Sehingga saat kau pergi kau akan kembali pulang padaku." Darren bergunam tepat di depan bibir Laura.
"Jika kau gagal aku akan tetap pergi."
"Kau terlalu berambisi untuk meninggalkanku."
"Apa bedanya dengan dirimu? Kau juga berambisi untuk memilikku." Ada saja kalimat Laura yang bisa membuat Darren ternganga.
"Aku ingin membuktikan pada setiap orang yang selalu merendahkan diriku di masa lalu. Aku bisa memiliki seorang istri secantik dan se-sek-si dirimu. Di samping itu aku mencintaimu." Aku Darren terus terang. "Aku yakin dunia pasti sangat iri padaku karna aku berhasil memperistri wanita secantik dirimu."
Wanita mana yang tak melambung tinggi kala seorang pria tampan memuji fisiknya. Begitu juga dengan Laura, pria itu mampu membuat Laura tersenyum malu-malu dan tersipu.
"Lebih baik kita tidur siang." Darren menyelinapkan tangan di antara ketiak dan perpotongan lutut istrinya, lalu membawanya dalam gendongannya.
"Kau yakin hanya tidur?" Goda Laura.
"Kau ingin apa sebenarnya? Membuat seorang bayi lucu?"
"Memangnya kau bisa?"
"Kau menantangku?" Darren mempercepat langkahnya. Enak saja Laura meragukannya, di campuri beneran tau rasa kau!