
Darren masih mengatur nafasnya yang terengah-engah. Darren membersihkan cairan cintanya yang terdapat di perut hingga ke dada Laura menggunakan tissue.
Sesekali Darren tersenyum ke arah Laura, Darren tak jemu mengecupi bahu polos sang istri yang beberapa saat lalu sudah menghantarkannya ke surga dunia.
"Terimakasih, kau sudah mewarnai hidupku yang suram. Ku akui semenjak kehadiranmu aku merasa bersemangat menjalani hidupku." Darren mengusap kening istrinya yang di penuhi dengan keringat yang ngembun.
Darren membawa tubuh istrinya untuk ia dekap. "Kau pemberani sekali mendatangi Mama kandungku." Darren mengangkat dagu istrinya menatap wajah cantik yang terlihat kelelahan itu.
"Demi dirimu." Sahut Laura.
"Aku bahagia, kau perduli terhadapku." Darren menggesekan hidung bangirnya pada hidung mungil sang istri.
"Kau senang?"
"Sangat sayang."
Laura tertawa dengan ringannya.
"Mari mandi bersama. Kita harus makan malam." Ajakan mandi bersama Darren bukan sekedar mandi, Darren adalah pria yang mesum, yang tidak ingin melewatkan kesempatan.
Setelah mandi bersama Laura dan Darren keluar dari kamar mereka bersamaan, tapi saat tiba di ruang makan mereka tak mendapati Papa dan Mamanya. Laura menawarkan diri untuk memanggil Papa dan Mama Darren. Mengingat dirinya yang ingin memperbaiki hubungan Laura akan mencoba mendekatkan diri dengan mama mertuanya.
Darren juga ingin orang tuanya dan istrinya berbaikan, sehingga ia mengijinkan Laura untuk memanggil Mama dan Papanya.
"Apa kau tidak lelah?" Darren bertanya. Darren khawatir istrinya kelelahan karna mereka baru saja menyelesaikan permainan mereka.
"Tidak."
"Baiklah, setelah makan malam kita nambah permainan." Bisik Darren, ia menyadari banyak pelayan yang berlalu lalang di sana. Darren tak ingin pembicaraan yang mengarah ke adegan ranjang itu di dengar orang lain, sekalipun pekerja di rumahnya.
"Aku pergi." Laura beranjak.
"Jangan lama-lama. Jangan membiarkan aku merindukanmu."
"Ya."
Laura berjalan meninggalkan ruang makan.
Tapi saat hendak naik ke lantai dua terdengar suara ponsel Laura yang ia genggam sedari tadi, akhirnya Laura memutuskan untuk mengangkat ponselnya lebih dulu, sebelum memanggil kedua orang tua Darren.
"Darren."
Papa Rega menyapa putranya yang duduk di meja makan seorang diri.
"Eh, Papa dari mana?" Darren sedikit kaget saat dang Papa ada di dekat meja makan dan mendekat ke arahnya.
"Papa dari depan habis menelpon Mr. Xavier. Sebentar Papa panggil Mamamu." Papa Rega hendak melangkah tapi Darren menghentikannya.
"Tidak udah, Laura sedang memanggil Mama." Ujar Darren.
Laura yang sudah selesai mengangkat panghilan berjalan menuju ke arah tangga.
Hingga ...
"Tolong, tolong!!" suara Laura memekik dengan nyaring, menggemparkan seisi rumah.
Laura melihat Mama Nadhira dydah tergeletak di bawah tangga dengan berlumur darah. Laura menjatuhkan ponselnya dan hendak meraih tubuh Mama mertuanya yang terlihat tak sadarkan diri.
"Apa yang kau lakukuan.?" terdengar suara Papa Regantara yang membentak dengan mata yang memerah. Rahangnya mengetat, juga dengan tatapan yang tajam ke arah Laura.
Rega bahkan mendorong Laura dari hadapannya. Jika saja Darren tak sigap meraih tubuh istrinya sudah di pastikan Laura akan terperosok ke atas lantai.
"Papa, hati-hati! Laura sedang hamil." Darren tak terima, saat Papanya melakukan hal kasar terhadap istrinya.
"Bagaimana jika bukan istriku yang melukainya. Apakau takan menyesal jika terjadi sesuatu dengan calon cucumu sendiri?" Darren berkata sengit. Ia masih kaget akan tindakan Papanya yang mendorong Laura.
Regantara membisu, ia juga tak sengaja mendorong Laura tetlalu kuat.
"Darren. Aku tak melakukan apapun sungguh." Laura takut di tuduh macam-macam ia berkaca dari kejadian sebelumnya.
"Stt, tenganglah. Kita harus membawa Mama ke rumah sakit." Darren berujar panik, namun dengan suara lembut.
"Siapkan mobil!" teriak Papa Rega seraya membawa tubuh istrinya yang berlumuran darah.
Setibanya di rumah sakit, Nadhira langsung mendapatkan penanganan terbaik dari pihak rumah sakit.
Rega, Darren dan Laura menunggu di ruang tunggu. Regantara tak bisa menahan diri ia panik, takut terjadi sesuatu dengan istrinya.
Laura pernah membuat Darren lumpuh, dan sekarang istrinya jatuh dari tangga dengan luka yang lumayan serius. Bisa saja Laura yang melakukannya. Bukannya Darren mengatakan jika Laura tengah memanggil istrinya.
"Laura apa yang kau lakukan pada istriku!?" Regan tara membentak, hingga Laura terjengkit kaget. Darren langsung pasang badan melindungi istrinya.
"Papa, tenanglah! Jangan menuduh istriku seperti itu." Darren menyembunyikan tubuh mungil sang istri di balik punggungnya.
Regantara kesal terhadap putranya, Darren malah menyuruhnya tenang sedangkan ia tengah memikirkan keadaan sang istri yang belum ia ketahui keadaannya.
"Menyingkir Darren. Aku tengah bertanya pada istrimu."
"Caramu bertanya menakuti istriku Pa."
"Darren Mamamu terluka parah. Dan itu bisa saja Laura yang melakukannya." Laura yang ketakutan hanya mere mas ujung baju Darren.
"Jangan menyalahkan istriku Pa. Belum tentu juga Laura yang melakukannya. Bisa saja Mama terpeleset Pa, kemudian jatuh." Rega tak menyangka Darren berani menentang ucapannya, selama ini Darren adalah anak yang penurut. Apa yang Rega katakan Darren selalu patuh.
"Kau mulai melawan Papa."
"Aku berkewajiban untuk melindungi istriku." Darren tidak takut dengan Papanya, ia sangat yakin jika Laura tidak melakukan hal itu.
"Laura tidak menyukai Mamamu, kau mungkin lupa jika lebih dari dua tahun lalu wanita itu juga membuatmu lumpuh." Rega terus kukuh menyalahkan Laura.
"Cukup Pa. Aku mengenal istriku, tidak mungkin Laura berlaku demikian." Darren tetap membela istrinya.
"Lihat saja, jika terjadi sesuatu dengan mamamu. Papa sendiri yang akan menghabisi nyawanya." Rega bahkan tak memperhatikan ucapannya sangat melukai menantunya.
Rega terlalu panik, akan ke adaan istrinya.
Darren hendak menyaut, tapi dokter memanggil papanya lebih dulu.
Selepas kepergian Regantara keruangan dokter, Darren berbalik dan memeluk tubuh istrinya yang bergetar.
"Darren. Sungguh, aku tak melakukan apapun. Aku bahkan belum menginjak tangga sama sekali, aku habis menerima telepon dari Mammy, Darren. Aku tidak berbohong."
"Stt, tenanglah aku percaya padamu. Aku akan melindungimu." Darren kembali memeluk istrinya.
"Maafkan Papa. Dia hanya panik. Mungkin aku juga akan berlaku demikian saat mendapati istriku terluka. Tolong maafkan papa ya?" begitu halus perasaan Darren, sehingga pria itu meminta maaf atas ke kasaran Papanya.
"Ya Darren aku mengerti."
"Kita tunggu Mama sadar ya?" Darren mengusap air mata Laura, yang menetes membanjiri wajahnya.
Satu hal yang Laura takutkan, Laura takut jika ibu mertuanya mengatakan hal ke balikannya.
"Aku sudah pernah mengatakan aku siap kehilangan segalanya. Asalkan bukan dirimu." Darren mengecup lama kening istrinya mwncoba menyalurkan ketenangan pada wanitanya.