
Darren belum pernah segila ini terhadap seorang gadis sekalipun gadis yang membuatnya tertarik dan memasuki sekolah tempat Laura berada.
"Dan lagi setiap kau melayaniku aku akan membayarmu dengan harga lima puluh juta."
Amarah yang sedari tadi Laura tahan sudah terkumpul dan menguasainya.
"Aku bukan Ja-lang Darren!"
"Tentu saja bukan. Kau adalah istriku satu-satunya." Darren semakin mendekatkan wajahnya ke arah dada Laura dan mengecup sesuatu yang mengunung dari luar.
"Dan sebagai suami istri, kita perlu melakukan hubungan in-tim supaya kita bisa memiliki ahli waris, bukannya kau ingin mendapatkan hartaku?"
"Sekarang tidak lagi Darren. Hubungan in-tim di lakukan juga jika suami istri saling mencintai, pernikahan kita tidak normal. Jangan lupa pernikahan kita terjadi karna penebusan dosa Darren." Laura menatap balik mata setajam belati yang menghunus tepat di matanya.
"Darren ingat, pernikahan kita sebagai ganti rugi karna kau lumpuh, dan sekarang kau sudah sembuh maka ceraikan aku."
"Rugi sekali aku. Menceraikanmu dalam ke adaan perawan, heh! Kau pikir aku panti sosial yang tidak menghitung untung rugi."
"Maumu apa Darren!?" Laura bahkan berteriak sehingga urat di lehernya terlihat jelas, juga dengan rahang yang mengetat.
"Kau, istriku. Layani aku layaknya istri pada umumnya, aku adalah suami sungguhanmu. Menututi semua keinginanku, juga berikan aku bayi yang gemaskan." Darren mendaratkan jemari panjangnnya di pipi mulus Laura, gadis itu berpaling membuang wajahnya, ia takut terpengaruh dengan wajah Darren yang berubah menjadi tampan dalam waktu dua tahun. Ah sepertinya Darren menggunakan teknik bedah pelastik mengingat duitnya yang bejibun juga koneksi ayahnya yang luar biasa. Bisa saja Darren di permak gabis di negri singa.
Darren tersenyum. Ia sendiri di buat bingung dari rasa bencinya terhadap Laura kini berubah menjadi rasa yang sukar untuk di jelaskan.
"Bagai mana? Kau bersedia memberiku gelar mulia sebagai Ayah?" tawar Darren kembali.
"Darren uangmu sangat banyak, bukan hal sulit mencari wanita lain untuk mengandung benihmu. Yang jelas bukan aku!"
Laura yakin di luar sana akan banyak wanita yang akan menyerahkan tubuh mereka dengan cuma-cuma jika melihat penampilan Darren sekarang. Bahkan rasanya Laura ingin menggandeng Darren di hadapan teman-teman kampusnya yang mengoloknya karna bersedia menikah dengan pria buruk rupa yang cacat.
"Kau bisa menikah lagi!"
"Aku bukan penganut poligami."
"Ah, itu lebih mudah. Kau bisa menceraikanku dan menikahi gadis lain yang lebih cantik dariku."
"Aku inginnya kau bagai mana?" Dasar Darren pria kekeh yang sulit di ajak negosiasi.
Ingin rasanya laura menyeruduk wajah Darren hingga hidung bangir pria itu patah dan berdarah, tapi Laura berpikir, bagai mana jika Darren kembali menjeratnya. Bukannya pria ini sangat cerdik.
"Jika kau tidak mau membuat bayi sekatang tidak papa, kita bisa saling menyenangkan seperti waktu itu." Darren menatap Laura dengan tatapan yang terlihat jelas semakin memuja.
"Aku kapok, kau memaksaku untuk menelan cairan sialan itu. Bahkan aku was-was takut hamil saat kau pergi dua tahun lalu. Aku bahkah mengecek berulang kali menggunakan tes kehamilan untuk meyakinkan jika aku tidak hamil. Aku juga pergi ke dokter obgyn untyk melakukan usg takut bayimu tumbuh di perutku. Aku tak bisa membayangkan hamil tanpa sosok suami."
Hah.
Darren bahkan ternganga oleh penuturan Laura. Si bodoh dalam segala hal ini ngadi-ngadi, mana bisa dia hamil dalam keadaan masih perawan.
"Apa yang kau kira itu sia-sia Laura. Benih yang kau telan sampai ke lambung hukan ke rahim. Beda server Laura, kecuali aku memasuki benihku melalu mulut yang ini baru jadi." Darren menyentuh pelan daerah yang ia inginkan.
"Masa sih, ku pikir jika sama-sama masuk ke perut benihmu akan tumbuh."
Darren selalu kehabisan stok kesabaran saat bersama Laura. Wanita paling bodoh yang sialnya berhasil mengurung hatinya.
"Laura rasanya aku ingin meruqiyahmu agar kau sedikit pintar, jangan bodoh-bodoh banget."