
Laura makan dalam diam, sesekali ponselnya berkedip-kedip, karna Laura memasang mode senyap di ponselnya. Meski demikian Darren mengetahui jika berbagai panggilan dan pesan masik ke punsel gadis itu.
Tak ingin terlalu terlibat terlalu jauh dengan gadis nyaris sempurna fisiknya itu Darren lebih memilih memfokuskan matanya pada makanan yang ada di hadapannya.
Selesai makan serta membatu Darren, Laura membaca beberapa pesan yang masuk ke ponselnya, Daniel, pria itu yang paling banyak mengiriminya pesan, ada juga pesan dari Viona dan Cindy yang berulang kali meminta maaf.
Daniel membujuk untuk mengajaknya bertemu, sungguh ini iman Laura sangatlah tipis jika di hadapkan dengan mantan kekasih yang terpaksa ia putuskan itu.
Lebih dari setahun Laura dan Daniel menjalin hubungan pria itu sangat perhatian dan penyayang sehingga Laura sedikit kesulitan menghilangkan rasa yang ia miliki.
Entah apa yang terjadi di dalam tapi yang pasti Kenan meminta pulang dan tak ingin di rawat di rumah meskipun dokter menyarankan untuk di rawat.
"Mom, Dad maaf sepertinya Laura tak bisa menginap." Laura memandang tak enak pada kedua orang tuanya, tapi mau bagai manapun ia memiliki seorang suami, memutuskan menginap seorang diri bukanlah hal yang tepat.
Kenan dan Fana memahami keadaan putrinya sekalipun mereka sangat ingin jika putrinya menginap di rumah. "Tidak papa, Sayang kalian bisa menginap lain kali." ujar Fana, sedangkan Kenan tak bersuara ia merasa sangat lemah.
"Antar aku ke rumah sakit untuk menjalani terapi, aku memiliki jadwal sore ini. Jika kau ingin menginap di sini besok saja ya." Darren mengatakan itu saat Laura sudah memasuki mobilnya.
Tahapan demi tahapan terapi di lalui Darren dengan penuh semangat, ajaib baru beberapa kali Darren melakukan terapi dengan dokter tua akhli syaraf bernama Luis itu membuahkan hasil. Darren sudah bisa berdiri meski masih berpegangan. Harapan Darren untuk sembuh semakin tinggi.
Hingga malam menjelang Laura masih mengendarai mobil bertujuan pulang, sesekali gadis itu menguap. Kelelahannya tak dapat Laura sembunyikan.
"Astagha aku lapar lagi." Laura membelokan mobilnya ke salah satu mall yang harusnya ia lewati.
Laura ingin mengisi perutnya lebih dulu sebelum memasuki kandang derita bertopeng mansion mewah.
Laura mendorong Darren di kursi rodanya, sebelum makan gadis itu berniat berbelanja, membeli beberapa makanan ringan untuk stoknya, barangkali Darren akan pulang terlambat, sehingga ia tak berani makan malam jika tak ada Darren di rumahnya.
"Ini juga, ini, ini." Laura kalap memasukan berbagai macam cemilan hingga makanan siap santap.
"Kenapa banyak sekali?" Darren bertanya polos, hanya ada banyak makan yang ada di keranjang Laura, meski demikian Laura memilih untuk lebih mengutamakan mendorong kursi roda Darren.
Bagi Laura, cukup kemarin-kemarin saja Laura memiliki banyak musuh mulai saat ini ia harus berhati-hati menggunakan lidahnya jangan sampai melukai orang lain, Hihihi jika ia bisa. Tapi sepertinya akan sulit ia adalah orang yang sangat ekspresif.
"Di rumahku banyak makan sehat tak perlu kau banyak berbelanja makanan sebanyak ini." ucap Darren kembali, ia masih memperhatikan Laura yang memasukan sosis siap santap di kerandangnya.
"Kau berbicara srperti itu karna kau takut aku meminta uangmu? Tenang saja aku memiliki uang sendiri untuk membayar ini." Laura tak bisa berjauhan dari sifatnya yang gemar berperasangka dan menebak-nebak sekitar.
"Bukan seperti itu Ra, kau juga sudah menikah jangan samakan saat kau masih gadis, aku akan bilang pada Daddy untuk berhenti memberikanmu uang. Kau istriku kau tanggung jawabku." Tegas Darren.
"Katakan saja, Daddy tidak akan melakukan apapun padaku, lagi pula yang ku gunakan uangku sendiri, aku mengelola satu Caffe milik Mommy." Laura meminta pelayan di sana untuk membawa dan memasukan belanjaannya ke mobil mereka setelah membayar.
"Kita makan dulu."
.
Sampai di kediaman mereka sekitar pukul sembilan malam.
Ritual pertama Laura harus membantu Darren membersihkan diri, dan setelahnya baru Lauralah yang membersihkan diri.
Pelayan rumah Darren sudah memasukan dan merapikan semua makanan milik Laura ke kamar Darren.
"Ra, keningmu terluka? Ini kena apa?" Darren menunjuk jejak luka di dahi Laura, menggeser kursi rodanya mendekat ke arah Laura yang tengah memanut diri di depan cermin meja rias.
"Kena kloset duduk." ujarnya sarkas, seandainya saja Darren peka ia akan menyadari ini ulahnya jika ia tak lupa.
Apa-apaan Laura? Berguraunya tak lucu dahinya terluka karna kloset duduk, bukan terhantuk pintu. Darren belum menyadari, tapi setelahnya.
"Ra, apa kau terluka karna aku?"