
"Kau luar biasa Ra, kau membuatku mabuk. Terimakasih." Darren menseka keringat yang mengembun di dahi wanitanya. Juga mengambil beberapa helai tissue yang ia pergunakan untuk membersihkan miliknya juga milik istrinya dari sisa-sisa cairan percintaan mereka.
Laura dengan segera merampas tissue yang Darren pergunakan untuk mengelap cairan mereka. Mata Laura terbelak dan membola dengan sempurna kala dirinya tidak menemukan sesuatu yang ia cari.
Laura bahkan menggeser tubuhnya untuk memastikan sesuatu di atas seprai tempatnya berbaring tadi.
"Ada apa Sayang?" Darren mengernyit hingga dahinya membentuk segaris kerutan lurus.
"Darren kau yakin kita sudah benar-benar bercinta? Kita tak salah tempatkan?"
"Apa maksudmu? Kita sudah melakukannya, kita tadi benar-benar sudah bercinta bahkan aku mengeluarkan benihku di dalam rahimmu."
"Lalu di mana darah per awanku Darren? Aku bersumpah ini kali pertama aku melakukan hal ini?" Laura terlihat panik dengan seraut wajah takut.
"Tak mungkin perawanku raib begitu saja Darren. Kau benar-benar pria pertama sungguh demi nama Tuhan aku tidak sedang bergurau." Laura masih terlihat bingung dengan kondisinya yang tidak mengeluarkan darah kegadisannya.
Darren mengatupkan mulut dengan bibir yang sengaja ia lipat serta di apit oleh giginya, Darren tengah berpikir untuk memberikan alasan yang sesuai. Tidak mungkinkan Darren mengakui jika dirinya sudah mengambil per awan Laura lebih dulu.
"Ra, tenang."
Darren turut bangun dan memegangi bahu istrinya.
"Bagai mana bisa aku tenang sedangkan kesucianku hilang begitu saja Darren."
Darren bergunam dalam hati jika kesucian instrinya tidak hilang, melainkan Darren sudah mengambilnya lebih dulu dengan cara yang lumayan konyol.
"Kau per awan sayang, aku dapat merasakannya."
"Jangan berkata omong kosong Darren, apa kau bukan seorang perjaka saat bersamaku?"
"Demi nama apapun kau wanita pertama untukku Ra."
"Mengenai darah per awan aku sama sekali tak mempermasahkannya. Setiap wanita memiliki selaput dara yang ketebalannya berbeda, mungkin kau memiliki selaput dara yang elastis yang tidak bisa ku robek, mungkin juga aku pandai merang sang sehingga pendarahan yang seharusnya terjadi terkondisikan. Bisa jadi kau juga kehilangan selaput dara saat kau terjatuh, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Ada pula beberapa wanita yang tidak memiliki selaput dara dan ini ku ketahui dari berbagai sumber jadi tidak usah mencemaskan apapun." Darren menjelaskan dengan amat rinci ia juga menerangkan sampai Laura mengangguk mengerti.
Laura bernafas dengan lega kala Darren memberikan pendapatnya mengenai selaput Dara. Darren terlihat biasa saja tidak mempersalahkannya. Laura sempat berpikir jika Darren akan menuduhnya macam-macam akan hal itu dan akan memulangkannya ke rumah Daddynya, tapi beruntung Darren cerdas sehingga Laura tidak harus di maki-maki oleh suaminya.
"Dari pada kita berdebat lebih baik kau menyenangkanku lagi." Darren sudah membawa tubuh Laura berada di atas tubuhnya dan mendudukan wanita itu tepat di perut bagian bawahnya.
"Darren!"
"Jangan menolak ini hadiahku."
Darren mengajarkan Laura untuk menari di atas tubuhnya, ini benar benar terasa nikmat, fantasinya terpuaskan oleh istrinya. Darren berteriak beberapa kali di kala ia tak dapat membendung kenikmatan yang di ciptakan istrinya.
Pergerakan Laura di atas tubuh suaminya semakin liar, Darren menikmati keindahan tubuh istrinya dari bawah. Saat Laura meraih pelepasannya dengan tubuh bergetar di atas tubuhnya, pria itu merasakan cengkraman sekaligus siraman pelan di atas miliknya. Darren membiarkan istrinya untuk menikmati sisa-sisa pelepasan wanita cantik itu.
Saat di rasa Laura mulai tenang Darren membalik posisi dan mulai menghujam tubuh istrinya dengan tempo sesuai ke inginannya.
"Laura bersiaplah aku akan datang. Aaaa,,,"
Belum sempat Darren melepaskas benihnya Laura sudah menjerit kesakitan.
"Darren sakit sekali. Kumohon hentikan!!!."
Meski sudah di ujung klimax Darren tetap menurut dan berhenti sesuai permintaan istrinya, setra melepaskan miliknya dari kehangatan. Namun saat Darren melirik ke arah bawah ia luar biasa terkejut, bahkan dirinya sampai mengigil ketika ia melihat miliknya juga milik istrinya terdapat cairan merah yang cukup banyak.
Pendarahan. Ya Laura mendalami pendarahan.
"Laura,,," Darren melirih dengan suara bergetar.
"Darren. Sakit sekali." Darren di buat semakin panik. Tak mungkin jika darah yang keluar adalah darah per awan.
Darren mematung dengan wajah pucat pasi, ia takut terjadi sesuatu hal buruk terhadap istrinya.
Tidak ini bukan darah per awan lalu darah apa?