Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Ko ngebut?


Saat tangan Darren terulur hendak memeluk Laura, wanita itu menepisnya dengan kasar.


"Peluk saja laptop dan dokumen-dokumenmu. Bukankah mereka lebih penting!"


Hahh ...


Darren terbengong di tempatnya sengan tatapan cengo, ia syok saat istri cantiknya menyuruh dirinya untuk memeluk laptop dan dokumennya. Mana bisa seperti itu. Ia ingin memeluk tubuh yang hangat juga seksi di hadapannya bukan pekerjaannya, sialan sepertinya Laura memang masih merajuk.


"Astagha,,, jangan katakan jika kau masih merajuk karna kita pulang cepat." Darren membalik paksa tubuh Laura.


Laura hanya diam tidak berniat menyauti pertanyaan Darren.


"Kau mogok makan juga karna hal itu?"


Laura masih bungkam, matanya melirik ke sembarang arah tanpa berminat menatap ke arah Darren.


"Astagha Laura bicaralah. Aku bukan cenayang yang bisa membaca isi otakmu." Darren semakin tak sabar Karna Laura hanya memilih mengatupkan mulutnya.


"Tidak hanya itu aku juga tengah marah terhadapmu karna kau lebih perduli pekerjaanmu di banding diriku." Laura membalik kembali tubuhnya untuk membelakangi Darren.


"Sayang aku minta maaf ya, tapi pertemuan tadi siang benar-benar tak bisa di tunda, dan aku hampir terlambat tadi, itu sebabnya aku tak mengantarmu sampai ke unit." Darren membujuk Laura dengan lembut, dan percayalah ini melelahkan. Darren belum pernah seperti ini.


"Sekarang makan ya, kau boleh kesal terhadapku tapi jangan mengabaikan kesehatanmu."


Laura masih marah dan tetap mengabaikan Darren.


Hingga seminggu lamanya Laura benar-benar mengabaikan Darren seakan pria itu tidak terlihat. Darren yang kelelahan membujuk Laura akhirnya membiarkan wanita itu berbuat semaunya ia juga lelah jika harus terus menerus meminta perhatian dari sang istri yang mengabaikannya.


Meski demikian Darren tetap memperhatikan Laura sehingga wanita itu tidak kekurangan apapun.


Pagi ini hari Laura tidak ingin ke kampus sehingga Darren pun akan cuti bekerja, ia ingin menemani seharian ini.


"Ra kita perlu bicara."


"Bicara saja." Laura tak mengalihkan tatapannya dari drama yang tengah ia tonton.


"Aku tau aku tak bisa memaksakan perasaanmu, tapi kita memiliki perjanjiankan. Setidaknya lihat aku! Jangan mengabaikanku lagi setidaknya sampai dua minggu kedepan, setelah itu aku akan membiarkan kau dengan pilihanmu." Suara Darren terdengar sendu membuat Laura tak tega.


"Hm, baiklah maafkan aku. Tapi jangan pernah menomor duakan aku." Akhirnya Laura luluh dengan sedikit drama yang di mainkan Darren. Tapi hati Darren kembali terasa di remat paksa oleh sesuatu yang kasar mata, hatinya sakit kala mengingat sebentar lagi Laura akan meninggalkannya.


"Nanti malam hari ulang tahunku. Ada pesta di rumah utama, kau maukan menemani aku ke sana."


Laura terperanjat, bagaimana bisa ia tak mengetahui ulang tahun suaminya sendiri.


"Darreeeen. Maaf aku tidak tau jika hari ini ulang tahunmu." Laura berucap penuh sesal.


"Tidak apa aku mengerti. Aku memang tak berharga untukmu."


Laura tak menyukai kalimat itu. "Perhatikan ucapanmu Darren jangan sampai aku merajuk kembali."


"Memang kalimatku yang mana yang menurutmu kurang tepat. Bukankan aku memang tak berharga untukku?"


"Lupakan."


"Darren."


"Ya." Darren naik ke atas ranjang dan menggeser laptop di hadapan Laura.


"Ada apa?"


"Selamat ulang tahun. Semoga Tuhan memberikan kesehatan serta rejeki yang berkah terhadapmu. Mudah-mudahan apa yang kau cita-citakan segera terpenuhi." Laura berujar tulus.


"Terimakasih, doa yang sama untukmu. Ini adalah ulang tahun terindah untukku. Di umur ku yang menginjak 24 tahun aku di temani wanita yang ku inginkan." Darren mengecup pergelangan tangan Laura.


"Kau ingin apa sebagai hadiah ulang tahunmu?"


"Tidak usah, lagi pula kau tak akan sanggup memberikannya." Darren tak ingin mendesak Laura jika wanita itu tak ingin memberikan apa yang ia inginkan.


"Katakan saja, aku akan memberikannya aku janji."


"Aku menginginkan dirimu seutuhnya, dengan suka rela aku ingin kau berserah diri kepadaku." Laura mematung ia tak menjawab apapun lagi, terus terang saja ia belum siap jika harus menyerahkan diri terhadap suaminya. Tapi bagaimana ia sudah terlanjur berjanji tadi.


Darren benar-benar menginginkan kembali tubuh Laura, sudah terhitung dua minggu dari ia mengambil haknya tapi Darren tidak puas. Sehingga ia memanfaatkan peluang yang ada.


"Lupakan jika kau tidak bersedia aku tau kau tidak akan mengabulkan permintaanku." Laura terlihat masih tengah berpikir. Darren sendiri tak ingin semakin di buat kecewa sehingga ia beranjak.


"Darren tunggu!"


"Ada apa?"


"Aku, aku bersedia menyerahkan diriku. Bagai manapun kau sudah menjadi suami yang baik untukku, rasanya tak adil saja jika aku harus terus mangkir dari kewajibanku."


"Tidak usah memaksakan diri Ra, aku bisa mengerti." Seulas senyum getir Darren terbitkan di wajahnya.


Ia tak ingin kembali memaksa Laura, seandainya saja Laura tau jika ia pernah dua kali mencuri haknya mungkin Laura akan membenci dirinya.


"Darren aku bersungguh-sungguh. Kau boleh memilikiku. Aku berserah diri kepadamu dengan sadar dan tanpa paksaan."


Darren hanya diam mematung hingga Laura membawa dengan menuntun tangan serta tubuhnya ke atas ranjang Darren tak menyadari.


"Da-darimana aku harus memulai.?"


"Kau bersungguh-sungguh?"


"Hem."


Laura mengangguk mantap.


Darren langsung tersenyum bersemangat dan menarik tengkuk Laura untuk membenamkan ciuman di bibir Laura.


Darren dengan kasar membuka pakaiannya sendiri dan melemparnya kesembarang tempat.


Begitu pula dengan pakaian Laura, Darren terlihat seperti sosok lain yang penuh dengan gai-rah.


"Darren aku takut." cicit Laura pelan.


"Aku akan perlahan, jika kau tak nyaman kau boleh berbicara aku akan menghentikannya." Tapi boong lanjut Darren.


"Darren." Laira meremas rambut Darren kala pria itu mencicipi tubuhnya menggunakan bibir dan indra perasanya.


"Rasanya mengagumkan. Ra, teriakan namaku aku suka mendengarnya."


"Darren."


Lagi-lagi Laura memekik saat Darren memberikan tanda hampir di sekujur tubuhnya.


"Darren!!!"


Kali ini terikan Laura menggelegar saat pria itu menenggelamkan wajahnya di antara belahan pangkal kakinya.


"Enak hmm?" Darren melirik sekilas ke arah Laura yang menggelinjang dengan kedua sikunya sebagai penyangga.


" Ya, Darren. Aku mentukainya."


Darren menikmati hidangan yang terhidang, meski Laura wanita pertama untuknya tapi Darren terlihat telah ahli menyentuh wanita.


"Darren."


Laura tampak kecewa saat Darren menghentikan kegiatannya di saat Laura sebentar lagi hendak meraih puncaknya.


"Darren."


"Ada apa?"


"Aku."


"Memohonlah.!!" wajah Laura sampai memerah di kala ia di minta Darren untuk memohon. Tapi Darren salah prediksi ia lupa seorang nona muda seperti Laura pantang untuk memohon terhadap orang lain.


Laura menarik selimut yang membuat Darren panik seketika takut istrinya berubah pikiran.


Tidak jangan sampai Laura mengurungkan niatnya. Darren segera mengungkung tubuh indah istrinya.


Darren mengelus celah inti istrinya yang terasa sudah basah oleh saliva dan pelu-mas alami dari dalam tubuh Laura.


"Bersiaplah. Aku akan masuk." Darren memposisikan tubuhnya.


"Darren." Laura mele nguh kala milik Darren di tempelkan di miliknya, tepat di pintu masuknya.


"Aaaa."


Tubuh Laura menggelinjang saat Darren mulai menggesekan miliknya.


Sesekali Darren melirik ke arah wajah Laura, ia menikmati ekspresi yang di tampilkan wanitanya.


"Darren. Hati-hati."


"Lauraaa ..." Darren menunduk kala miliknya berhasil memasuki tubuh sang istri, tidak sesulit saat pertama ia meper-awani.


"Hangat dan ini enak Laura." Darren meracau.


Laura hanya diam nemejamkan matanya, ia merasa bangga pada dirinya sendiri karna telah menyerahkan kesuciannya kepada prianya ia tak tau jika hal berharganya sudah di ambil lebih dulu oleh Darren dua minggu lalu.


"Kenapa kau diam? Apa sakit? apa kau tak nyaman?" Darren belum bergerak ia membiarkan miliknya di cengkram surganya.


"Aku tidak papa, tidak sakit sama sekali, hanya saja aku merasa sesak." Darren mengecupi seluruh wajah istrinya sampai ia mulai bergerak seirama dengan sangat ter atur.


Leng-uhan dan des-sahan saling bersahutan memenuhi seisi kamar, hingga 30 menit berlalu dengan gaya yang tidak berganti sama sekali.


Darren membiarkan Laura terbiasa menerima tubuhnya lebih dulu.


"Lauraaa." Darren mempercepat gerakannya dengan tidak beraturan lagi dengan keringat yang menetes di atas tubuh Laura.


"Darren ada apa? Ko ngebut?" Laura merasa heran kala Darren tak terkendali mengguncang tubuhnya.


"Lauraaa!!"


Laura benar-benar tak mengerti kala Darren berteriak dengan semua urat yang menonjol di leher Darren yang mendongak.


Sesaat kemudian Laura merasa dirinya dipenuhi cairan hangat. Seiring dengan tubuh Darren yang melemas di atasnya.