Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Hasutan Setan


"Kau kenapa?" tanya Darren pura-pura, melihat Laura yang tampak bergeming di tempatnya duduk.


"Di tanganku ada ingus putih, tapi aku tak yakin jika ini ingus." ujarnya lagi.


Darren meraih tissue baru dan memberikankannya pada Laura. "Mungkin itu ilermu."


"Darren jika tidur seumur-umur aku tak pernah ileran. Kau tak lihat aku sangat cantik seperti ini? Mana mungkin ileran." Laura masih berpikir cairan apa yang ia temukan di tangan kanannya.


"Kau tidur, makanya kau tak tahu."


"Ck, terserahlah. Ini masih pagi! Jangan merusak moodku, ayo lebih baik kau mandi." Laura sudah terbiasa mengurus Darren, meskipun dengan awal terpaksa tapi lama kelamaan dia sudah mulai terbiasa.


Bahkan Laura sendiri yang menyisir rambut pria itu agar tidak belah tengah lagi, membuat Darren jengkel karna kesan culunnya sedikit berkurang darinya ia masih ingin memberi pelajaran pada istrinya yang selalu merendahkan dirinya di masa lalu.


"Darren ini bukan kaca mata min atau kaca mata plus, lebih baik kau tak mengenakannya ya?"


"Tidak mau, aku nyaman menggunakan itu." bantah Darren. "Itu kacamata anti radiasi."


"Bilang saja, kau masih mau mempermalukan aku."


"Sebelumnya aku memang seperti ini Laura, aku hanya mencari orang-orang yang tulus terhadapku untuk ku jadikan teman bukan melihat dari apa yang ku miliki." Tentu saja Darren jujur berkata demikian.


"Nyatanya tak ada bukan? Kau malah menikahi gadis sepertiku."


"Gadis? Benarkah kau masih gadis? Wanita yang keluar masuk klub ini masih gadis?" tanya Darren tak percaya, meskipun tindakan tercelanya tadi pagi menunjukan jika Laura belum terlalu jauh bermain-main.


"Menurutmu?" Laura mengerucutkan bibirnya, alih-alih tersinggung Laura malah meminta pendapat.


"Aku tidak tau, kita belum mencobanya. Tapi aku tak yakin? Agak sedikit tak mungkin jika kau masih perawan."


"Mari mencobanya! Tapi dengan syarat." Laura berubah serius saat mengatakan ajakannya, membuat Darren kesulitan menelan salivanya.


"Hemm." Laura mengangguk. "Jika aku masih gadis kau harus menceraikanku, aku menukar keperawananku pada suamiku atas dosa-dosaku di masa lalu." tawaran yang sepadan pikir Laura.


"Otakmu kotor sekali Laura, perkataanmu tak jauh-jauh dari perceraian."


Darren mengangkat dagu Laura yang berada di depannya, ia tergoda untuk mencicipi bibir yang selalu berbicara di luar nalar itu.


"Ini hukumanmu!"


Darren menyeringai dan meraih kengkuk Laura, lalu kwmudian ia membenamkan bibirnya di permukaan bibir Laura, dengan lembut dan menuntut, memagut dan menyesap secara pelan dan bergantian, sampai Laura terengah di buatnya karna kesulitan bernafas, ciuman yang di berikan Darren tidak main-main, dan Laura akui jika Darren memang kissing yang handal.


"Darren kau ingin membunuhku ya?" Laura me mukul dada suaminya yang hanya terkekeh puas, menyaksikan bibir semerah chery masak itu membengkak karna ulahnya.


"Itu hukuman karna kau selalu berkata tentang perceraian. Sekali lagi kau berbicara seperti itu, aku akan menyumpal mulutmu dengan sesuatu yang lain, yang tentu saja menguntungkanku." Kalimat ambigu Darren terdengar seperti ancaman di telinga Laura.


"Dasar pria mesum."


Laura juga bersiap-siap karna akan ke kampus, tapi sebelum ia turun ia memutuskan untuk menghubungi Mommynya lebih dulu. Laura mencemaskan keadaan Daddynya yang Darren dapat melihat seberapa perhatian wanita itu terhadap orang-orang yang ia sayangi. Laura juga menanyakan keadaan Liora, gadis itu meminta pada Mommynya agar Liora harus di temani dan di beri perhatian lebih.


"Kau terlihat sangat menyayangi Liora?"


"Ya dia adikku."


Laura kembali bersiap, melanjutkan niat awalnya.


Daniel selalu saja mengiriminya banyak pesan membuat Laura mulai oleng untuk mengiyakan ajakan pria itu, tapi ia belum memiliki keberanian untuk mengiyakannya.


Setan dalam diri Laura mulai menghasut sepertinya tidak masalah jika ia bertemu sebentar. Ya itu lah hasutan setan yang berada dalam diri Laura.