
"Da-Da-Darren."
Laura tergagap kala Darren berada di atas tubuhnya dengan sebelah tangannya yang menyingkap dres yang di kenakan Laura, juga tangannya yang membelai pa-ha bagian dalam Laura membuat gadis itu melotot seketika.
"Ka-kau mau apaa?"
Darren menyunggingkan senyum menawan di atas istrinya, juga dengan kabut ga-irah yang tidak ia sembunyikan sama sekali.
"Darren kau terlihat seperti pria cabul yang ku lihat di film dewasa sepuluh tahun lalu." Ceplos Laura.
"Film dewasa apa maksudmu." Darren mendudukan tubuhnya di atas ranjang ia tertarik mendengarkan cerita Laura.
"Waktu aku kelas enam sd, aku pertama kali di belikan laptop oleh Daddyku. Aku tidak sengaja menekan sebuah link yang aku tau itu adalah konten dewasa, nanggungkan jika di kembalikan akhirnya aku nonton sayang di tengah adegan e-na e-na, harus turut menyertakan nomor Nik yang terletak di kartu tanda penduduk, karna itu kan Film dewasa, jadi meminta konfirmasi terlebih dahulu." Laura mende-sahkan nafas frustasi.
"Lalu kau sedih karna gagal mengetahui kelanjutannya?" Darren menaikan satu alisnya.
"Tidak, akukan banyak akal." Laura ikut terduduk dan menepuk dadanya dengan bangga.
"Lalu?" Darren semakin di buat penasaran.
"Aku mengendap memasuki kamar Daddy untuk, menyalin nomor kartu tanda penduduknya tak mungkin aku membawa ktpnya." Laura tertawa renyah.
"Kemudian aku kembali memasuki kamarku dan memasukan nomor yang kudapat dari kartu identitas Daddyku seketika gambarnya terbuka dan aku menontonnya." Laura bersemu merah kala mengatakan pengalamannya, tentu saja ia malu kala mengingat waktu itu sampai dirinya merasa panas dingin saat menonton film dewasa itu.
"Hah ..." Darren menjatuhkan rahangnya, inikah sisi gelap dari nona muda Moses.
"Ka-kau baik-baik saja saat melihat film dewasa itu?" tanua Darren kembali.
"Aku gelisah, juga merasa takut ketahuan ada hal lain juga yang kurasakan aku bahkan merasakan celana da-lamku sedikit lembab. Dan entahlah aku segera mematikan laptopku aku tak nyaman menontonnya." aku Laura jujur.
"Itu artinya kau normal, Laura. Kau ter-angsang jika seperti itu." Darren mengatakan semua yang di alami Laura adalah reaksi normal.
"Darren, tapi ini rahasia ya, jangan bilang siapapun!"
"Ayo tidur! Aku lelah setelah seharian pindahan." Laura membaringkan tubuhnya juga membawa tubuh Darren dalam dekapannya.
"Lelah apanya? Kau tak melakukan apapun?"
Tak ada sahutan sama sekali, ternyata Laura sudah terlelap lebih dulu.
"Astagha Laura, cepat sekali kau tertidur." Darren akhirnya kembali bangun ia mulai membuka laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Darren duduk termenung dengan pandangan jauh menerawang, mencoba mengingat masa kecilnya, barang kali ia mengingat wajah ibu kandungnya yang ia ketahui bernama Sarah. Namun ingatannya benar-benar di buat buntu. Ia tak mengingat bagaimana rupa ibunya mungkin saja tubuhnya terlalu kecil kala itu.
Tak terasa Darren menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk merenungi masa lalunya. Ia beranjak untuk menyiapkan Laura makan malam, mengingat hari sudah mulai gelap, sang surya sudah berganti sip dengan sang rembulan.
Darren membuat tumisan brokoli yang di campurkan dengan daging cincang. Ia juga membuat ayam goreng dengan cara bersamaan agar lebih menghemat waktu. Laura sangat menyukai olahan daging di bandingkan sayur, namun Darren tetap memperhatikan keseimbangan apapun yang di makan wanita itu.
Laura mengendoskan hidungnya beberapa kali saat mencium aroma yang mengggugah selera sampai ke kamarnya. Sepertinya Darren memang sengaja membiarkan pintu kamar dan dapurnya terbuka agar aroma menggoda perut itu mengundang Laura dari mimpinya.
Laura mengucek matanya dan mebiaskan cahaya yang mampir kebola matanya. Ia segera beranjak dan akan menghampiri suaminya.
Terlihat Darren yang tengah mengaduk masakannya. Pria itu terlihat sangat keren dengan kemeja tangan panjang yang ia gulung sampai sebatas sikunya, celemek berwarna pink yang ia gunakan juga terlihat sangan mempesona di mata Laura.
Laura mengendap berjalan di belakang Darren yang tengah fokus terhadap masakannya, dan tanpa aba-aba ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Darren, juga menempelkan sebelah pipinya di punggung suaminya itu.
Darren terkesiap, tapi ia segera menguasai diri juga menyentuh tangan lembut yang membelit perutnya.
"Kau terlihat sangat keren dengang gaya seperti ini. Ketampananmu berkali-kali lipat bertambah. Ini bahaya! Bisa-bisa aku jatuh hati dalam versimu yang seperti ini." ujar Laura, ia memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh Darren yang bercampur dengan aroma masakannya.
"Jika iya seperti itu, aku tidak keberatan melakukan ini setiap saat agar kau jatuh cinta terhadapku." Darren mematikan kompor juga melepas pelukan Laura.
"Ini bagian dari rencanaku dalam menjeratmu my Queen."