Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Cemburu


Darren dan Alexa kini sudah tiba di rumah mama Sarah, tapi yang membuat Laura terheran-heran saat mereka mengetuk pintu, tapi yang membukanya adalah seorang gadis cantik, tapi masih cantikan Laura sih itu menurut Laura sendiri.


Tapi yang membuat Laura dongkol adalah tatapan gadis itu kepada Darren suaminya. Tayapan memuja itu terus gadis itu arahkan ke arah Darren hingga membuat Laura berpindah tempat, dari yang tadinya Laura berada di samping Darren kini ia berpindah menjadi berdiri di dadapan Darren.


Laura seakan menghalangi jarak pandang gadis itu dari hadapan suaminya.


"Dia suamiku. Calon ayah dari bayi dalam perutku." Laura berujar ketus di hadapan gadis itu. Kecemburuan jelas terpatri di wajah cantiknya.


Laura jengkel, tadi di kampus sekarang rumah ibu mertuanya. Mengapa banyak sekali gadis-gadis uang menatap ke arah suaminya sekarang. Apa ini efek karna sebentar lagi Darren akan menjadi hot daddy.


"Laura, Darren." Mama Sarah mendekati putra dan menantunya kemudian mempersilahkan Darren dan Laura untuk masuk.


Sarah hendak memperkenalkan Darren dan Laura kepada suaminya yang kebetulan sudah pulang. Arga sendiri kebetulan tengah mengontrol salah satu usaha mereka di luar kota.


"Mas, kenalkan. Ini putra dan menantuku." Sarah membawa Darren dan Laura kehadapan suaminya yang tengah menikmati teh di sore hari di halaman belakang.


Saat suami Mama Sarah menengok. Pria paruh baya itu lansung berdiri, kemudian berjalan ke arah Laura.


"Laura, sayang kau disini?" Suami Mama Sarah memastikan sendiri jika gadis yang istrinya kenalkan adalah Laura.


"Om Zidan." Laura nenyapa kembali papa sambung dari suaminya.


"Oh ya Ampun, kau sangat cantik Laura." Saat Om Zidan hendak memeluk Laura Darren lebih dulu menarik tubuh Laura je dalam dekapannya.


"Maaf Pa, istriku tengah hamil. Aku sangat sensitif dengan pria lain, sekalipun mertusku sendiri." Ya Darren bahkan cemburu pada setiap pria yang mendekati istrinya sekalipun itu adalah Daddy Kenan.


"Tidak masalah, Papa mengerti." Papa sambung Darren hanya tersenyum tipis.


"Laura, bagaimana kabar Daddy dan mommymu? Maaf om belum sempat berkunjung." Zidan merupakan sahabat Daddy Kenan juga, sama seperti Eldy dan Azka.


"Tidak papa Om, kabar mommy dan Daddy baik om, bagaimana dengan om sendiri?"


"Seperti yang jau lihat. Om baik." Zidan menjelaskan jika ia mengenal baik ayah ibu Laura, Zidan juga tak menyangka dunia benar-benar selebar daun kelor yang mempertemukan mereka dalam ikatan keluarga.


"Astagha, ternyata aku dan Kenan berbesan." Zidan merasa tak menyangka akan berbesanan dengan sahabatnya sendiri.


"Itu lebih baik Om, yang paling rumit adalah ketika Om Eldy menjadi menantu Papa, Om Eldy memikahi adikku Liora." Laura turut menceritakan kisah Eldy dan adiknya.


Darren yang melihat Laura akrab denga suami Mamanya mulai tak nyaman, kemudian pamit membawa Laura untuk beristirahat.


Tapi saat mereka hendak menuju kamar yang di tunjukan oleh Mama Sarah. Darren dan Laura berpapasan dengan gadis yang bernama Agnes, gadis ith merupakan adik angkat Darren.


"Kak Darren, kak Laura. Cobain kue bikinanku ya." Agnes menyodorkan kue kering yang madih mengepulkan asapnya.


"Aku tidak lapar." Laura berujar ketus, sedangkan Darren mengambilsatu kue kemudian menciicipinya.


"Bagai mana rasanya kak?" Agnes bartanya antusias.


"Enak, manisnya pas seperti yang bikin." Darren berujar, tapi matanya melirik ke arah Laura. Benar saja istrinya itu terlihat sangat marah dengan tangan yang mengepal erat, Laura menghentakan kakinya sebelum pergi fix ini mah Laura memang cemburu.


Darren mengulum senyum kemudian menyusul lankah Laura menuju kamar. Darren meninggalkan Agnes yang masih tersipu karna kalimat sederhananya yang mengatakan manis kepada Gadis itu.


Saat Darren membuka pintu. Laura terlihat tengah duduk di tepi ranjang dengan melipat tangan di perutnya.


"Tidak tau malu! Memuji seorang gadis di hadapan istri dan anak." Laura sengaja menyindir Darren.


Darren malah semakin bersemangat menggoda Laura. " Memang kuenya enak Ra, manis ko. Coba saja tadi kamu mencicipinya pasti akan berkata hal yang sama."


"Itu kue, jelas manis tidak mungkin pedas. Lalu kau menyamakan kue itu dengan pembuatnya, memangnya kau pernah mencicipi gadis itu hingga bisa menyimpulkan manis?"


Astagha demenggemaskan itu Laura jika tengah cemburu. Darren baru tau. "Mencicipi? Satu-satunya wanita rang pernah ku cicipi adalah dirimu."


"Lalu mengapa kau mengatakan kue itu manis seperti yang bikin?"


"Dari pada aku mengatakan kue itu rasanya guruh seperti istriku, aku takut ada orang yang mendengar dan penasaran akan dirimu." Darren mendekat dan duduk di samping Laura.


"Memangnya aku gurih?" Laura berujar polos.


"Lebih dari itu, kau memabukan." Darren malah merebahkan Laura ke atas ranjang kemudian menyerang wajah Laura dengan banyak ciuman.


"Katakan jika kau cemburu Laura."


"Tidak aku tidak cemburu."


"Jangan berbohong." Tangan Darren kini melucuti pakaian Laura dengan trampil.


"Aku tau kau cemburu." Laura tidak menyangkal, dirinya sudah terhanyut oleh sentuhan Darren.


Tidak perlu Laura menjawab Darren sudah mengerti akan ego Laura yang tinggi.