
Darren mengenakan pakaiannya tanpa mengalihkan tatapannya dari Laura, yang tubuhnya masih terbalut selimut hingga keujung kepala, tubuh itu sedikit bergetar, meski tidak menimbulkan suara sama sekali. Darren yakin Laura tengah mengis.
Darren tidak melihar jika sebelah kening Laura berdarah, karna tadi saat Laura terbentur ia segera memalingkan wajahnya agar empatinya tidak meluluh melihat wajah itu.
Sumpah bagi seorang wanita menangis dalam diam di atas bantal adalah hal paling menyakitkan.
Terlalu lelah menangis Laura terlelap, di saat itulah Darren berani mendekat ke arah ranjang dan iku berpindah, ah semoga saja kemampuanya berpindah atau terjatuh tidak membangunkan Laura.
Bukk.
Darren kembali terjatuh, beruntung Laura tidak terbangun. "Kaki sialan." Maki Darren.
Tak sengaja Darren melihat tissue bekas yang terlewat Laura sembunyikan. Ia tak berniat mengambil atau melihat lebih teliti lebih baik ia tidur agar besok tidak kesiangan untuk pergi ke kampus.
.
Saat Darren terbangun Laura sudah rapih dengan mata sembab dan dan luka di kening yang ia derita.
Darren tak ingin repot-repon menyapa atau mengobrol pada Laura, terserah ia enggan untuk berdebat pagi ini seperti kemarin.
Dengan sigap Laura membatu Darren untuk membersihkan diri serta bersiap ke kampus, Darren juga tak ingin banyak drama atau mrnolak bantuan Laura, lagi pula ini kewajiban istrinya melayani dan berbakti padanya, dari pada ia terlambat lebih baik ia menerima bantuan Laura.
Darren terheran-heran saat melihat handsaplas di kening Laura yang Darren perhatikan Laura mencoba menutupinya dengan rambutnya. Saat Darren hendak menyingkap rambut istrinya Laura segera menjauh.
Persis seperti kerbau dan kambing asing keduanya tidak berbicara sama sekali. Mereka terlihat canggung karna perdebatan semalam.
Setelah selesai bersiap Laura mendorong Kursi roda Darren ke arah meja makan, ia tak berniat bergabung, apalagi jika mengingat makian ibu tiri dari Dari Darren semalam.
"Makanlah! Aku tunggu di mobil." Terdengar datar, dingin dan membekukan, Laura bergegas pergi sebelum Darren menjawab atau merespon ucapannya.
Darren masih membisu di tengah sarapannya, Laura sangat marah padanya, ia menyadari kata-kata semalam tetlalu menyakitkan untuk gadis itu, tapi ia juga manusia biasa yang memiliki batas dari setiap rasa yang ia miliki. Kalimatnya semalam adalah bentuk dari ungkapan kekecewaannya selama ini terhadap Laura.
Setelah makan Darren juga membawa bekal untuk Laura.
Cukup lama Darren berada di meja makan membahas mengenai pengobatannya bersama sang Ayah serta ibunya. Dan di saat Darren datang, Laura tengah memakan mie dalam cup yang masih mengeluarkan asap di dalamnya serta minuman teh dalam kotak.
Laura segera menyudahi makannya dan langsung sigap keluar dari dalam mobil untuk membuang cup yang masih terdapat mie di sana, jika ia melanjutkan makan bisa-bisa Darren marah karna makan di dalam mobil mahalnya.
Darren memaduki mobil di bantu oleh pelayan di sana. Setelah seat bealt Darren terpasang sempurna Laura menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman mewah itu, mengenai mie dan minuman serta roti tadi Laura membelinya menyuruh satpam rumah.
"Kenapa kau makan mie dalam mobilku." Ujar Darren ia masih menatap lurus ke depan, tanpa mau menatap wanita yang mengemudikan mobilnya.
"Aku ingin. Lagi pula aku tidak mengotori mobilmu." Merasa belum kenyang Laura mengambil roti dalam tasnya membuka dan menggunakan sebelah tangannya.
"Jangan makan jika tengah mengemudi, atau kau ingin kembali mencelaikaiku lagi." Darren melirik sinis Laura. Yang tanpa sengaja melihat tanda kepemilikan yang ia ciptakan di leher jenjang itu. Darren kembali membuang muka, wajahnya tiba-tiba di rambati rona merah mengingat hal kemarin.
Dengan sekali hap, Laura memasukan roti yang cukup besar dalam mulutnya hingga ia kesulitan untuk mengunyah.
Tak habis pikir Darren saat gadis sesempurna Laura makan dengan sangat buruk.
Laura enggan mengeluarkan suara jika tidak penting-penting sekali, ia menekankan dalam dirinya jika ia harus berbuat seperlunya saja.
Jika ia terus berbicara bukan tidak mungkin Laura akan kembali membentak Darren. Dan pria itu akan tersinggung bukan tidak mungkin jika Darren marah dan menyakitinya lagi.
Laura juga mengoleskan pondation untuk menutupi beberapa ruam di lehernya, cuaca hari ini sangat cerah, ia tak ingin membuat dirinya tak nyaman dengan memakai syal di lehernya. Darren hanya menatap apa yang di lakukan Laura oleh ekor matanya.
Tiba di kampus Laura di sambut oleh Lion adik laki-lakinya. "Lau. Keningmu kenapa?" Lion tampak hawatir, ia sangat peka akan keadaan kedua kakaknya.
"Alergi udang kemarin belum hilang." ujar Laura.
"Benarkah?" Lion terlihat tidak percaya, ia meraba dan sedikit menekan kening hansaplas itu hingga Laura mengaduh kesakitan.
"Kau menekannya terlalu kuat Lion." Laura memberenggut manja. Beruntung luka itu tidak kembali berdarah.
"Kau yakin tidak papa? Apa kita perlu ke dokter." Lion terlihat cemas.
"Tidak perlu, cukup tiup dan beri aku satu kecupan maka aku akan sembuh." Laura memang seperti itu terhadap Lion dan Daddynya manja.
Lion menuruti apa yang Laura mau tidak hanya satu kecupan, Lion menghujani Laura dengan banyak kecupa.
Laura bahkan lupa jika di dalam mobilnya masih terdapat Darren.
"Lion kau bawa uang cash tidak? Aku malas jika harus ke atm." Lion segera mengangguk dan memberikan banyak uang untuk kakaknya, ia tak ingin terlalu menekan Laura dengan terlalu banyak bertanya apa suaminya tak memberikannya uang?
Darren mulai marah ia merasa di permalukan mengapa Laura harus meminta uang pada Lion adik iparnya lalu ia di anggap apa sebagai suami.
Lion pergi setelah temannya memanggil.
"Laura." Darren berkata tagas. Ya Tuhan Laura melupakan si culun itu.
Darren menatap tajam di balik kaca mata tebalnya.
"Beraninya kau mempermalukan aku." Laura bertanya apa lagi yang ia lakukan sampai ia selalu terlihat salah oleh si lumpuh ini.
"Tidak."
"Kau pikir caramu meminta uang pada Lion tidak mempermalukan aku Hah ..." Darren meninggikan suaranya sampai beberapa orang mendekat ke arah mereka termasuk Laura dan Cindy.
"Lalu aku harus meminta uang pada siapa? Padamu? Jika ibumu tau aku meminta uang padamu bisa bisa aku akan di jadikannya hidangan buaya, bahkan aku enggan untuk makan di rumahmu apa lagi meminta harta kalian. Aku muak Darren terserah saja jika kau mau penjarakan aku sekalipun. Urus dirimu sendiri sebelum aku menjadi iblis kembali." Laura pergi dari sana dengan amarah yang masih mencokolnya.
Tapi ia teringat akan Mommy dan Daddynya lalu bagai mana jika kedua orang tuanya mendapatkan imbas dari perbuatannya. Meskipun Laura sudah melangkah vukup jauh, ia kembali untuk menghampiri Darren, ia juga tak tega jika Darren di tinggalkan begitu saja sendirian di parkiran.
Saat Laura kembali ia terkejut saat Darren terduduk di tanah dengan beberapa teman kampus mereka juga Daniel yang turut merekam tindakan tidak menyenangkan pada Darren. Mereka bahkan menyiramkan air serta sampah di tubuhnya. Darren yang kaya raya tak membuat mereka takut karna selama ini yang Darren lakukan hanya diam.
"Anjink kalian." Bak orang kesurupan Laura memukuli teman-temannya yang berjumlah empat orang, dua di antaranya termasuk Cindy dan Viona temannya. Sisa teman-temannya hanya menonton seakan melihat prrtunjukan menyenangkan.
"Lancang sekali kalian menyakitinya." Laura menendang perut Cindy sampai terjungkal.
"Lau, kau juga membentaknya barusan kami hanya membelamu." Viona mencoba .meredakan amarah Laura.
"Tidak ada yang boleh menyakitinya selain aku." Laura terlihat beringas, terdapat beberapa luka cakaran di lengannya karna teman kampusnya mencoba melawan. Meski ke empatnya kalah telah oleh gadis yang di rundung amarah itu.
"Ini peringatan pertama sekaligus terakhir. Jika ada yang berani mengusiknya habis kau!" Laura terluka di bagian hidung juga.
Lion menahan pergerakan Kakaknya dengan cara memeluknya. "Cukup Lau!" Kau juga terluka.
"Daniel lenyapkan apapun yang kau rekam tadi! Jika ada yang tersebar kau adalah orang pertama yang ku cari." Laura mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah mantan kekasihnya.
"Lion, Bantu aku memasukan Darren dalam mobil."
"Kau mau kemana?"
"Pulang."
"Lihat saja kalian akan membayar mahal untuk ini." Laura menudung semua yang terlibat perundungan pada Darren saat itu. Mengingat ia tak di maafkan karna tondakannya merundung Darren, Laura juga tidak akan memaafkan kejadian ini.
Darren masih mematung di tempat duduknya, benarkan yang membelanya tadi Laura. Tokoh utama yang selalu merundungnya dulu.