Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Sumpah Darren


Beberapa bulan sudah berlalu.


Mama Dhira tak kuat saat Darren tidak lagi mengunjungi rumah mereka. Darren bahkan sudah bertemu dengan ibu kandungnya. Mama Dhira semakin merasa dirinya sangat buruk sehingga Darren enggan menjenguknya. Sejak kejadian beberapa bulan lalu Darren benar-benar tidak menemuinya dan suaminya. Tepat seperti yang di katakan Regantara jika Darren tidak akan mengalah hanya karna mencintai Laura, gadis itu sudah menjadi pusat hidup putranya.


Untuk pertama kalinya Darren menelpon Mama Nadhira, meminta sebait do'a dari Mamanya. "Ma, istriku mau melahirkan aku harap mama mau mendo'akan keselamatan cucu serta menantu Mama." Suara Darren tercekat. Sungguh ia ingin Mama Dhira hadir juga di rumah sakit menyambut kelahiran calon putranya. Ya Darren sudah melakukan USG beberapa kali, dan dari menurut hasil USG bayi Darren dan Laura berjenis kelamin laki-laki tepat sesuai harapannya selama ini.


"Maafkan Darren belum bisa membanggakan Mama."


"Darren."


Darren langsung mematikan teleponnya ia harus menemani istrinya melalui proses demi proses untuk menyambut kelahiran buah cinta mereka.


Laura tetap ingin merasakan bagaimana rasanya melahirkan normal. Namun keadaan bayi mereka yang sungsang mengharuskan Laura menjalani oprasi cesar.


Semua keluarga sudah menunggu di riang tunggu untuk menyambut calon keluarga baru di tengah-tengah mereka. Daddy Kenan terlihat sangat antusias, ia tak sabar ingin segera menggendong cucunya.


Darren menemani Laura di ruang oprasi, menguatkan istrinya agar tetap berjuang menghadapi apapun yang terjadi demi calon bayi mereka.


Saat dokter menyunyikan sebuah cairan ke punggungnya, beberapa menit kemudian Laura tak merasakan apapun dari tubuh bagian bawahnya di mulai dari dada hingga ke ujung kakinya. Laura merasa semuanya seakan kebas dan sulit untuk di gerakan.


Matanya masih terbuka juga kesadarannya yang masih dapat Laura kendalikan. Laura bahkan mengingat di menit keberapa lampu oprasi di nyalakan.


Tiga dokter kini mulai merongrong tubuh Laura. Darren meloloskan air matanya saat ketajaman pisau oprasi mulai tertoreh di permukaan kulit perut Laura.


"Sayang kamu pasti bisa melahirkan anak kita dengan selamat. Berjanjilah kau akan baik-baik saja." Darren menyatukan kening, tidak hanya kalimat-kalimat penyemangat saja yang Darren ucapkan. Darren juga berulang kali mengucapkan kata Cinta terhadap istrinya.


Laura benar-benar mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melahirkan sosok baru yang sangat di idamkan oleh suaminya. Seandainyapun Laura harus tiada karna melahirkan anak dari pria yang sudah menikahinya tiga tahun lalu, sungguh Laura rela. Ia sudah mencintai Darren dengan amat sangat.


"Darren aku mencintaimu." Laura berbisik di antara perjuangannya yang bertaruh nyawa di meja oprasi.


"Aku lebih mencintaimu." Darren mengecup kening istrinya beberapa kali.


Laura merasakan sekujur tubuhnya terasa kesemutan. Tapi ia masih merasakan gengaman tangan Darren yang bertautan dengan jemarinya. Secara perlahan kesadaran Laura di renggut paksa oleh sesuatu yang Laura sendiri tidak mengerti. Sayup-sayup Laura mendengar Darren berulang kali memanggil namanya, namun matanya tak lagi bisa untuk bertahan. Laura memejamkan matanya.


"Laura, Sayang."


"Sayang."


Bahkan saat tangis bayi memecah ruang oprasi, Darren masih mrncoba menarik istrinya agar tetap sadar.


Laura mengalami pendarahan pasca oprasi, sehingga dirinya tidak sadarkan diri.


Hal ini membuat Darren mengamuk saat Laura di nyatakan koma oleh pihak medis. Keselamatan Laura benar-benar di pertaruhkan.


"Tidak! Kalian harus mengupayakan yang terbaik untuk istriku."


Darren bahkan belum melihat putranya yang sudah lahir kedunia. Ia masih khawatir akan keadaan Laura yang masih belum sadarkan diri meski 6 jam pertama sudah di lewati.


Darren belum merasa bahagoa meskipun putranya terlahir sehat dan sempurna. Dunianya sedang tidak baik-baik saja.


Saat Darren masih meraung di atas lantai menangisi Laura yang belum sadarkan diri, Papa Rega mendekati putranya dan memeluk tubuh Darren yang terlihat rapuh.


"Darren semua akan baik-baik saja. Laura hanya lelah. Istrimu hanya tidur sebentar, berdo'a dan kumandangkan nama istrimu sebanyak mungkin. Papa selalu mendoakan kebahagiaanmu Nak." Rega menyalirkan kekuatan kepada putra tunggalnya.


Darren layaknya seorang anak kecil yang tengah mengadu kepada ayahnya.


"Iya Pa, menantu papa sudah berjanji akan menemani Darren hingga menua nanti. Dia pernah bilang ingin mempunyai dua anak dariku Pa, aku berubah pikiran aku tak ingin Laura melahirkan lagi Pa. Darren takut Pa, Darren takut jika Laura meninggalkan Darren." Darren menatap wajah kuyu papanya,


Tak ia ingat lagi tentang pengusiran sang ayah di hari itu. Dengan adanya sang ayah disana itu cukup membuktikan jika Papanya masih peduli terhadapnya.


Kedua orang tua Laura tidak meragukan lagi kasih sayang Darren terhadap menantunya.


Darren berlari memasuki ruangan Laura yang sudah di pindahkan ke ruang perawatan.


"Laura! Dengar ini!" Darren berujar nyaring di saksikan kedua orang tuanya, mertua serta papa dan mama sambungnya yang baru datang.


"Kalian harus menjadi saksi atas sumpahku." Darren menunjuk ke enam orang yang ada di sana. (Papa Rega, Mama Dhira, Mama Sarah, Papa Zidan, Daddy Kenan juga Mom Fana).


"Kau ku larang untuk meninggalkan aku lebih dulu. Jika itu terjadi maka dengarkan sumpahku! aku bersumpah tidak akan menikahi wanita manapun setelah dirimu. Apapun alasannya kau akan ku jadikan wanitaku satu-satunya. Ku mohon Laura jangan membiarkan aku kesepian. Bangunlah." Darren menggenggam tangan Laura yang terasa dingin.


Darren tak malu saat menangis di hadapan semua orang. Laura kelemahannya. Dan sumpah yang ia ucapkan tidak main-main.