Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Bayi itu milik Darren


"Darren, ini sakit sekali aku tidak berbohong." Laura meringkuk dengan masih memegangi perut bagian bawahnya.


Darren di buat heran mengapa tiba-tiba ada darah? Dan lumayan banyak.


Meski takut dan panik Darren berusaha mengontrol dirinya, ia segera membersihkan miliknya menggunakan tissue juga memakai kembali pakaiannya. Darren juga memakaikan Laura pakaian ala kadarnya.


"Sayang maaf!" Darren mengambil kunci mobilnya serta ponselnya, Darren menggendong Laura untuk ia bawa kerumah sakit terdekat. Sumpah demi apapun detak jantung Darren benar-benar tidak terkendali ia sangat takut sesuatu hal terjadi terhadap istrinya.


Darren memasukan istrinya kedalam mobil dan mengendarai mobil itu seperti orang kesetan, bisa jadi Darren sedang di tempeli setan pembalap. Satu persatu kendaraan Darren salip, sedari tadi sebelah tangan pria itu memegang perut bagian bawah milik istrinya.


"Ra, apa masih sakit?"


"Masih."


"Sabar sebentar kita sampai." tidak membutuhkan waktu lama Darren sudah tiba di rumah sakit. Dengan sangat keren Darren membiarkan mobilnya begitu saja tanpa ia parkirkan lebih dulu, Darren sangat panik dengan ke adaan istrinya.


"Doktet, suster tolong istri saya."


Laura di bawa ke unit gawat darurat untuk mendapatkan pemeriksaan.


Selama Laura di tangani Darren menghubungi orangtua serta mertuanya untuk datang ke rumah sakit.


Sial apa yang dokter lakukan di dalam sana? Mengapa lama sekali? Bergibahkah?


Darren tak tenang dengan gelisah ia mondar-mandir seperti setrikaan.


Sial ... Lagi-lagi Darren mengumpat kala orangtua serta mertuanya tiba secara bersamaan di banding dengan dokter yang memeriksa istrinya.


"Ada apa? Apa yang terjadi terhadap putriku?" tergambar jelas raut kepanikan di raut wajah Daddy Kenan.


"Laura pebdarahan Dad." Darren melemas ia siap di salahkan jika seandainya Kenan hendak menyalahkannya.


"Pendarahan? Bagaimana bisa.?" kali ini ibu mertua Darren yang terlihat semakin panik.


"Kami, kami melakukan hubungan. Tapi sungguh aku berhati-hati." Darren menunduk menyesal juga malu menyergap dirinya.


"Jika kau hati-hati tidak mungkin menantuku pendarahan." Kali ini Papa Rega sudah menghardik sang putra. "Kau harusnya hati-hati saat memakai istrimu dia orang Darren bukan kuda yang bisa kau tunggangi seinginmu." sungguh Regantara merasa malu oleh ulah putranya, bahkan Darren terang-terangan mengakui istrinya mengalami pendarahan kala tengah melakukan hubungan.


Mama Nadhira hanya dian menyimak, ia sedikit tak percaya jika putra sambungnya menggauli istrinya sampai pendarahan.


Dokter wanita paruh baya keluar dengan sebuah alat di lehernya, di ikuti dengan seorang perawat yang mendorong sebuah troli.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Darren langsung mengajukan pertanyaan.


Dokter itu tersenyum sebelum berujar.


"Lain kali keluarkan di luar ya, juga lakukan secara perlahan jangan terlalu bersemangat kasihan istri dan calon bayi anda." Dokter itu tersenyum.


"Keluarkan di luar? Calon bayi? Katakan yang jelas dokter! aku tidak mengerti." Darren semakin mendekat juga dengan tatapan setajam belati.


"Istri anda sedah hamil muda. Usia kandungannya baru memasuki minggu kedua, sangat rentan oleh guncangan juga ****** *****, sper ma mengandung induksi alami sehingga dapat memicu kontraksi dan itu yang terjadi pada istri anda. Sedangkan darah yang keluar dari **** * nya merupakan pertahan dinding rahim. Sejauh ini istri ada dan calon bayi kalian dalam keadaan baik. Beruntung kau membawanya tepat waktu dan bisa di tangani dengan baik." terang sang dokter.


"Mak-maksud dokter istri saya hamil?"


"Ya, Tuan selamat istri anda memang tengah hamil mohon di jaga kandungannya." Darren memaku dengan pikirannya, nikmat mana lagi yang Darren dustakan.


Istrinya di ketahui hamil tepat di hari ulang tahunnya. Doanya benar-benar di kabulkan oleh Tuhan.


"Pa, aku akan menjadi seorang ayah Pa." Darren tak kuat menahan laju air matanya ia memeluk Papa, ia tak akan melepaskan Laura bayi ini akan menjadi pengikat untuk mereka.


Sungguh ini adalah hadiah terindah untuknya di ulangtahun yang ke 24.


"Berapa usia kandungannya Dok?" Kali ini mama Nadhira yang bertanya, seandainya usia kehamilan Lara lebih tua dari usia kembalinya Darren ke tanah air maka Nadhira sendiri yang akan membuat Laura pergi dari sisi putranya.


"Sekitar jalan dua minggu. Itu sebabnya kandungannya sangat rentan oleh guncangan."


Nadhira mengatup, Darren kembali ke rumah sudah lebih dari dua minggu.


Darren terlihat sangat bahagia dengan kabar itu.


"Mom, Dad, kalian akan memiliki cucu." Darren memeluk mertuanya bergantian.


Darren sangat bahagia ternyata yang ia lakukan malam itu benar-benar membuahkan hasil. Istrinya benar-bemar mengandung benihnya.


"Kami boleh melihat putri kami." Kenan mengabaikan kebahagiaan Darren yang ia khawatirkan adalah putrinya.


Kebahagiaan terlihat di raut keempat orang yang memasuki ruangan Laura, hanya Mama Nadhira yang masih terlihat meragu.


Laura terlihat bersedih juga dengan sisa-sisa jejak air mata di matanya.


Belum sampai mereka di ranjang Laura, mereka semua di buat terkejut oleh perkataan Laura apa lagi Darren. Pria muda itu nyaris limbung dan kehilangan kekuatan tubuhnya.


"Aku ingin berpisah darimu Darren."


Kaura menatap tajam suaminya.


"Ber-berpisah?"


"Tidak, itu tidak akan terjadi. Hentikan omong kosongmu Laura."


"Keluar Darren. Aku tak ingin melihatmuuu!"


"Nak, ada apa ini Mommy." Fana memelut putrinya.


"Suruh Darren keluar, atau aku yang akan keluar dari sini!" Laura mengancam dan hendak mencabut jarum infus tang terpasang di tangan kanannya.


"Oke, oke Ra aku akan keluar. Aku akan membiarkanmu selama sepuluh menit dan setelah ini kita harus bicara." Darren keluar juga mengajak orangtuanya untuk ikut bersamanya. Darren meninggalkan Laura hanya dengan Mommy dan Daddynya.


"Apa yang terjadi mengapa kau ingin berpisah dengan Darren tiba-tiba seperti ini." Kenan memeluk putrinya.


"Ini tidak tiba-tiba, aku juga sudah sering meminta ini darinya tapi Darren keras kepala, dia selalu ingin bersamaku Dad."


"Karna Darren mencintaimu Laura, kau bodoh atau bagai mana." Fana tak tahan dengan tingkah putrinya.


"Aku hamil mom."


"Justru karna kau hamil kau tak bisaberpisah dari Darren."


"Ini bukan anak Darren Mom." Laura meninggikan suaranya.


"Apa maksudmu janin itu bukan anak suamimu? Kau bermain gila dengan pria lain." Kenan melepas pelukannya dan sedikit mengguncang bahu putrinya.


"Aku bersumpah tidak ada pria yang mentuhku selain Darren Dad."


"Tapi apa maksudmu jika itu bukan bayi milik suamimu?"


"Karna kenyataannya memang seperti itu Dad. Kami baru melakukan hubungan itu tadi pagi. Aku juga tak tau mengapa aku bisa hamil dua minggu. Bahkan aku meminta dokter mengetes ulang dan hasilnya tetap sama aku hamil Dad."


"Aku tak bisa terus bersama Darren jika aku mengandung benih yang tidak ku ketahui siapa pemiliknya." Laura kini memeluk Mommynya.


Kenan mengangguk mengerti dan ia bergegas untuk menemui Darren. Kenan meminta istrinya untuk meyakinkan Laura bahwa semuanya akan baik-baik saja.


.


Di luar ruangan Rega juga tengah memaki putranya.


"Dasar bodoh, tidak bisakah kau bersabar sedikit untuk membujuk istrimu. Mengapa kau harus berbuat nekad Darren. Lihat semuanya jadi kacai. Papa yakin Laura pasti kebingungan benih siapa yang tumbuh di rahimnya." Rega memijat pelipisnya yang semakin berdenyut kala mengingat ucapan Darren yang mengambil haknya dengan cara licik.


Darren hanya diam dan menunduk, ia mengakui kesalahannya dan akan meminta maaf pada Laura dan menjelaskan semuanya.


"Apa kau memiliki kelainan menggauli wanita sedang tak sadarkan diriii!"


"Bujan seperti itu Pa, Darren tidak tahan waktu itu. Darren benar-benar berhasrat dan ingin memiliki Laura dengan cara apapun. Darren pria normal Pa, Darren butuh menyarulkannya, juga yang Darren tiduri istri Darren sendiri." Darren membela diri.


"Caramu salah Darren!!"


"Sudah Pa, jangan menyalahkan Darren terus. Mama yakin Darren juga terpaksa melakukan itu. Salah Laura yang menolak ajakan suaminya." Nadhira membela Darren, ia semakin tak menyukai Laura yang menurutnya banyak tingkah.


"Darren."


Kenan tiba di sana setelah mencuri dengar apa yang terjadi. Ya Kenan mendengar perdebatan besan dan menantunya.


Kenan juga menyadari jika ibu mertua Laura tak menginginkan putrinya.


"Darren. Laura hamil, dan menurutnya bayi itu bukan milikmu itu alasannya Laura minta berpisah darimu."


"Tidak Dad. Bayi itu milik Darren. Darren yang menaburnya. Darren pula pria pertama untuknya, sekalipun Laura memohon Darren tak akan melepaskan mereka."