Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Liora Melarikan diri


Laura mendorong Darren dari kamarnya menuju ke ruang utama, dimana tempat acara di lakukan di sana. Ada petugas dari kantor pencatatan sipil yang siap mencatatkan pernikahan Liora dan Eldy.


Liora nampak anggun dengan gaun pengantin berwarna putih tulang. Begitu juga dengan Eldy pria matang itu tidak terlihat sudah menginjak umur 48 tahun, perawakan tinggi dengan tubuh fropesionalnya sangat terlihat tegap dalam balutan jas mewah, layaknya pria berpengalaman Eldy mengatakan janji suci dengan fasih dan tanpa hambatan.


Kini Liora sudah resmi menjadi nyonya, istri dari seorang Eldy.


Di sepanjang acara Daniel tak lepas memandang raut wajah Laura yang terlihat memesona dengan balutan gaun coklat susu, nampak serasi dengan kulit putihnya.


Tidak banyak tamu yang hadir, hanya kerabat dekat Eldy dan juga keluarga Liora saja.


Teman-teman Liora maupun Laura pun tak ada yang menampakan batang hidungnya di sana. Ini termasuk pernikahan tertutup karna scandal yang mengawali hubungan antar keduanya. Meski begitu rekan kerja Kenan beberapa hadir di sana, menatap penuh kekaguman Laura yang dengan angkuh mengangkat dagunya disana memancarkan aura secerah cayaha.


Beberapa rekan bisnis Kenan bahkan berbisik satu sama lain karna mengajumi keindahan yang ada di diri Laura.


Bukan hanya di bekali wajah rupawan, Laura juga di berkahi dengan bentuk tubuh ideal impian setiap wanita.


Darren mendengus saat mengetahui pandangan beberapa pria muda ke arah istrinya, yang mana tatapan itu seakan menegaskan ketertarikan pada Laura.


Laura memang sangat cantik, kecantikannya tidak manusiawi bagi sebagian orang, tapi kekurangannya hanya satu otaknya tidak secerdas adik-adiknya, sehingga semasa ia sekolahpun nilainya hanya dapat memenuhi rata-rata saja tidak lebih dari itu. Bahkan Laura kerap kali mendapat pringkat terakhir.


Bukankah Tuhan sangat adil menganugrahkan otak yang pas-pasan di antara paras menawan Laura.


Acara berjalan lancar, hanya sekitar dua jam dan setelah itu, semua tamu membubarkan diri.


Hanya ada Kenan dan keluarganya, Eldy juga Daniel yang berada di rumah itu. Ya mereka akan menginap di rumah Kenan malam ini, atau beberapa malam selanjutnya.


Kenan mengajak kedua menantunya juga Daniel untuk bermain kartu sebentar, sedangkan Lion, pemuda itu tengah mengejar seorang gadis berumur delapan belas tahun, anak gadis dari asisten papanya Arven.


"Daniel ini sudah malam mengapa kau masih di sini?" Darren menatap sengit dengan pandangan mengintimidasi rivalnya, dari atas kursi roda.


"Yang menikah Papamu, harusnya kau tak berada disini."


"Jika saja kau tak merebut calon istriku, mungkin aku yang akan menik dengan Laura. Dasar tidak tau malu." Daniel merapatkan rahangnya, juga tangan yang semakin mengepal erat.


"Daniel, jangan membuat masalah dengan kakak ipar Papa." Eldy di buat pusing dengan setasusnya saat ini, bocah seumuran putranya menjadi kakak iparnya, dan Kenan teman sepermainan dan teman nongkrongnya menjadi meruanya. Sunggu Eldy tak habis fikri dan ini di luar nurul menurutnya.


"Jangan membelanya Pa, ini juga salah papa. Menjadikan Liora adik dari gadis yang kucintai menjadi babymu, bahkan putri dari teman baik Papa sendiri. Memangnya tak ada gadis lain yang menarik di mata Papa?" Daniel sungguh di buat naik darah oleh kelakuan Papanya.


"Ini di luar kehendak Papa Daniel."


Brakkk ...


Kenan menggebrak meja sampai kartu dan gelas minum di atas mega bergetar karna ulahnya.


"Maksudmu kau terpaksa menikahi putriku?"


"Tidak juga."


"Dasar tua bangka." dengkus Kenan kembali.


Tiba-tiba Fana datang dengan membuka pintu dan terlihat sangat panik.


"Ken, Liora melarikan diri!"


"Apa?"