Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Keringkan Rambutku


"Omegot ... Ternyata senjata laras panjang." tanpa sadar Laura memekik kencang.


"Apa juga kubilang, kau akan meralat dugaanmu tadi. Ini masih tidur apa lagi kalau sudah bangun besarnya berkali-kali lipat dari ini."


Laura memalingkan wajahnya yang mulai merona, oleh kalimat Darren yang ambigu.


"Dasar mesum!" Laura memukul kencang dada suaminya. Meskipun ia sangat penasaran ingin menyentuh otot kekar Darren, tapi harga dirinya sebagai ia jungjung tinggi sebagai seorang wanita.


"Kau mandi sendiri saja."


Laura pergi meninggalkan Darren di sebuah kursi khusus, sabun sampo dan perlengkapan mandi lainnya termasuk handuk sudah Laura siapkan.


"Panggil aku setelah selesai. Pergunakan tangamu dengan baik sebelum tuhan mencabut pungsinya. Mudah bagi tuhan untuk mencabut setiap hal yang ia kehendaki, sama seperti saat mencabut pungsi kakimu."


Laura tidak memperdulikan Darren yang sejak tadi memanggilnya.


Benar juga apa yang di katakan Laura, Darren merenungi sebenyar ucapan gadis itu.


Sembari menunggu Darren mandi Laura memakai produk kecantikan miliknya, ia harus tampil cantik meskipun suaminya culun jelek dan lumpuh. Keindahan adalah aset yang berharga menurutnya.


"Laura. Aku sudah selesai." panggil Daren. " Apa dia tidut? Atau sengaja mengerjaiku agar tetap di sini?"


"Laura."


"Laura."


Darren berteriak-teriak beberapa kali. Darren pikir Laura tak mendengarnya karna pintu kamar mandi tertutup padahal Laura menyisakan celah yang terbuka agar suara Darren dapat ia dengar.


"Darren kau berisik sekali sih!"


"Ku pikir kau mati bunuh diri di kamarku."


"Banyak omong. Cepat bantu aku kekamar aku ingin tidur." Darren sudah melilitkan handuknya sebatas pinggang.


"Lain kali kau membuka pakaian di kamar saja di atas ranjang. Tadi aku kesulitan membuka celanamu, bisa-bisa kau terjatuh jika membuka di kamar mandi kembali." Darren tidak menyaut. Ia merangkul pundak Laura saat gadis jahat itu memindahkannya ke kursi roda.


Tetesan rambut yang masih basah, ikut menetes ke pundak Laura.


"Darren harusnya kau tidak usah keramas jika sudah malam seperti ini. Jika kau tidak mengeringkan rambutmu sebelum kau terlelap kau bisa terkena flu." Laura mengomentari rambut basah Darren.


"Tidak usah sok perduli terhadapku. Gadis iblis sepertimu tak cocok memerankan ibu peri." Darren mencibir tingkah Laura yang menurutnya sok peduli, padahal ia tau jika gadis itu sangat jahat dan tidak seperhatian itu. Justru rasanya memuakan saat mendengar perhatian dari gadis itu.


"aku tidak sedang memerankan ibu peri. Aku hanya tak ingin ibu sambung rucikamu menyalahkan aku karna kau terkena flu." Laura mendorong Darren ke dekat ranjang.


"Di mana pakaianku?"


"Mana ku tahu, di dalam lemari mungkin."


"Dasar istri durhaka! Tidak tagu diri. Harusnya sebagai istri yang baik kau menyiapkan pakaianku agar setelah aku mandi aku bisa memakainya." Darren yang pendiam mulutnya berubah tanpa rem, dengan level kepedasan mulutnya menduduki level dua belas. Lebih kejam dari Kenan sepertinya.


"Hey, aku bukan istri yang baik, jangan lupakan pula kita menikah karna apa? Seorang istri Menyiapkan pakaian untuk suaminya hanya jika mereka saling mencintai. Sedangkan kita apa? Kita hanya dua orang yang berbeda yang tanpa rencana sebelumnya terikat pernikahan karna ajang balas dendam." Laura kesal tapi ia tetap mengambilkan pakaian untuk Darren dan memakaikannya dengan terburu-buru. Bahkan karna marah Laura mengangkat tubuh Darren dari kursi roda ke ranjang tanpa kesulitan. Ternyata benar amarah bisa merubah orang jadi kuat.


Laura masih kesal ia sudah menjatuhkan dirinya di atas ranjang di samping Darren.


"Laura." Panggil Darren lagi.


"Apa lagi Darren? Aku lelah aku ingin istirahat." ucap Laura kesal ia bahkan berdecak.


Apa jangan-jangan Darren ingin menyiksanya, untuk tidur di lantai dingin.


"Keringkan rambutku!"