Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Peluk saja laptopmu


Darren menatap Laura yang tengah terlelap di atas ranjangnya.


"Aku salah karna mengabaikan pesonamu. nyatanya aku yang berniat membalaskan dendam dan menghukummu malah aku bertekuk lutut di hadapanmu, Laura. Aku mendapati diriku semakin menggilaimu." Darren membelai wajah Laura menggunakan punggung tangannya. Pria itu juga menyingkirkan anak rambut yang mengganggunya menikmati keindahan atas maha karya sang pencipta.


Darren kalah, ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada seorang wanita yang ia panggil dengan sebutan iblis betina. Sungguh wanita itu benar-benar pandai menguasai hati dan pikiran Darren.


.


Pagi-pagi sekali Darren dan Laura sudah bertolak dari bandung ke kota asalnya.


Sepanjang perjalanan bibir Laura mencebik. Bisa di katakan bibir Laura dapat di ikat menggunakan karet gelang saking panjangnya bibir Laura yang mengerucut. Bisa di bayangkan seperti apa kekesalan Laura yang tidak berhasil membujuk Darren untuk tetap tinggal di tempat itu. Laura belum puas berlibur.


Darren memang pria yang produktif ia tidak bisa membiarkan waktunya terbuang sia-sia di saat ada pundi-pundi rupiah yang menunggunga dengan manis juga nominal yang menjanjikan. Darren tak menyia-nyiakan kesempatan jika mengingat kesenangan Laura, Darren akan mengatur ulang jadwalnya dan akan menebus waktunya untuk bersama sang istri.


Sekarang mereka tengah di perjalanan dari bandara, bersama asisten Ben yang mengemudikan mobil mereka.


"Ra, berhenti merajuk dan mengerucutkan bibirmu. Atau aku akan menghabisinya di sini." Ancaman Darren sama sekali tak mempengaruhi Laura, wanita itu masih membuang pandangan ke arah jendela.


"Jangan menguji kesabaranku Laura!" Darren menggeram kesal, namun Laura tak terpengaruh sama sekali, ia masih pada posisisnya, yang mana membuat Darren semakin geram.


"Ben. Jangan melihat ke belakang." secepat kilat Darren menarik Laura sehingga merapat ke arahnya, menyambar bibir wanita itu yang sejak tadi tak bisa di kondisikan.


Bukan hanya sekedar menempel, Darren sampai menekan tengkuk Laura untuk memperdalam ciumannya. Meski Laura memberontak beberapa kali tapi Dareen benar-benar tak perduli, ia masih meny-esap bibir itu.


Laura membuang muka dengan decakan keras, saat Darren melepaskan tautan di antara mereka.


Laura bahkan membanting pintu mobil saat mereka sampai di apartemennya.


"Jalan saja Ben, langsung ke kantor Papa sudah menunggu." Darren memerintakhan asisten dari Papanya.


Asiseten Ben hanya mengangguk dan menuruti titah tuan mudanya.


"Dasar laki-laki tak ada akhlak." umpat Laura.


Hingga seharianpun Darren tak mengabari Laura, padahal biasanya pria itu akan menanyainya sudah makan atau belum tapi kali ini Darren sama sekali tak menghubunginya apa lagi mengirimkannya pesan. Tanpa sadar Laura sudah mulai terbiasa dengan kehadiran pria itu.


Sore hari Laura sengaja memesan makan terlebih dulu tanpa menunggu Darren, sampai dua porsi Laura makan supaya ia tak makan lagi hingga malam.


Darren yang berpikir Laura sudah tak lagi mengambek terhadapnya, seperti biasa Darren membawa makanan untuk mereka makan bersama. Tak tahuka Darren? Jika seorang wanita jika sedang merajuk mereka bisa tahan lama, jangankan seharian seabadpun wanita mampu untuk mendiamkan pasangannya.


"Ra, ayo makan. Aku sudah membawa makanan kesukaanmu." Darren yang melihat Laura tengah berada di ruang tengah langsung mengajak Laura ke ruang makan maksudnya mumpung makanannya masih hangat mereka bisa makan bersama.


Tak ada jawaban. Laura masih fokus terhadap tontonannya.


"Ra ayo makan bersama." Panggil Darren lagi, kali ini lebih kencang khawatir Laura tak mendengar, akhirnya Darren menghampiri Laura dan kembasli mengajak wanitanya untuk makan bersama.


"Ayo, makan bersama."


"Aku tak lapar." Laura berujar dan pergi tanpa memerdulikan Darren lagi.


Darren akhirnya makan sendiri. Ia berpikir positive mungkin istrinya masih kenyang.


Darren sama sekali tak berpikir jika Laura masih merajuk terhadapnya.


Sampai saat hendak beristirahatpun kejanggalan masih terjadi. Darren memang kadang-kadang eror ia tak peka terhadap wanita, karna memang ini hal pertama untuknya sebelumnya Darren belum pernah menjalani hubungan yang lebih dari sekedar teman.


Laura tidur meringkuk membelakangi Darren, ia masih kesal terhadap Darren, apa lagi pria itu tak mengantarkannya sampai ke unit mereka di tambah Darren tak mengatakan maaf padanya saat setelah membuat Laura uring-uringan seharian.


Saat tangan Darren terulur hendak memeluk Laura, wanita itu menepisnya dengan kasar.


"Peluk saja laptop dan dokumen-dokumenmu. Bukankah mereka lebih penting!"