Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Dalam Batas Wajar


"Laura ayo suapi aku. Aku lapar!" Darren menunjuk ke arah dapurnya ia kini sudah lapar kembali.


Laura mengambil nasi serta lauk pauknya lengkap dengan sayur mayur juga.


"Laura pisahkan irisan cabai dari capcaynya." Darren memprotes saat ada irisan cabai dalam piringnya.


"Kau itu rewel sekali Darren persis seperti bayi yang baru tumbuh gigi." cibir Laura kesal. Darren seaakan mengerjainya habis-habisan.


"Bukan bawel Laura, aku memang alergi pedas."


"Ck. Alasan."


Laura menyuapkan makanan ke mulut Darren. Entahlah pekerjaan ini sangat melelahkan bagi Laura, menunggu Darren mengunyah saja sangat muak. Pria itu hanya menikmati makanannya tanpa dosa.


"Setelah makan, potong kuku-kuku ya?"


"Kau itu lumpuh kaki Darren. Bukan sekujur tubuhmu, apa kau tidak sekalian memintaku untuk mencebokimu?"


"Ide bagus."


"Hah."


Laura membuka mulutnya lebar-lebar, ia tak percaya jika Darren menyetujuinya.


Laura mendentingkan sendok makan ke piring di atas pangkuannya, dumpah demi apapun Darren sangat menyebalkan. Baru sehari menikah Darren dudah berubah menjadi pria paling berkuasa seperti layaknya seorang raja. Sedangkan Laura berperan menjadi budaknya.


Laura memberenggut menekuk wajahnya. Ingin rasanya Laura menjadikan Darren sebagai pakan buaya muara atau macan kumbang.


"Jangan berniat buruk terhadapku Laura! Ingat nasib hidupmu tergantung kemuran hatianku." Darren mengetahui jika istrinya kini sedang mengumpatnya diam-diam.


"Baiklah Tuan murah hati." Sinis Laura. "Jika kau memang murah hati, kau tak akan menjeratku dalam pernikahan paling konyol yang pernah ada." Gerutu Laura pelan.


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak."


"Awas saja kau jika berani macam-macam habis kau." Darren menatap laura dengan manik jelamnya.


"Berhenti menatapku seperti itu." Laura tak suka saat Darren menatapnya dingin.


"Kenapa? Ini mataku, aku berhak menatap apapun."


"Lalu aku harus menatapmu seperti apa? Tatapan hangat di penuhi rasa menuja? Jangan terlalu percaya diri nona Moses!"


"Lihat saja kau akan mengalami itu, cepat atau lambat kau akan terbuai dengan pesonaku. Dan di saat itu aku tak akan menoleh padamu." ucap Laura dalam hati.


"Siapa yang akan tahu sepuluh menit kemudian apa yang akan terjadi, itu rahasia Tuhan buktinya. Saat aku menggeser kursimu justru malah aku yang tertimpa sial."


Darren menyunggingkan senyum puas tiap kali melihat penyesalan di wajah Laura.


"Mommy dan Daddyku bahkan tidak menolongku sama sekali." lirih Laura.


"Awas jangan menangis! Jangan sampai makananku terasa asin karna air matamu."


"Cih, siapa juga yang akan menangis?" Laura menyangkal kenyataan jika ia hendak meneteskan air matanya.


Laura melanjutkan kegiatannya menyuapi suami kolokannya, "Sepertinya aku memang menikahi seorang bayi besar." Laura memijat kembali pelipisnya yang sering berdenyut tiba-tiba, sepertinya ia akan menderita fertigo setelah menikah dengan Darren.


"Ku lihat-lihat kau sering kali memijat kepalamu." Darren meraih minum yang di berikan Laura.


"Ia padahal sebelumnya aku tidak seperti ini. Setelah menikah denganmu saja kepalaku ringing berdenyut nyeri." Ujar Laura.


"Laura aku ingin buah."


"Ya Tuhan, kau itu makan sudah banyak Darren."


"Tapi aku ingin buah jeruk."


Meski dengan terpaksa Laura mengupaskan jeruk manis dan menyerahkannya pada piring di samping suaminya,


"Makan Darren." Laura melotot karna Darren hanya menatap buliran jeruk yang sudah siap makan.


"Pisahkan bijinya!" Darren membuang muka dan melipat tangan di atas dadanya dengan gaya angkuh, sebagai bentuk protesnya pada Laura.


Laura menarik nafas dang menghembuskannya secara perlahan, adakah trevel khusus untuk pembuangan orang menyebalkan seperti Darren. Laura ingin membuang pewaris keluarka Suhendi itu ke padang pasir, biar berteman dengan onta saja pria yang melunjak seperti Darren.


Dengan menahan dongkol di dadanya Laura memisahkan jeruk dari bijinya agar pria itu cepat kenyang dan lekas tidur siang. Bukannya setiap bayi akan tidur siang pikir Laura kesal.


Regantara dan Nadhira hanya tertawa cekikikan melihat wajah tertekan dari menantunya, sejak tadi mereka menguping dan mengintip pembicaraan putra dan menantu mereka.


Selama dalam batas wajar Rega membiarkan Darren berlaku apapun pada menantunya, untuk menguapkan kebencian dalam diri Darren itu.