
"Terimalasih karna tidak mengadu." Bisik Laura di telinga kanan Darren.
Darren sangat gugup setelah di bisikan ucapan terimakasih oleh istrinya. Entahlah ia memang pria baik atau tipis iman yang kerap kali terbawa perasaan saat ada wanita bertingkah manis padanya.
Sekuat mungkin Darren menyangkal tapi semburat itu tidak tahu diri masih saja tampil di pipinya
Darren memalingkan wajahnya yang merona, dengat semburat yang benar-benar terlihat baik di mata Papanya maupun Mamanya.
Regantara menyadari semburat yang menghiasi wajah putranya. Dia juga seorang pria yang sadar betuh akan penyebab rona merah di pipi Darren.
"Apa yang kau bisikan pada putraku? Kau mengancam putraku?" Nadhira menyipitkan matanya.
"Tidak." Laura menggeleng serta dengan tangan yang melambai. "Aku tidak mengancam suamiku. Aku hanya bertanya suamiku ingin makan apa? Ia kan Sayang?"
Matilah Kau! Laura, berperan layaknya istri idaman bahkan mulutnya yang beracun kini berubah menjadi semanis gula aren. Ya seperti itu perumpamaannya ada wangi-wanginya yang khas.
Kaki Darren yang Kaku terasa melemas mendengar Laura berucap lembut padanya. Pandai sekali istrinya berlakon.
"Kau tidak bisa membohongiku, menantu Durjana! Tidak mungkin iblis sepertimu berubah dalam waktu satu malam." Nadhira sudah mengenal berbagai type orang selama ini, dan perangai seperti Laura yang sangat keras kepala tidak mungkin berubah lembut. Jika gadis itu tidak dapat hidayah. Atau ke utamaan malam lailatul qadhar pikir Dhira.
"Ya Tuhan. Mama mertua tidak baik berkata seperti itu."
Darren menarik tangan Laura hingga gadis itu menunduk. Secepat kilat Darren membisikan sesuatu.
"Laura berhentilah bertingkah menyebalkan! Sebelum ku katakan apa yang terjadi tadi pagi." Ancam Darren.
"Ya, tentu, tentu Sayang kau sudah lapar dan ingin sarapan?" Laura membelai rahang Darren yang di tumbuhi bulu-bulu halus. Kurang ajar sekali jemari lentik Laura, membelai halus rahang Darren membuat pria lumpuh itu makin bersemu.
"Sudah Ma. Jangan mengajak Laura berdebat terus. Darren hamus makan dan meminum obatnya." sepertinya mulai hari ini Rega harus menjadi wasit untuk menengahi perdebatan istri dan menantunya.
Laura layaknya istri sungguhan ia mengambilkan makanan setiap yang di tunjuk Darren, bahkan gadis itu mengupaskan buah untuk suaminya.
Jika kalian berpikir Laura berubah, kalian salah besar. Laura hanya tak ingin ia di jebloskan ke penjara oleh keluarga Darren jadi ia sudah memutuskan utuk berbuat baik di hadapan orang lain terutama orang tua Darren.
"Berapa luas mansion ini Darren?" tanya Laura takjub bahkan di belakang mansion terdapat berbagai macam buah-buahan di lahan yang sangat luas. Laura tak percaya di kota ini ada lahan yang masih sangat luas.
"Aku tidak tau. Aku tidak mengukurnya."
"Kau pemiliknya masa tidak tau!"
"Sudah ku katakan Papaku pemiliknya. Kau bodoh atau bagai mana?" Darren menatap Laura kesal, bawel sekali iblis betina itu.
Laura hanya mencebik, sebelum kemudian ia kembali bertanya.
"Siapa yang menanam banyak bunga di sini?"
"Tentu saja tukang kebun. Kau pikir aku mau menanamnya? Dasar gadis bodoh!"
"Oh ku pikir, si nenek sihir itu yang menanamnya." Laura mengatupkan mulutnya ia kelepasan berbicara, ia juga menghentikan langkahnya mendorong kursi roda Darren, saat pria itu menghunuskan tatapan setajam belati padanya.
"Siapa yang kau sebut nenek sihir?" tanya Darren penuh selidik.
Tidak mungkin kan Laura menjawab jika nenek sihir yang di maksudnya adalah Nadhira ibu sambung Darren.
"Tidak. Tidak Darren aku hanya sembarangn berbicara." Laura langsung ke mode tanpa dosanya.
"Jika saja kau mengatakan nenek sihir itu Mamaku. Maka akan ku buat kau kehilangan pungsi lidahmu dan ku pastikan kau tak bisa berbicara saat ini juga!" Ancam Darren.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan pada lidahku? Apa kau akan memotong lidahku?" Laura pindah ke hadapan Darren duduk di kursi taman itu.
"Tidak, mungkin aku akan membelit lidahmu."
Sial Darren kelepasan berbicara.
"Membelit lidahku?"