Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Mengusik milikku


"Aaaa ..."


Darren berteriak di dalam ruangannya. "Sial ... Mengapa aku sebodoh ini?" Darren menangis meratapi nasibnya yang malang.


"Aku harus terus membujuk Laura." Darren melakukan panggilan ke nomor Laura berkali-kali, meski tetap tidak di angkat.


"Laura angkat aku merindukanmu!" Darren bergunam juga dengan beberapa pesan singkat yang ia kirimkan.


"Semenyakitkan ini merindukanmu Ra, 2 tahun aku menahan rindu. Dan sekarang aku kembali mendapatkannya." Darren memegangi dadanya yang terasa sesak.


Ia tak bisa diam dengan segera ia meraih kunci mobilnya kembali, Darren ingin melihat wanitanya memastikan wanita itu baik-baik saja.


"Darren kau mau kemana lagi?" Rega mendekat ke arah putranya yang berjalan dengan terburu-buru.


"Kemanapun. Asalkan bisa mengalihkan pikiranku dari Laura. Aku bisa gila jika benar-benar kehilangannya." Darren hendak melangkah kembali, tapi ia kembali mundur.


"Tolong katakan pada istri Papa jika ia ingin melihat Darren tetap hidup mengalahlah sedikit meminta maaflah pada istriku. Meminta maaf tak akan membuatnya mati."


"Darren!" Dhira membentak putranya.


"Untuk pertama kalinya aku menyesal sudah membela Mama. Mama pikir meludahi wajah orang lain adalah hal wajar? Itu sebabnya Mama tak mau minta maaf." Darren berlalu meninggalkan Papa dan Mamanya, tujuannya rumah mertuanya.


Dari kejauhan Darren mengintip Laura di balik pohon besar, yang terletak tak jauh dari halaman rumah mertuanya itu, sore ini Laura terlihat tengah bermain dengan Gian sang keponakan serta Mommy Fana entah kemana perginya yang lain.


Namun sejurus kemudian Darren di buat meradang kala seorang pria yang sedari dulu mendaji rivalnya itu mendekat dengan senampan buah potong di tangannya.


"Tante Laura harus makan buah." Tiba-tiba Daniel berceloteh tak jelas.


"Dih apa sih Gaze banget,, lihat Mom, cucu tirimu bertingkah aneh." Adu Laura.


"Daniiieell... Jangan menggoda tantemu." Fana malah turut menggoda Laura mereka tak menyadari jika diam-diam mereka tengah di awasi. Darren mengepalkan tangannya juga dengan gigi yang bergemelatuk.


Baby Gian terlihat antusias melahap buah yang di bawa oleh sang kakak.


"Tante. Tante, yang keponakan aku itu Gian bukan kau." Laura mengerucutkan bibirnya.


"Sial mengapa Laura bertingkah menggemaskan di depan pria acdc itu." Darren menggeram marah.


"Kau lupa jika aku kakak Gian?" tanya Daniel. Ia sengaja menggoda Laura untuk sekedar menghibur wanita yang sampai detik ini ada di hatinya. Meski begitu Daniel adalah orang yang palong iklas sekalipun mereka tak berjodoh.


"Dih, mit amit punya ponakan bentukan aki-aki." Laura semakin geli sendiri saat Daniel menggodanya.


Semua orang di buat tertawa dengan selorohan Laura, kecuali Darren.


"Kau terlihat seperti tidak menyukaiku?"


"Memang." Jawab Laura asal.


"Jangan membenciku! Kata orang jika wanita hamil membenci orang maka bayinya akan mirip orang yang di benci."


"Mit, amit. Aku tak iklas jika bayiku mirip dengan sepupu tirinya." Laura mengelus perutnya yang masih rata. "Anak Mama harus mirim Mama jangan mirip om Daniel atau orang lain." Laura menirukan suara anak kecil.


Darren merasa tersisih, mengapa Laura bertingkah manis saat bersama dengan Daniel sedangkan saat bersama dirinya yang Laura tampilkan hanya ketidak sukaan, Laura seakan menganggap Darren adalah musuhnya.


"Entah mom tidak tau. Tapi yang jelas selama mereka belum kembali, keponakan tirimu akan tetap disini." Fana berseloroh, ia meraih tubuh Gian yang sepertinya sudah mengantuk.


"Kalian ngobrol dulu, Mom akan tidurkan Gian dulu setelah itu akan kembali kemari." Fana mulai memasuki rumahnya.


Melihat kepergian mertuanya Darren semakin mendekat, kali ini ia bersembunyi di balik pilar.


"Ku dengar mama mertuamu sangat ganas Lau!" Daniel membuka pembicaraan agar mereka tak lagi canggung.


"Kata siapa? Kau tidak bisa menilai orang dari katanya Daniel."


Daniel terkekeh renyah. "Oke-oke."


"Lalu apa wajahmu tambah glowing setelah di beri serum ludah mertuamu." Bukannya tersinggung Laura justru terbahak, ada-ada saja banyolan mantannya ini.


"Seperti yang kau lihat aku selalu memesona."


"Ya kau benar." Daniel turut tertawa.


"Omong-omong dari mana kau mendengar gosip murahan itu, aku tak tau pria juga mau mendengar ghibahan."


"Liora, Liora mengatakan bersyukur tak memiliki mertua sehingga ia tidak perlu setres berdebat dan bla-bla. Bahkan Laura bersyukur Papa sudah tidak memiliki ibu." seloroh Daniel menyampaikan apa yang di katakan Liora kepada Eldy dan dirinya.


"Astagha, anak itu! Konsepnya bukan seperti itu, benar-benar di luar nurul." Laura kembali tertawa, tawa yang sangat lepas. Membuat Darren insecure untuk bersaing dengan Daniel. Tapi mengingat dirinya memiliki bayi yang tengah tumbuh di perus istrinya membuat Darren kembali bersemangat.


"Seandainya saja kau menikah denganku. Itu semua tak akan terjadi Lau, Mamaku sangat menyukaimu aku yakin kau akan di sayangi."


"Sudahlah Daniel, jangan mengingat masa lalu yang bahkan akan melukaimu. Bukalah matamu banyak wanita di luar sana yang akan menerima pesonamu."


"Mama mertuaku juga tak menyukaiku ada alasannya. Tapi aku tak ingin memikirkan hal itu. Untuk kali ini aku akan fokus dengan kuliah dan kehamilanku. Aku tak ingin anakku malu saat mengetahui mamanya tak lulus-lulus." Laura kembali tertawa, kehadiran Daniel benar-benar merubah moodnya.


Darren semakin di buat menyesal karna emosi dan kecerobohannya.


"Lalu bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan ayah bayi itu."


Darren di buat menegang karna pertanyaan Daniel ia, segera memasang telinganya dengan baik juga dengan harap-harap cemas.


"Ku yakin kau dan Om Eldy sudah tau dari Daddy" Jawaban Laura tak memuaskan Darren.


"Jika kau menjadi janda ku harap aku yang akan menjadi suamimu selanjutnya." canda Daniel.


"Bajingan." Darren keluar dengan amarahnya juga dengan wajah sedingin balok Es.


"Beraninya kau mengusik milikku Daniell ..." Darren melangkah dengan langkah lebar kemudian-


Bukk ...


Dugh ...


Dengan sekali tinjuan Daniel jatuh tersungkur di lantai.