
Darren memaku menatap tibuh mungil di atas ranjangnya. Wajah cantik dengan apa yang terdapat di sana halis yang pas juga bulu mata yang lentik menghiasi wajah cantiknya.
Hidung mungil serta dagunya yang runcing membuat Darren semakin tak bisa memalingkan pandangannya dari gadis yang selama lebih dari dua tahun itu sudah berhasil mencuri hatinya. Terutama di bagian bibir Laura, bagian itu yang paling Darren rindukan, ia tak bisa melupakan ciuman dan sentuhan bibir bervolume Laura.
"Hanya kau yang mampu membuatku melampaui setiap hal yang ada." Darren membelai wajah Laura menggunakan punggung tangannya.
"Aku tau apa yang akan ku lakukan ini salah Laura. Tapi aku tak memiliki pilihan, aku tadi memintamu dengan baik-baik tapi kau menolak. Lantas bagai mana aku mengerjakan sumpahku? aku pernah bersumpah saat aku sembuh dan kembali aku akan menggagahimu. Aku akan mencampurimu aku akan memilikimu Laura, sehingga kau tak memiliki pilihan selain bertahan bersamaku." Darren berucap tepat di atas bibir istrinya, lalu setelahnya Darren membenamkan ciuman hangat di bibir wanita yang tidak sadarkan diri itu.
"Aku sungguh menginginkanmu Laura. Terimalah kegilaan ini!" Pria itu melucuti istrinya dan dirinya sendiri.
Kemudian mengungkung tubuh ringkih yang terbaring tak berdaya. Ini yang ia inginkan, tapi mengapa hatinya mulai ragu ia tak tega. Juga bagaimana jika suatu hari Laura menanyakan setatus kesuciannya. Ah Darren tak perduli sekalipun Laura akan membencinya seumur hidup.
Darren mulai melancarkan niatnya mencicipi tubuh yang selalu membayanginya setiap waktu. Bahkan selama ini Darren membeli boneka manekin persis seperti Laura, yang ia mempergunakan boneka se ks untuk menuntaskan hasratnya, beberapa boneka yang Darren rancang sedemikian rupa, semirip mungkin dengan wanitanya.
"Kau akan ku miliki Laura."
Darren mengambil satu bantal untuk ia letakan di pinggang Laura agar gadis itu lebih mudah untuk Darren sentuh.
Darren juga mengambil selembar kain dan menyarapkan kain itu di tubuh bagian bawah istrinya. Jika benar Laura masih gadis maka bercak darah itu akan tercetak di kain itu.
Dua kelembutan yang masih mangkal di genggaman Darren membuat pria itu menyunggingkan senyum penuh ke puasan.
Sebisa mungkin Darren tidak menciptakan jejak kepemilikan di tubuh Laura, agar gadis itu tak curiga tentang tindakannya malam ini.
Darren bak pria kehilangan akal, ia berteriak, melenguh dan menggeram saat inti tubuhnya mulai melesak memasuki diri istrinya.
"Kau milikku sepenuhnya Laura. Aku merasa menjadi pria paling beruntung karna menjadi yang pertama untukmu." Darren menghujani wajah Laura dengan begitu banyak kecupan.
Hingga beberapa waktu Darren tenggelam dalam kubangan surga yang ia ciptakan seorang diri. Laura masih diguncang dengat kuat dan cepat oleh pria yang berada di atasnya.
"Laura."
Geraman lirih dengan kepala mendongak juga tubuh yang bergetar menghantarkan Darren pada pelepasan pertamanya. Dengan sangat sadar Darren melepaskan semua benihnya di dalam kehangatan istrinya.
Seakan tak puas hanya sekali pelepadan Darren mengulang aktifitas itu hingga beberapa kali.
.
Pagi harinya ...
Bahkan Darren memakaikan kembali pakaian yang di kenakan Laura semalam.
"Awww ..." Laura menangis sesaat bangun tidur.
"Apa yang terjadi mengapa sakit sekali?" Darren yang sebenarnya terbangun sejak tadi hanya diam mendengarkan istrinya mengeluh. Pria itu mengintip di antara kelopak matanya, Laura memegangi perut bagian bawahnya juga miliknya yang terasa sakit serta ngilu.
"Apa yang terjadi? Mengapa sakit sekali? Hiks ..." Laura semakin menangis di tempatnya duduk ia sama sekali tidak menyadari jika dirinya sudah kehilangan keperawanannya.
Tidak hanya bagian kela minnya yang sakit, juga sekujur tubuhnya yang terasa sangat sakit, tubuhnya juga terasa hangat sepertinya ia akan demam.
Laura bahkan tidak sanggup untuk melangkah ke kamar mandi.
"Darren ..." Laura mengguncang pelan tubuh pria di sampingnya.
"Darren bangun!" Lagi-lagi Laura mengguncang tubuh suaminya yang berpura-pura tertidur.
"Ada apa?" Darren menggeliat berpura-pura seakan-akan ia baru terbangun dari tidurnya.
"Aku ingin ke toilet tapi kakiku ngilu susah sekali di gerakan, Darren sepertinya aku akan demam." Laura menyentuh dirinya sendiri menggunakan tubuhnya.
Darren mengikuti apa yang Darren lakukan, ia mengerutkan kening, tubuh istrinya memang hangat padahal semalam Laura baik-baik saja.
"Ya sepertinya kau deman."
"Aneh, padahal aku tidak terlalu lelah kemarin, tidak kehujanan juga. Tapi kenapa aku bisa demam ya?" Lirih Laura pelan. Ia tak habis pikir dengan kondisi tubuhnya sendiri, biasanya ia demam jika terkena air hujan atau kelelahan.
"Mungkin kemarin kau tidak kelelahan tapi semalam aku yang membuatmu lelah." ucap Darren dalam hati.
"Namanya juga sakit Ra, siapa yang tau kita akan sakit kapan!" Darren bangun dan menggendong istrinya menuju kamar mandi.
"Milikku terasa sangat sakit. Apa aku terjatuh saat tidur ya?"
"Ya i-ya Ra, semalam kau jatuh terduduk dari tempat tidur aku yang menolongmu dan menggendongmu ke tempat tidur." bohong Darren.
Astagha sejak kapan Darren pandai berbohong.? Sebenarnya yang terjadi adalah ia sudah mencuri hak dari istrinya.