
"Baiklah Laura. Jika itu memang inginmu, aku akan memulangkanmu pada ayahmu. Tapi aku meminta satu syarat darimu. Selama sebulan kau harus menjadi istriku. Seorang istri pada umumnya yang berlaku seperti seorang wanita yang mencintai prianya." ujar Darren mengemukakan syaratnya, sebenarnya ia tengah mengulur waktu. Barang kali saja benih yang ia tanamkan semalam tumbuh di rahim istrinya.
Laura terlihat berpikir dan menimang-nimang syarat dari suaminya.
"Aku juga tak akan meminta kembali uang yang telah kau pakai." imbuh Darren.
"Tapi kita tetap tidak bisa melakukan sentuhan fisik. Aku ingin setelah berpisah darimu diriku masih terjaga."
Mati Darren, bagai mana bisa terjaga Darren sudah mengambil haknya semalaman penuh, bahkan pagi ini Laura sampai demam.
Darren berharap semoga benih yang ia taburkan semalam dapat tumbuh dengan subur di rahim istrinya. Darren sangat yakin jika Laura hamil, wanita itu pasti akan membatalkan rencana perceraian mereka.
"Baiklah aku menerima syaratmu. Tapi aku ingin tinggal selain di rumah ini." Laura terlihat serius mengatakannya.
"Memangnya kenapa jika kita tinggal di sini?" Darren tak habis pikir harusnya Laura bahagia tinggal di mansonnya, jika dirinya menginginkan apapun ada orang yang menyiapkannya. Tapi Laura malah meminta untuk pindah. Pasti ada sesuatu pikir Darren.
Laura di lema akan pertanyaan Darren, haruskah ia berkata jujur jika dirinya tak nyaman saat harus serumah dengan ibu sambung Darren yang kepedasan mulutnya di atas rata-rata.
"Aku hanya ingin belajar mandiri denganmu." Laura tak berani jika harus mengatakan jika dirinya tak nyaman oleh ibu mertuanya.
"Kita bisa berangkat kuliah bersama. Juga mengerjakan pekerjaan rumah bersama." Laura tengah membujuk Darren.
"Aku sudah lulus kuliah Laura. Lagi pula aku masih sanggup untuk membayar Art, jadi kau tak perlu cape-cape membereskan rumah."
"Ck, itu juga dari uang Papamu." Cibir Laura.
"Kata siapa? Itu uangku sendiri. Kau tau aku sangat kaya raya!"
"Dasar sombong."
"Ya sudah, lebih baik kau istirahat saja dari pada harus terus mendebatku." Darren membantu Laura untuk berbaring, dan menyelimuti tubuh istrinya.
"Darren, tolong ambilkan aku obat pereda nyeri ya."
Darren tercenung iya tak mengiyakan permintaan Laura. Ia takut jika Laura meminum obat sembarangan akan berdampak pada bibit yang ia tabur, oleh karna itu Darren mencari alasan yang logis dan masuk akal.
"Ra, jangan minum obat sembarangan, kau tau mengkonsumsi obat tanpa resep dokter adalah tindakan yang tidak di benarkan. Aku tak ingin kau kenapa-napa, atau Daddy akan menyalahkanku karna lalai menjagamu." Darren mengelus rambut panjangnya, membuat Laura merasa nyaman dan untuk sejenak Darren memejamkan matanya mencoba menikmati sentuhan yang mungkin saja akan dirinya rindukan suatu saat nanti.
"Darren kau pernah menemui ibu kandungmu?" Laura tiba-tiba bertanya menghentikan aktifitasnya mengelus surai kecoklatan milik istrinya.
Darren menggeleng pelan. "Aku tak ingat Ra, yang ku tau Mama Nadhira adalah ibuku, Papaku bahkan selalu marah jika aku membahas Mama Sarah. Jadi aku memutuskan untuk tidak membahasnya." Darren berujar dengan nada sendu, di sorot matanya tersirat kerinduan yang berusaha Darren sembunyikan.
"Ternyata benar kata orang seorang anak broken home sangat tertutup." Gunam Laura dalam hati, jika ia tak bertanya mungkin Darren tak akan menceritakan hal ini padanya.
"Kau benar-benar di besarkan oleh Mama Nadhira?" Laura bertanya penasaran.
"Aku di asuh oleh susterku, Bibi Lia, tapi sejak umurku 15 tahun aku sering sendirian di rumah ini, karna Mama dan Papaku sibuk dengan pekerjaan mereka. Sedangkan Bibi Lia pulang kampung."
"Kau tak memiliki saudara sama sekali?"
"Papaku selalu berkata jika kita memperlakukan seorang wanita layaknya ratu, maka pasanganmu akan memperlakukan kita layaknya seorang raja."
"Tapi kau memperlakukanku seperti Babu." Laura berujar sayu di antara matanya yang mulai terpejam.
"Itu karna dulu aku menganggapmu sebagai hamba sahaya. Lain hal nya dengan sekarang kau adalah permainsuriku satu-satu." Darren melirik ke arah Laura yang kini tengah terpejam,
Huft ...
Sepertinya Laura tidak mendengarkannya.
Darren beranjak, ia akan menemui Papanya, semoga saja Papanya belum berangkat bekerja.
Beruntung Papanya masih berada di meja makan. Darren mengutarakan niatnya yang berencana pindah dari mansonnya itu.
Mama Nadhira tak terima akan keputusan putranya, dengan kasar Nadhira menggeser kursinya.
"Kau mulai di perbudak oleh wanita itu! Sadarlah Darren wanita itu tak baik untukmu, dia berusaha merusak hubungan keluarga kita. Apa susahnya kau menceraikan dia." Nadhira merasa Laura sudah membawa pengaruh buruk pada putranya, selama ini Darren tak pernah berlaku macam-macam apa lagi sampai berniat pergi dari manson, tapi setelah Laura menjadi istrinya Dhira merasa, Darren mulai menentang.
"Ma, Darren sudah dewasa biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri." Papa Rega menyentuh lembut tangan istrinya, membawa wanita untuk kembali duduk.
"Umurnya baru 23 tahun, ia masih labil Pa untuk menentukan jalan hidupnya. Kita sebagai orang tua perlu turut serta mengarahkan putra kita." Mama Dhira masih tak mau mengalah, ia tak rela jika putranya harus kembali pergi, cukup selama dua tahun dia di tinggalkan Darren untuk berobat, dan ia tak ingin kembali di tinggalkan oleh putranya itu.
"Ayolah Ma, Darren janji akan pulang dan menginap di rumah ini setiap malam sabtu. Jika Mama merindukan aku dan Laura Mama bisa datang ke apartemen kami, atau kami yang akan berkunjung kemari." Darren mencoba memberikan penawaran agar Mamanya mau di bujuk olehnya, ia tak bisa mengabaikan keinginan Laura.
Cih, apa kata Darren, merindukan menantu iblisnya? Tidak sama sekali. Sejak awal Dhira tak menyukai Laura, dan sampai saat inipun tetap sama. Laura adalah gadis pertama yang tidak ia sukai.
Darren melembut, ia berlutut di hadapan ibunya. Mencoba memohon. Semoga saja Mamanya melunak.
"Ma, Darren mohon jangan membiarkan Darren untuk memilih. Baik Mama maupun Laura kalian sangat berarti untukku. Mama adalah ibu Darren sedangkan Laura adalah istri Darren. Darren menyayangi kalian dengan porsi yang sama namun dengan rasa yang berbeda. Darren harap Mama mengerti."
Nadhira diam sebentar, ada rasa tak tega saat melihat putranya menohon seperti itu. Tapi ada juga rasa kesal karna Laura membuat putranya tak berdaya seperti itu. Laura benar-benar sialan membuat Darren tak berkutik.
"Ma, biarkan Darren pindah ya!"
Akhirnya Dhira mengangguk lemah ia tak tega membuat putra memelas.
Darren tersenyum lebar dan memeluk Mamanya.
"Kapan kau berencana pindah Nak?" Suara Papa memecah keheningan yang tercipta baru beberapa detik.
"Darren berencana pindah besok Pa"
"Semoga kalian selalu bahagia." Ucap papa Rega tulus.
"Semoga kau tak betah tinggal di apartemen." ucap Mama Dhira dalam hati, ia ingin putra kembali ke rumah itu secepatnya.