Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Terimakasih


Sudah dua hari Laura terbaring lemah dengan beberapa alat di tubuhnya, juga dengan selang oksigen yang terpasang di hidung sebagai alat bantu pernafasannya.


Darren tidak pernah meninggalkan Laura walau sejenakpun, bahkan untuk sekedar makan dan membersihkan diri Darren memilih melakukukannya di dalam ruangan Laura.


"Bangunlah. Kumohon, kau sudah cukup lama beristirahat." Darren mengusap wajah Laura yang terlihat sangat pucat. "Maaf, demi melahirkan seorang anak untukku kau harus berada di ambang kematian." Darren terus mengusap serta menatap lekat wajah istrinya.


"Aku berhutang terlalu banyak padamu Laura. Tidakkah kau ingin bangun dan menagih semuanya padaku?" ada ketakutan tersendiri bagi dirinya saat mengatakan itu.


Ceklek.


Pintu kamar Laura menampakan mom Fana ysng tengah menggendong seorang bayi, yang mana bayi itu adalah cucunya sendiri.


"Darren kau tak ingin menggendong putramu Nak?" Mom Fana mendekat dan menyerahkan tubuh mungil dalam dekapannya kepada Darren.


Untuk sesaat Darren tercenung, memperhatikan dengan seksama wajah putranya yang masih memejamkan mata dalam gendongan mertuanya. Bibirnya terangkat tipis tapi matanya berkaca-kaca.


"Bayiku benar-benar mirip Mamanya Mom." Darren mengulurkan tangannya meraih bayi mungil itu dalam rengkuhannya. Bayi itu menggeliat, terlihat terganggu mungkin tak nyaman berada dalam gendongan Papanya yang terlihat kaku.


"Ya dia mirip Laura."


Mom Fana keluar membiarkan Darren dan bayinya menikmati waktu bersama.


"Sayang jangan egois!" Darren menaruh putranya di sisi Laura yang masih terbaring di atas ranjangnya, dengan perlahan Darren melepaskan bayinya, hingga bayi itu terbangun dari tidurnya dan menangis.


"Owekk,, owek ..."


"Dia membutuhkanmu." Darren membiarkan bayinya terus menangis, sebagai lonceng yang akan memanggil Laura agar istrinya segera terbangun dan membuka mata.


"Owek ... Owek ..."


Darren terus membiarkan bayinya sakin kencang menagis dengan kepala yang tidak bisa diam dan terus bergerak seperti tengah mencari sesuatu.


"Tidakkah kau kasihan kepada putramu Laura? Tidak akan ada yang mampu menyanginya sebaik dirimu. Kumohon bangunglah!"


Entah kebetulan atau memang cara Darren berhasil, Darren mampu melihat Laura menggerakan tanggannya juga dengan mata yang mulai mengerjap secara perlahan.


Laura terdiam, saat kelopak matanya secara sempurna, hal yang pertama Laura lihat adalah wajah Darren, namun suara yang yang menyapa pendengarannya adalah suara tangis bayi. Benak Laura di buat heran. Ia berpikir dengan tajam tapi belum menemukan jawabannya. Apakah ini epek bius oprasi atau apa, tubuh Laura juga terasa kesemutan.


Darren tidak mendengarkan apa yang Laura katakan, yang terpenting Laura sudah sadar dan ia segera memanggil dokter.


"Dokter ... Dokter ..." Darren memanggil dengan suara nyaring setelah berlalu ke ambang pintun.


Darren segera meraih bayinya takutnya bobot bayinya membuat Laura kesulitan.


Mom Fana segera mengambil alih cucunya, berbarengan dengan dokter yang memasuki ruangan rawat.


Ini benar-benar ke ajaiban untuk Darren, ia sangat bahagia saat istrinya kini sudah kembali membuka mata.


Dokter sudah memeriksa secara keseluruhan kondisi Laura, dan Laura sudah di nyatakan pulih.


"Air." Sekali lagi Laura menginginkan Air.


Darren meminta ijin lebih dulu untuk memberikan istrinya minum. Darren tak ingin mengambil resiko, takutnya memberi istrinya minum adalah hal beresiko.


Setelah dokter memberikannya ijin barulah Darren berani memberikan Laura minum.


"Terimakasih karna sudah bersedia bangun." Darren menghujani wajah pucat istrinya dengan banyak ciuman, raut ketakutan masih tercetak jelas di wajah Darren. Wajahnya terlihat sangat kacau, mata sembab karna terlalu banyak menangis juga dengan lingkar hitam di dekat matanya, menandakan Darren kekurangn tidur, karna sejak Dua hari ini Darren terjaga sepanjang malam. Bulu-bulu halus terlihat tumbuh di sekitar wajahnya.


"Darren." panggil Laura pelan.


"Ya Sayang, aku di sini."


"Bagaimama bayi kita?" Laura teringat jika terakhir kali dirinya berada di ruang oprasi untuk melahirkan bayinya.


"Bayi kita baik-baik saja, dia sangat tampan tapi wajahnya mirip denganmu. Tapi tenang saja aku tak iri, kau ibunya." Darren membawa jemari Laura ke dalam mulutnya dang mengecupnya dalam.


Laura tersenyum di paksakan "Syukurlah."


"Sayang terimakasih. Terimakasih atas semua pengorbananmu, sungguh aku tak akan bisa membalasnya, pengorbananmu terlalu luar biasa. Aku selalu berdoa semoga aku dapan membahagiakanmu seumur hidupku."


Laura tidak menanggapi ucapan terimakasih Darren, dirinya terlalu lelah hingga ia bisa diam saja.


Darren benar-benar berterimakasih kepada putranya karna sudah mau bekerja sama membuat Laura kembali terbangun.