
Suara ketukan pintu di luar rumah membuat kepala Vanya mendadak berdenyut ngilu tak karuan. Perutnya yang bergejolak lapar terpaksa ia tahan lantaran tamu di balik pintu itu terus mengetuk tidak sabaran.
Sambil menurunkan dasternya yang tergulung ke atas, ia mengambil posisi berdiri.
"Mau apalagi mereka!?" Kali ini Vanya menggebrak meja makan cukup keras agar terlihat sangar dan garang.
Ia benar-benar geram karena seharian ini sudah didatangi tiga wanita yang mengamuk lantaran ia dianggap menggoda para suami wanita tersebut.
Padahal Vanya tak melakukan apa pun terhadap suami para ibu-ibu resek di luar sana. Mereka saja yang tergila-gila terhadap wanita ayu beranak satu itu.
Vanya buru-buru melangkah menuju ambang pintu.
"Mau apa lagi kalian datang ke rumahku, hah? Sudah kubilang aku sudah memiliki suami! Awas saja kalau kalian datang, aku akan membuat mata kalian berpindah tempat karena kegantengan suamiku!"
Suaranya bagai petir yang menyambar.
Dan seketika membeku saat Vanya menarik gagang pintu. Ia hanya bisa menatap kaku seseorang yang tengah berdiri di depannya kini.
"K-kamu?" Bicara Vanya tercekat. Udara di sekelilingnya mendadak hilang dan membuat paru-parunya mengembang kehabisan oksigen.
"A-aku datang—Van. Suamimu datang." Suara Marco pun ikut tercekat. Rasa sesak menghimpit dada saat melihat penampilan Vanya yang berubah total dari sejak terakhir mereka bertemu. Ia tampak lebih kurus dan berwajah kusam.
Tanpa ajang basa-basi terlebih dahulu, pria itu langsung menarik pinggang Vanya yang sangat dirindukannya. Membawanya ke dalam dekapan dada hangat yang kini sedang terpacu hebat.
Tak membutuhkan waktu lama, dalam sekejap tubuh mereka saling menyatu diliputi perasaan rindu. Vanya dapat merasakan aroma maskulin dari tubuh Marco yang tidak pernah berubah sejak dahulu. Membuat Vanya terbawa suasana dan ingin berada di sana selamanya.
Namun, sejurus kemudian otaknya tersadar, tangan kecilnya mendorong tubuh pria itu dengan gerakan teramat kasar. "Siapa kamu? Aku tidak kenal!"
Buru-buru Vanya menarik daun pintu untuk menutupnya kembali.
"Van, maafkan aku—"Setengah tubuh Marco menyeruak masuk ke dalam. Tubuhnya yang besar membuat pria itu dengan mudah menyelinap masuk ke dalam tanpa harus membuang banyak tenaga.
Bugh!
Satu tendangan melayang keras di atas tulang kering Marco. Pria itu sedikit meringis. "Sakit Van! Kamu masih tetap saja galak! Aku jauh-jauh datang kemari, harusnya kamu sambut kedatangan suamimu dengan kebahagiaan."
"Kebahagiaan kepalamu! Aku menderita dan tersiksa saja kamu tidak pernah tahu!"
Marco terperanjat. Matanya membola ketika menyadari mulut Vanya sekarang begitu barbar.
Sejak menjadi ibu tunggal ditambah tekanan hidup tetangga, Vanya memang terus memperkuat kekebalan diri agar mampu bertahan dari pedasnya mulut tetangga. Tak heran jika sekarang ia lebih kasar dan berani dari sebelumnya.
"Baiklah, tenangkan hatimu. lapangkan kesabaranmu, ayo kita mulai penjelasan dulu."
"Penjelasan apalagi yang mau kamu katakan suami sialan?" Wanita itu mengambil langkah mundur untuk menjaga jarak. "Sebaiknya kamu pergi saja! Untuk apa kamu datang ke sini? Kehadiranmu sama sekali tidak berguna untuk kami!"
Bohong! Marco jelas tahu Vanya sedang berbohong. Tadi saja ia memuji suaminya ganteng. Siapa lagi yang wanita itu puji kalau bukan Marco David Fernando. Pria itu meng-ulum senyum tipis.
"Tentu saja aku datang ke sini untuk menemuimulah Van!" ucapnya.
"Sekarang aku sudah tidak ingin bertemu denganmu!" bentak Vanya keras-keras. Ia harus memberi pelajaran dan hukuman pada pria tidak tahu diri ini. Kali ini ia akan mengambil langkah tegas demi harga diri yang wajib dijunjung tinggi.
"Janga begitu Van! Dulu kamu sendiri yang menyuruhku untuk menyelesaikan masalah baru menemuimu, apa kamu sudah lupa ingatan? Bahkan aku masih menyimpan surat yang kamu tulis sebagai barang bukti."
Membuat Vanya refleks mengetatkan giginya kesal. "Memangnya masalahmu serumit apa sampai kamu tidak bisa mengabariku hingga empat tahun lebih? Jika kamu tidak peduli denganku, setidaknya kamu peduli pada anak kandungmu sendiri. Ayah macam apa yang tega pada anaknya seperti itu?"
***
Ea ... ea...
Semarakkan komen kalian kalau mau cepet update. yuhuu