Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Tujuh Puluh


Mobil Hero berhenti tepat di depan lobi bandara. Ia membangunkan Anna yang sejak perjalanan tadi terlelap seperti beruang mati.


"Ann, kita sudah sampai!" Hero menepuk-nepuk pipi Anna lembut. Gadis itu mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya perlahan.


Tubuhnya yang pegal efek perjalanan ia rentangkan secara perlahan. Anna menarik napasnya untuk menetralkan kesadaran. Dan saat itu juga, jantungnya nyaris dibuat copot oleh tingkah Hero.


"Su-sudah sampai, ya?" tanya Anna gelagapan saat wajah Hero sudah berada di depannya dengan jarak yang begitu dekat. Tatapan pria itu terlihat intens, mengarah pada benda merah muda basah yang terlipat ke dalam karena terlalu gugup menyikapi.


"Sudah sampai sejak tadi. Ingat kata-kataku Ann, jangan sampai kamu membuat ekspresi tidak senang saat bertemu dengan nona Vanya nanti." Deru napas Hero terasa nyata menerpa wajah. Membuat Anna melengos dan segera mencari topik pembicaraan lain untuk meredam kegugupannya.


"Iya-iya ... memangnya seistimewa apa si wanita itu, sampai aku harus tunduk segala! Bahkan kamu lebih peduli padanya daripada pacar sendiri," sungut Anna.


Hero mendekat ke arah telinga seraya berbisik, "Dia wanita penting bossku, tentu saja aku sangat menghormati keberadaannya. Dan kamu sendiri adalah bagian dari tanggung jawabku sekarang. Jika kamu sampai menunjukkan sikap tidak layak di depan nona Vanya, maka pengaruhnya akan terimbas pada hubungan kita ke depannya. Jadi tolong kerja samanya, Pacarku!"


"Iya-iya. Aku bukan anak kolot yang tidak bisa diajak kerja sama kok!"


Hero tersenyum puas. Masih dalam keadaan yang sangat dekat, telapak tangannya yang besar menyentuh puncak kelapa Anna. "Bagus, ini baru pacarku!"


Hero masih berada di posisi yang sama. Wangi tubuh pria itu yang maskulin membuat Anna tak tahan ingin menariknya saat ini juga.


Anna mulai tidak fokus menghadapi cobaan alam yang tiba-tiba saja mengusik jiwa mudanya. Pikiran gadis itu melayang pada adegan romantis yang suka ia lihat di film-film saat sepasang kekasih tengah berduaan di dalam mobil.


Apakah ini saat ia memejamkan mata? Apa sudah waktunya Hero akan menciumnya? Dan bodohnya gadis itu refleks memejamkan mata. Di mana Hero me-ngulum senyum geli ketika melihat Anna mulai salah tingkah sendiri.


Ia yang sejak tadi terus mencondongkan tubuhnya ke arah Anna kembali ke posisi semula setelah melepas seatbelt. Membuat Anna refleks membuka mata, cemberut, dan langsung melayangkan kalimat protes. "Kamu tidak jadi menciumku, Kak?"


"Kamu menginginkannya?" tanya Hero dengan suara dingin.


Anna menggeleng dengan wajah merona. "Bukan ingin, tapi posisi kamu tadi seperti ingin menciumku," protesnya logis. "Padahal aku sudah siap!"


"Aku hanya berniat membantumu membuka seatbelt, tapi kalau kamu ingin aku bisa melakukannya sekarang," goda Hero terus memancing wajah Anna semakin malu. Gadis itu berdecak seraya melotot sebal.


"Tidak usah! Kakak menyebalkan!" Sambil melipat tangannya di depan dada.


Gadis itu memajukan bibirnya kesal. Pandangannya menatap lurus ke arah mobil mewah yang terparkir di depan mobil Hero.


"Kenapa lagi? Sebentar lagi kita akan bertemu dengan kakakmu dan istrinya. Jika kamu memasang wajah seperti itu, habislah aku!"


"Kamu menyebalkan tahu, Kak!"


Hero menoleh dengan senyum meledek. "Karena aku tidak menciummu? Jadi aku langsung divonis menyebalkan. Memangnya kamu tidak lihat semua tubuhku nyaris membiru hanya karena perkara ciuman. Masih ingin melakukannya lagi?"


"Apaan sih, Kak?" sungut gadis itu sebal karena Hero terus memancing rasa malunya untuk keluar. "Lagi pula di sini tidak ada ibu atau siapa pun. Kenapa malah bahasa masalah tadi pagi? Kamu sengaja mau buat aku jadi merasa tambah bersalah ya? Iya ... iya ... memang aku yang salah. Semua salah aku! Kalau aku tidak ke kamarmu pagi-pagi, kamu tidak akan dipukul ibu sampai babak belur!" tandas Anna kesal.


Hero mencubit pipi Anna gemas sekali. "Sudah ...sudah. Ayo kita turun, kakakmu bisa ngamuk kalau kita terlalu lama di parkiran."


Dan benar dugaan Hero, Marco langsung melemparkan pandangan marah begitu melihat Hero dan Anna datang tergesa-gesa menuju ke arahnya.


Vanya berdiri diam di belakang Marco. Wanita itu terlihat malu dan terus menyembunyikan perut besarnya dari pandangan Anna yang mulai ke mana-mana.


"Selamat pagi, Tuan, Selamat pagi Nona!" sapa Hero seraya menggandeng sang kekasih di sampingnya.


Marco melotot sebal ke arah pria itu. "Pagi apanya? Ini sudah hampir jam makan siang. Apa yang kalian berdua lakukan di jalan sampai selama ini?"


"Jangan marah-marah terus. Kita jarang sekai bertemu seperti ini! Terakhir ketemu kakak sudah marahin aku!" Gadis manja itu langsung menghambur ke pelukan kakaknya tanpa perduli ada Vanya di samping Marco. Ia berusa bersikap sewajar mungkin walau hatinya begitu syok melihat perut Vanya sudah sampai sebesar itu.


Padahal Hero sudah menceritakan semuanya tentang Vanya, tapi Anna masih merasa tidak nyaman pada orang baru yang statusnya hanya sebagai istri kedua kakaknya itu. 


Pelukannya pada sang kakak dilepas begitu saja.


Demi kelangsungan hubungannya dengan Hero, Anna mulai memasang senyum semanis mungkin.


"Hai Kakak ipar? Maaf ya, gara-gara kita kalian jadi menunggu lama. Kak Marco pasti sudah cerita semua tentang aku, 'kan? Namaku Anna, adik kesayangan kak Marco." Anna mengedipkan matanya ke arah Marco. Vanya juga tak luput dari serangan peluk Anna yang sedikit erat. Wanita itu hanya mampu tersenyum canggung seraya membalas pelukan Anna yang sedikit menekan perut besarnya.


Seolah peka dengan situasi, Marco segera mendorong bahu adiknya agar segera lepas dari Anna. "Jangan lama-lama, anakku bisa tersiksa karena ulahmu! Kamu pikir dia bantal guling, hah!"


"Ikh Kakak, namanya juga wanita ya seperti ini!" Gadis itu berdecak sebal. Kemudian berbicara kepada Vanya dengan gaya yang sengaja dibuat sok akrab. "Kira-kira kapan keponakanku lahir, Kak? Aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya, aku suka bayi."


Tangan Anna mengelus permukaan perut Vanya dengan hati-hati. Di usap-usap perlahan sambil me-ngulum senyum geli. Anna tampak begitu sayang pada bayi di dalam kandungan Vanya.


"Masih agak lama, sekitar empat bulan lagi Ann," jawab Vanya malu-malu. Meski tidak nyaman dengan sikap Anna yang langsung akrab begitu saja, Vanya sedikit lega karena gadis itu tak sehoror yang ia bayangkan sebelumnya. Anna terkesan santai dan lucu seperti bahan bakar ramah lingkungan.


Vanya yang sempat berpikir Anna akan menghujatnya sebagai wanita perebut suami orang menjadi lega kalau sudah tahu begini.


"Sudah dulu ngobrolnya. Kasihan istriku berdiri terus sedari tadi gara-gara menunggu kalian." Marco segera menarik Vanya agar menjauh dari adiknya. Pria itu terlihat sangat posesif dan perhatian sekali pada Vanya.


 "Kita ke resto yang sudah ku pesan saja. Ayo cepat, sebentar lagi pesawatku berangkat!" Marco lekas menggandeng Vanya, berjalan terlebih dahulu meninggalkan Hero dan Anna yang masih dalam posisi bingung saling pandang-memandang.


"Aku baru pertama kali melihat kak Marco seperhatian itu terhadap wanita. Apa dia selalu seperti itu?"


Hero menggeleng. "Tidak sama sekali. Kemarin-kemarin kakakmu selalu menunjukkan sandiwara bencinya terhadap nona Vanya. Aku sendiri pun heran kenapa perubahannya bisa sampai sedrastis ini dalam waktu singkat."


Hero dan Anna masih berdiri mematung. Pandangan menerawang, menatap dua pasang kaki yang berjalan beriringan semakin jauh dari mereka.


"Kapan pacarku bisa bersikap peka dan perhatian seperti itu. Uh, sepertinya hanya mimpi." Gumaman Anna membuat Hero menoleh sebal. 


"Jangan suka membanding-bandingkanku dengan orang lain!" pungkasnya.


Anna terkekeh seraya menatap wajah Hero yang mulai cemberut. "Ck. Ngomong-ngomong perut kak Vanya sudah sangat besar sekali saat aku pegang tadi. Padahal kata kakak mereka baru saja menikah bukan?"


"Terus?" Hero mengernyit. Di mana tawa Anna semakin pecah seolah sedang memikirkan sesuatu di otaknya. 


Belum selesai Hero mengira-ngira, gadis itu berceluk lagi. "Aku hanya ingin tertawa saja. Kakakku selama ini galak dan selalu mengatur hubungan kita agar jangan sampai ke jenjang yang aneh-aneh, tapi dia malah menghamili wanita di luar nikah. Jadi kalau suatu hari nanti aku ikut hamil di luar nikah juga, sepertinya aku tidak akan kena marah kakak."


Sontak Hero membola murka mendengar ucapan nyeleneh keluar dari bibir Anna yang terkesan tidak disaring terlebih dahulu.


"Kamu tidak kena marah, tapi aku langsung kena tembak mati ibuku saat itu juga!"


"Ah, artinya aku akan jadi janda sebelum nikah nih," goda Anna semakin terkekeh tak tahu malu.


***


Bismillah, aku mau mulai konsisten nulis cerita ini lagi. Doain ya mentemen, semoga bisa rutin lagi. Like dan komennya jangan lupa dibanyakin, biar syemangat.