Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Dua Puluh Lima


"Betul-betul! Tuan Syam tidak mungkin memiliki hasrat untuk memperkosamu! Mungkin kamu yang menggodanya terlebih dahulu agar anak harammu segera memiliki ayah!"


Plak!


Vanya menampar wanita yang usianya masih seumuran dengannya itu.


"Jaga mulut kotormu sialan!"


"Kenyataannya memang seperti itu! Anakmu tidak punya ayah!" teriak wanita yang ditampar tadi tidak terima.


Titian air mata jatuh membasahi pipi. Melebur jadi satu bersama murkanya seorang ibu yang tidak terima anaknya dihina-hina.


Ternyata bekerja di perkebunan apel dengan jarak terjauh tidak membuat orang tidak mengetahui jati diri Vanya yang sebenarnya.


Padahal dulu nenek sengaja mendaftarkan Vanya kerja di perkebunan dengan jarak terjauh agar anak itu nyaman tanpa mengenal siapa pun. Ternyata sama saja, kabar itu terkuak dan entah dari mana.


Tahu seperti ini lebih baik Vanya bekerja di perkebunan apel dekat rumah saja agar nenek tidak ikut berlelah-lelah menunggu bis umum setiap hari.


Melihat keterdiaman Vanya, wanita itu memicingkan mata penuh kemenangan. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai.


"Benar 'kan gosip itu? Meskipun di sini tidak ada yang tahu di mana rumahmu! Tapi gosip cepat beredar Vanya! Aku tahu kalau kamu sudah melahirkan anak tanpa ayah! Kebetulan sekali salah satu temanku juga menitipkan anaknya di rumah asuh yang sama dengan anakmu." Lantang ia berbicara tanpa ada rasa sungkannya sama sekali.


(Rumah asuh: rumah untuk menitipkan anak-anak saat orangtuanya bekerja)


Vanya membungkam. Di titik ini ia tidak dapat membela diri karena apa yang teman-temannya katakan seratus persen benar.


Namun, terpuruk tak akan menyelesaikan masalah. Maka perempuan itu berusaha membela diri sekali lagi, "Aku sudah menikah!"


Ck! Perempuan itu tertawa sadis. "Kalau sudah menikah tidak mungkin kamu bekerja jadi buruh di sini! Memangnya aku tidak tahu kalau kamu belakangan ini sering diantar jemput pakai mobil mewah? Sembunyi-sembunyi pula!"


Kenapa dia bisa tahu?


Jantung berdentam, tubuhnya melemas nyaris kehilangan keseimbangan. Ekspresi terkejut jelas tergambar di wajah ayunya kini.


"Itu suamiku," jawab Vanya dengan harapan semua orang akan percaya.


Vanya diam sejenak mencerna ucapannya. Ia tidak boleh gegabah dan sembarangan bicara tanpa bukti. Sudah cukup difitnah menggoda orang yang sejatinya ingin melecehkannya, ia tidak ingin tambah disudutkan karena pembelaannya dianggap tidak benar.


Beberapa orang mulai berbisik. Saling bertukar pendapat untuk menambahi informasi-informasi tidak penting.


"Iya, aku juga pernah melihat Vanya masuk ke mobil mewah. Meski jaraknya agak jauh dari pintu keluar perkebunan, tapi aku tidak mungkin salah lihat!" seru salah seorang ikut membenarkan.


Syam yang sejak tadi diam pura-pura mendengarkan mulai meradang. Ternyata ini alasan kenapa Vanya tidak pernah menerima cintanya selama ini! Diam-diam wanita itu memiliki target lain yang sepertinya lebih mapan dan jauh lebih baik darinya. Dasar perempuan picik, pikir Syam.


Wanita yang tadi menyudutkan Vanya berseru kembali. "Kalian dengar 'kan? Ada orang yang melihatnya juga! Berarti aku tidak salah! Vanya memang sengaja menggoda banyak pria untuk kepentingan pribadinya!"


Puas, wanita itu puas sekali saat merasa menemui ujung pembenaran.


Vanya semakin tercekat. Kepalanya terus menggeleng sebagai isyarat bahwa semua yang dikakatan mereka tidaklah benar.


Tak ada satu pun yang mau membelanya saat ini. Ia hanya bisa menangis seperti orang bodoh. Menyusut air matanya berkali-kali sambil membatin nyeri dalam hati.


Tidak, ini tidak seperti yang kalian bayangkan! Dia suamiku, Marco suamiku!


"Dasar wanita murahan!"


"Perempuan sampah!"


"Penggoda menjijikkan!"


Telinganya berdengung ngilu seperti ada ribuan kumbang di dekatnya. Bersamaan dengan itu, perasaan gamang datang menyelimut hati dan juga otak.


Ia menutupnya dengan tangan sembari terisak-isak—menahan rasa nyeri dari berbagai serangan kata yang mereka hujamkan kepadanya.


***


Dua bab meluncur bersamaan. Jangan lupa kirim komentar yuhuuuu.