
"Aku mencintaimu."
Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Vanya. Terasa linglung saat mengatakannya. Tapi ia yakin bahwa sesuatu yang manis itu keluar dari bibirnya tanpa rasa kepura-puraan.
Cinta yang perlahan tumbuh, kini mulai ia sadari secara perlahan. Entah sejak kapan. Vanya merasa ia sudah mulai jatuh cinta pada pria itu sejak lama.
Marco yang mendengar tersenyum bangga.
"Aku juga mencintaimu, Anya-ku sayang." Tali dress wanita itu tertarik sempurna dalam satu gerakan. Menampilkan pemandangan terindah yang pernah dilihat oleh Marco sepanjang ia hidup. "Terima kasih telah menuruti semua permintaanku yang aneh-aneh. Mulai hari ini, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap waktuku bersamamu. Kita harus bahagia dan manis-manis seperti ini terus."
Pria itu bergeser ke samping seraya membalik tubuh Vanya agar berubah miring. Marco tahu bahwa napas wanita itu sudah mulai engap karena terlalu lama berbaring di bawah tubuhnya. Perut Vanya yang besar membuat ia harus hati-hati sekali dalam membuat pergerakan.
"Aku juga cinta yang ini." Mengelus perut besar Vanya dengan ekspresi gemas. "Buah hati pertamaku. Hasil cintaku walau di awali dengan kesalahan. Aku sayang anakku, dan juga ibunya."
Gara-gara wajah gemasnya, Vanya ikut gemas sendiri. Hal itu sedikit mengalihkan perhatian Vanya dari kesulitan napas yang sejak tadi terjadi.
"Besok pagi kita periksa lagi ya. Barangkali besok sudah terlihat jenis keelaminnya. Kira-kira perempuan atau laki-laki."
Kegiatan selanjutnya sedikit terhenti karena topik pembicaraan yang dibicarakan Marco.
Vanya mengangguk. "Kemarin belum terlihat, kamu maunya anak kita perempuan atau laki-laki?"
"Apa saja Van, asal itu anak kita aku tidak masalah. Maafkan aku, kemarin sempat melakukan tindakan bodoh karena meragukan anak ini. Gara-gara kelakuanku sendiri, sekarang aku jadi takut sekali anak itu akan membenci ayahnya saat lahir nanti," bisik Marco.
Mendengar itu Vanya terkekeh geli. "Tenang saja, aku akan memberi tahu anak kita kalau ayahnya adalah pria hebat. Pria yang sangat berkuasa dan mempesona."
"Jadi aku mempesona?"
"Jadi aku mempesona, Van?" ulang Marco sekali lagi.
Vanya masih tercekat dengan wajah kesi. Tampak ia mulai salah tingkah dibuatnya.
"I-iya begitulah. Menurut penglihatanku, banyak orang yang diam-diam suka melirikmu tanpa kamu sadari," balas Vanya. Merasa bangga saat menemukan jawaban terbaiknya dalam waktu singkat.
Marco memasang wajah cemberut. "Kupikir aku sangat mempesona di matamu. Ternyata hanya pandanganmu tentang orang lain saja," gerutunya.
Vanya terkekeh, lantas menaikkan tali dressnya karena merasa tidak dibutuhkan lagi.
"Apa yang kamu lakukan? Ini milikku!" Marco langsung melotot sebal. Detik kemudian kepalanya terbenam sempurna hingga Vanya nyaris menjerit.
Marco mendongak lagi setelah meninggalkan gigitan kecil pada puncak dadanya.
"Jangan mengusik apa yang menjadi kesenanganku. Ini milikku." Lantas kembali menikmati benda itu dengan penuh kesenangan.
Marco mulai mencumbunya dengan gerakkan paling lembut yang pernah ia lakukan. Vanya mengerang, mendesah, dan meraih apa pun yang dia bisa genggam untuk menemani getar indah yang ditimbulkan oleh sentuhan Marco.
Ia benar-benar lupa daratan. Seluruh tubuhnya serasa berantakan. Rasanya yang nyaris tak pernah dirasakan Vanya ketika bersama Adit, kini ia dapatkan sepenuhnya dari Marco.
Malam yang panjang dan penuh damba itu mereka habiskan dengan bergulung dalam satu selimut yang sama. Hingga hari nyaris menjelang pagi, mereka baru selesai melakukan kegiatan yang sangat melelahkan itu.
***
Jangan lupa like dan komen setiap partnya. Oke.