Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Dua Puluh Enam


"Dasar wanita murahan!"


"Perempuan sampah!"


"Penggoda menjijikkan!"


Hujaman caci maki terus dilayangkan kepada Vanya dari mulut kotor mereka. Semuanya bersikap sok tahu dan menghakimi sesuka hati.


Tak ada satu pun yang berniat membela Vanya meski ada banyak wanita di sana. Ia sudah setara dengan seonggok bangkai busuk yang tergoler mengenaskan di pinggiran trotoar.


Perlahan Vanya pun mulai menyadari di mana letak kesalahannya.


Jika seorang perempuan dilecehkan tanpa memiliki bukti signifikan, melawan untuk sebuah pembelaan memang bukanlah ide yang tepat. Alhasil semuanya menjadi kacau balau.


Dengan mudahnya si pelaku melakukan playing fictim seolah-olah korbanlah yang memulai duluan. Jangan heran! Inilah kenyataannya sebenarnya.


Selamat datang di dunia fana yang penuh dengan tipu daya.


Alih-alih mendapat pertolongan seperti harapannya, orang justru makin mencaci dan mengusut kehidupan pribadi Vanya yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini. Fitnah bertebaran seolah hanya Vanya satu-satunya mahluk paling berdosa di muka bumi.


Bahkan Ella yang sejatinya tidak tahu apa-apa ikut terlibat menjadi sebuah topik empuk untuk bahan hujatan.


Bagimana dengan Syam? Pria itu layaknya malaikat agung. Dianggap mulia dan tak ada satu pun yang berniat menyalahkannya.


Seberkas rasa penyesalan pun bermuncul di kepala. Andai sebelumnya ia menuruti keinginan Marco dan memahami nasihat nenek, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi.


Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Bubur nanah itu pun ia nikmati dengan sejuta kepedihan. Vanya termakan kegoisan dan memilih tetap bekerja sementara waktu sampai ia benar-benar bisa percaya seratus persen pada Marco.


Apakah tindakan Vanya dianggap salah? Tidak sepenuhnya begitu.


Ia hanyalah wanita dengan sejuta rasa takut dan trauma. Vanya takut dikecewakan saat sudah mulai menggantungkan hidupnya pada Marco kembali. Segigih apa pun Marco, nyatanya perempuan itu masih butuh waktu untuk bisa sepenuhnya percaya kembali.


Namun jika ditelaah lebih dalam dengan akal sehat dan segenap logika, Marco tidak mungkin meninggalkannya lagi karena ia sudah berusaha mati-matian mendapat kepercayaan Vanya.


Pria itu sengaja memberikan apa pun yang ia miliki agar keadaannya dibuat berbalik. Marcolah yang sekarang menggantungkan hidupnya pada Vanya.


Namun yang namanya trauma ya tetap trauma. Butuh waktu dan sesuatu yang bisa membuat Vanya membuka mata hatinya perlahan. Tak ada yang instant, tapinya setiap kesabaran akan berbuah kemanisan.


*


*


*


"Sudah ...sudah! Kalian tidak boleh menghakimi sesama pekerja!" Syam pura-pura melerai untuk mendapatkan simpati lebih banyak dari mereka.


"Tapi orang seperti Vanya tidak patut dibela! Dia sudah mencoreng nama baik Tuan Syam!" serunya.


Vanya menatap satu-persatu orang yang menghujatnya.


Demi Tuhan aku akan membalas perbuatan kalian!


Dengan sok dermawannya Syam berkata kembali, "Jangan bersikap seperti itu kepada sesama pekerja! Mungkin Vanya butuh uang untuk membiayai hidup anaknya. Anggap saja ia sedang khilaf! Aku sudah memafkannya."


"Bedebah!"


"Argghhhh!"


Sebuah amukkan tak terguda Vanya layangkan untuk terakhir kali kepada pria keparat itu. Vanya menerkam tubuh Syam dengan buas tanpa dapat dicegah.


Bekas cakaran Vanya sangat dalam menancap di kulit wajah hingga sisi -sisinya berdarah-darah.


"Wanita sialan!" seru pria itu tak sadar. Syam mengelap wajahnya hingga tangannya berlumuran darah.


Saat yang lainnya hendak membantu menangkap Vanya, ia segera mundur beberapa langkah. Di tangannya sudah tergenggam sebuah gunting besar yang ia ambil dari dalam kantung perkakas. Demi melindungi diri, Vanya terpaksa mengambil pisau yang biasa ia gunakan untuk memotong ranting kering.


"Jika kalian mendekat, aku tidak akan segan-segan melukai kalian!" teriak Vanya. Keadaan semakin kacau.


"Aku akan mengingat satu-persatu wajah kalian. Besok aku akan membuktikan bahwa aku tidak seburuk yang kalian kira. Aku kan membawa suamiku!"


Semuanya terdiam.


Tak ada yang berani menjawab. Mereka takut Vanya bertindak gegabang dan menusukkan gunting tajam itu ke sembarang orang.


"Aku pasti akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah!" Di tatapnya wajah-wajah manusia sialan itu secara bergantian. Saat Vanya mengindahkan pandangannya ke arah jauh, ia melihat lima tubuh asing yang berada cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


Marco?


Hatinya bergetar. Vanya dapat merasakan bahwa salah satu dari punggung-punggung berjas mewah itu adalah Marco. Maka ia berteriak, mengerahkan sisa tenaganya.


"Marcooooooo!"


Tentunya hal itu tak membuahkan hasil sama sekali karena jarak mereka cukup jauh. Ia lekas mengempaskan gunting besar itu ke sembarang arah. Lantas mengerahkan tenaganya sekali lagi.


Wanita itu berlari sekuat tenaga menuju tempat Marco berada.


"Marcooooooooo!"


Langkahnya semakin cepat hingga pria yang tengah memantau lahan perkebunan itu menoleh ke belakang.


"Vanya?"