
"Memangnya masalahmu serumit apa sampai kamu tidak bisa mengabariku hingga empat tahun lebih? Jika kamu tidak peduli denganku, setidaknya kamu peduli pada anak kandungmu sendiri. Ayah macam apa yang tega pada anaknya seperti itu?"
"Maaf, Van! Maaf ... Masalahnya kamu butuh penjelasan, kamu tidak akan berhenti marah-marah sebelum mendengar penjelasanku. Sini aku peluk sebentar, aku akan jelaskan semua kronologinya setelah melepas rindu."
Vanya mundur dua langkah lagi saat Marco mengepangkan kedua tangannya. "Sudah gila kamu!"
"Ayolah, Van ...." Marco mengejar Vanya yang terus mengangsur langkah mundur. "Tadi aku mendengar bahwa kamu memuji suamimu ganteng. Itu artinya kamu sama sepertiku, sama-sama memiliki perasaan rindu."
Satu bantal sofa melayang di kepala Marco. "Dasar breengsek! Tidak tahu malu sekali kamu, Marco! Bisa-bisanya kamu berkata rindu setelah menghilang bagai di telan lindu."
"Maafkan aku, Van. Masalah yang aku hadapi benar -benar rumit, terlebih aku mendapat hukuman dari papi. Tapi percayalah, semua ini aku lakukan demi memperjuangkan rumah tangga kita."
"Tidak ada kata maaf untuk suami dan ayah kurang ajar sepertimu!" telak Vanya semakin emosi dan murka luar biasa.
"Astaga Vanya! Dengarkan penjelasanku dulu. Papiku meminta banyak pertanggungjawaban kepadaku, itu sebabnya aku sibuk sekali mengurus perusahaan. Papi juga memintaku untuk tidak menghubungi sama sekali. Ini bersifat seperti chalenge. Jika perasaanku padamu masih bertahan meski tanpa pertemuan, barulah papi akan memberi restu pernikahan kita."
"Heuh! Kamu terlalu terbawa adegan drama. Mana mungkin ada pria yang mampu bertahan tanpa pertemuan. Aku yakin kamu sudah memiliki wanita lain di luar sana, maka dari itu kamu bisa tahan tidak bertemu denganku selama itu."
Sontak membuat Marco mendesahkan napas kasar, kemudian mengacak-acak rambutnya seperti orang gila.
"Ya Tuhan Vanya, dari dulu sampai sekarang istri yang sangat aku cintai hanya kamu seorang, Van! Mati-matian aku memstabilkan perusahaan untuk apa jika bukan untuk mendapat jalan kemudahan untuk kelangsungan rumah tangga kita. Aku harus merayu kedua orang tuaku dengan prestasi, baru aku meminta restu pernikahan yang selama ini tidak pernah kita dapatkan."
"Aku tahu orang tuamu sangat membenciku, Marco. Kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan kata-katamu?" Vanya menarik napas dalam-dalam.
Ceklekk!
Suara pintu kamar yang terbuka membuat keduanya menoleh.
Sepertinya keributan mereka berdua berhasil membuat mahluk kecil yang tengah tidur siang jadi terbangun. Tampak kepala kecil gadis itu menyembul dari balik pintu.
Marco langsung memperhatian gadis kecil itu dengan seksama. Melihat wajahnya yang mirip dengan Marco, membuat ia tidak kesulitan menebak siapa gadis kecil itu.
"Mamaaa!" Gadis kecil itu merengek ketakutan saat menyadari ada kehadiran orang asing di rumahnya. Ia lekas berlari memeluk kaki ibunya untuk mencari perlindungan.
"Om yang jelek itu siapa, Ma?"
Duarr.
Jelek?
Mental pria itu mendadak jungkir balik disertai perasaan panik. Ia menunjuk diri sendiri dengan jari telunjuk setengah tidak percaya.
"Siapa yang dimaksud jelek, aku, kah? Ya, Vanya! Apa kamu tidak pernah menceritakan tentang aku kepadanya?" Marco benar-benar marah kali ini.
"Mama, Ella takut!"
Ella? Jadi Vanya memberinya nama Ella. Ah sial, bahkan Marco baru tahu nama anaknya setelah dia sudah sebesar ini.
"Mama, suruh Om jelek itu pergi!" Ella terus merengek ketakutan. Ia begitu takut melihat bulu-bulu di sekitar rahang Marco yang cukup lebat. Semenjak tidak ada Vanya, Marco memang jarang mencukur jenggot dan kumisnya.
"Om jelek pergi!" Ella berteriak merasa terancam. Sepanjang Marco hidup, ini adalah pertama kali ia dihina jelek oleh sosok mahluk bernama manusia. Dan itu oleh anak kandungnya sendiri.
***
Ea ... ea...
Semarakkan komen kalian kalau mau cepet update. yuhuu