
Aplikasinya lagi eror-eroran mulu dari kemarin. Gak tau cerita ini lolosnya kapan. Maaf atas ketidaknyamanannya. Selamat membaca.
***
Jutaan kali Vanya berusaha meyakinkan hatinya agar jangan mudah luluh begitu saja terhadap kebaikan Marco yang masih bersifat fana. Bisa saja pria itu hanya sekedar pura-pura. Itulah bisikan negatif dari benak hatinya.
Namun, ia sendiri tak memungkiri bahwa hatinya saat ini terus membungbung hingga tak menapaki daratan lagi. Inilah yang ia benci dari sisi hati wanita, terlalu lembut dan mudah terbuai begitu saja akan kebaikan laki-laki yang belum tentu hadir selamanya.
Berbalut gaun malam berwarna putih tulang, Vanya bersantai-santai menikmati keindahan malam di balkon yang langsung menghadap ke arah pantai. Malam itu langit tampak biru dan menyatu dengan permukaan laut. Diahiasi oleh bulan setengah lingkaran dan bintang yang bertaburan.
Ia baru saja menyelesaikan makan malam romantisnya dengan Marco di bawah tadi. Kini waktunya untuk beristirahat menuju alam mimpi. Namun, lagi-lagi pikirannya mengajak berkelana. Jantungnya berdebar-debar seakan ada anak kecil melompat-lompat di dalam Vanya.
Marco yang baru saja selesai berganti pakaian tidur lekas menyusul Vanya ke arah balkon tempatnya berdiri sekarang. Dipeluknya tubuh berisi Vanya dengan erat dan penuh penghayatan.
"Van ... malam ini aku bolehkan?" bisik pria itu menggelitik sukma. "Tadi kamu sendiri yang janji akan memberikannya saat di meja makan," lanjutnya mengingatkan.
"Iya boleh," jawab Vanya malu-malu.
"Boleh dua kali, 'kan?" tanya pria itu menawar. Seakan rasa kurang sudah terlihat di depan mata sebelum ia mulai mencoba.
"Iya boleh," jawab wanita itu dengan bahasa sama seperti sebelumnya.
Marco tersenyum bangga dan mengecup gemas pipi wanita itu. "Terima kasih, ini adalah pertama kalinya untukku setelah sekian lama membayangkan. Akhirnya segera terjadi juga."
Vanya refleks menoleh. "Pertama kali apanya? Dalam hal apa?" tanya wanita itu setengah bingung seraya menggaruk kepala belakangnya.
"Pertama kalinya aku bercinta denganmu dalam keadaan menjadi diri sendiri. Biasanya aku selalu berpura-pura garang dan kasar, tapi terkhusus malam ini dan seterusnya, aku akan berusaha menjadi pria yang lembut di atas ranjang. Kupastikan hanya ada jerit kenikmatan tanpa keterpaksaan."
Jika kasar dan garang saja Vanya masih bisa menikmati, lantas seperti apa jadinya jika Marco menggunakan seluruh kekuatannya. Vanya tidak bisa untuk tidak membayangkan hal itu. Otak terkutuknya terus menari-nari di kepala. Akan seerotis apa adegan yang akan terjadi malam ini.
"Kamu kenapa Van? Tubuhmu bergetar, lenganmu panas."
Vanya baru akan membuka mulut. Namun baru saja ia menggerakkan bibirnya untuk bicara, Marco membungkam kembali dengan cara menyusupkan tangan nakalnya pada balik dress. Diraihnya benda favorit itu hingga Vanya memekik tertahan. Mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar jangan ada desahan apa pun yang keluar dari bibirnya.
"Ayo masuk ke kamar, aku sudah tidak tahan, Van. Aku kangen ...." Masih dalam kondisi tangan yang berada di atas kepemilikan Vanya, Marco menuntun pelan wanita itu ke dalam kamar. Merebahkannya dengan hati-hati sampai Vanya terbaring sempurna di bawah kungkuhannya.
Di tatapnya wajah ayu itu lekat-lekat. Embusan napas memburu Vanya yang menerpa wajah Marco bagaikan pewangi relaksasi yang paling nyaman saat dihirup oleh hidung. Ia terbuai. Jiwa dan raganya melambung tinggi hingga ke ujung nirwana.
"Van, katakan sekali saja. Aku ingin mendengar kata itu walau hanya pura-pura," ucap Marco lembut. "Aku ingin kamu mengatakan: aku cinta kamu!"
Vanya terdiam.
"Katakan Van! Ayo katakan sekali saja. Aku tahu kamu tidak mencintaiku, tapi aku ingin mendengar kata itu." Marco terus mendesak Vanya. Ia benar-benar ingin sekali mendengar kata itu. Kata yang pernah Vanya ungkapkan padanya beberapa tahun silam saat pertama kali berpacaran.
Dan seolah terlambat menyadari. Kini Vanya merasa badai cinta itu sudah datang menerpa kehidupannya. Tidak membutuhkan waktu lama, ia benar-benar yakin bahwa hatinya sudah benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Aku mencintaimu," lirih wanita itu sedikit tertahan. Seluruh tubuhnya langsung memanas. Jantungnya seakan berdentam hebat menyambut perasaan baru yang datang membombardir begitu saja.
***
Next gak nih. Wkwk. Ga tau bab selanjutnya muncul siang atau malam.