
Dua part spesial, untuk kamu yang sudah berkenan membaca sampai titik ini. Muach ... Muach! Lope-lope sekandang sapi. 😝
*
*
"Ka-kau?" Vanya terhenyak dan nyaris jatuh andai Marco tidak segera menarik pergelangan tangan wanita itu. Buru-buru Marco menghadangkan tubuhnya di depan pintu sebelum Vanya tahu keadaan di dalam kamar yang sebenarnya.
"Apa yang kau lakukan di depan kamarku?"
Vanya memalingkan wajahnya, malu. Posisi pria itu yang masih telanjang dada membuat wanita itu harus menelan ludahnya dengan susah payah karena dirundungi perasaan gugup. Meski sudah pernah melihat, menyentuh, bahkan merasakannya kegagahannya, Vanya tetap saja malu jika situasinya dalam keadaan sadar seperti ini.
"Aku mencari Nadia," ujarnya kikuk. Lantas menunduk canggung seraya menyelipkan anak rambutnya pada balik telinga.
"Nadia sudah berangkat kerja sejak tadi pagi. Dia ada meeting mendadak bersama klien, jadi aku yang akan menemanimu belanja nanti."
"Eh!" Vanya mendongak lugu, mata wanita itu sedikit berkeliaran karena penasaran ingin melihat isi kamar di dalam. Ia berusaha mengintip dari balik cela yang tak tertutupi oleh tubuh Marco.
Nahas seribu naas, ponsel Vanya masih terhubung, Zenith yang merasa mendapat keheningan di balik sana mulai berceletuk,
"Van!"
"Vany!"
"Kamu di mana, Van? Apakah kamu sudah berhasil masuk ke kamar Marco? Apakah kamu sudah melihat foto pernikahan Nadia dan Marco? Pasti mereka hanya sandiwara kan," cerocos wanita itu dari balik sana sambil menunggu jawaban.
Sontak Vanya terpaku tanpa kata. Seluruh bulu kuduknya berdiri heboh lantaran suara Zenith dapat didengar jelas oleh telinga Marco.
Wanita itu masih mengerjap gugup beberapa kali sebelum akhirnya berhasil mematikan panggillan video tersebut. "Maaf," lirihnya.
"Apa itu suara Zenith?" tanya Marco dengan tatapan curiga. "Apa yang kalian berdua rencanakan?" lanjutnya penuh penekanan.
Vanya memilih tertunduk diam dalam sejuta pikiran yang datang berkecamuk. Ia yang biasanya selalu memiliki jawaban pedas, untuk pertama kalinya merasa bungkam tanpa ada daya seujung kuku pun.
Mungkin ini saatnya.
Marco menatap wajah wanita itu lekat-lekat. Ia mengumpulkan semua keraguan yang selama ini membenahi diri, kemudian membuang prasangka itu jauh-jauh bersamaan dengan hempasan napas yang tadinya sempat tertahan, dan ....
Seluruh tubuh Marco melemas hingga kepalanya berakhir jatuh dengan lembut di atas bahu kiri Vanya. Wanita itu sampai mengerjap keheran mendapat perlakukan mengejutkan seperti itu.
Apa dia tidak marah, kenapa tingkahnya jadi seperti ini?
"Aku sudah tidak kuat lagi menahan semua ini Van, benar-benar sudah tidak tahan, aku ingin berhenti sekarang juga," lirih pria itu bersamaan dengan tangan yang melingkar lembut di pinggang berisi Vanya. Kemudian menariknya sedikit erat tanpa membuat wanita itu sesak.
Vanya berusaha membangunkan kesadarannya untuk memastikan pria yang ada di depannya benar-benar Marco yang selama ini gemar menyiksanya. Sedetik tadi ia masih terlihat garang dan dingin, namun sejurus kemudian pria itu berubah aneh seperti bukan Marco David Fernando si gila yang biasanya ia kenal.
"Aku mencintaimu Van!" Air mata pria itu jatuh begitu saja. "Semakin aku membencimu semakin aku mencintaimu," ralatnya lebih jelas lagi.
Apa yang dia bilang barusan ... cinta?
Sontak Vanya membelalak tidak percaya. Jiwanya mengambang antara berada di alam mimpi dan kenyataan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain tercengang dalam diam tanpa seuntai kata.
"Sebenarnya aku sangat tersiksa, Van! Aku menderita karena ulah yang kubuat sendiri. Selama ini aku selalu berusaha menahan rindu dan bersikap abai agar jangan sampai jatuh cinta dan mengulangi kebodohanku untuk kedua kalinya. Tapi hal itu tidak mengurangi rasa cintaku, justru aku semakin gila." Cairan bening yang keluar dari peluluk mata Marco mulai merembas, menembus dress tipis yang Vanya kenakan dan mulai membasahi bahu mulus wanita itu.
"Ma-maksudnya apa Marco?" Ketidak percayaan tentunya masih ada. Ia berusaha memastikan sekali lagi bahwa pria itu tidak sedang melakukan sandiwara di depannya.
Vanya mencoba menyatukan hati dan logikanya yang sudah jatuh terlalu dalam. Ia mengambil napas banyak-banyak, masih dalam posisi berpelukan, tangan Vanya merambat naik dan menyentuh kepala belakang Marco. Mengusap-usap tanpa sadar hingga ia ikut larut dalam suasana tak tertebak ini.
"Coba jelaskan pelan-pelan," lirihnya.
***
Jangan lupa komen dan like. Wkwkkwk