Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Dua puluh Sembilan


Keparatttttt!


Tangan Pria itu mengepal semakin kuat. Pandangannya menatap lurus dengan sorot mata menyalang sempurna.


Sepertinya memberikan pelajaran dengan cara membuat Syam hidup tanpa tangan dan kaki masih belum cukup. Marco harus memberi pelajaran lebih pada pria bajingan yang berani macam-macam dengan miliknya itu.


"Co," panggil Vanya sedikit tidak enak.


Marco langsung terbangun dari berbagai macam lamunan dan rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa dalam kepala.


"Iya."


"Kamu marah kepadaku?"


Ia mengambil napas kasar. Lantas tersenyum hangat ke arah Vanya setelahnya.


"Mana mungkin aku bisa marah padamu! Lebih baik kamu tenang saja, aku tidak akan melepaskan si bajingan dan semua orang yang telah membela kelakuan bejatnya! Perbuatan mereka akan kubalas hari ini juga," kata Marco berjanji.


Kali ini Vanya setuju dan membiarkan pria itu menunjukkan taringnya pada Syam dan orang-orang yang merendahkan Vanya tadi. Sudah cukup ia merasakan sakit hati oleh ulah mereka, pikirnya.


Kejahatan memang tidak boleh dibalas dengan kejahatan. Tetapi membalas perbuatan orang yang keterlaluan itu perlu. Agar kejadian seperti ini tidak terjadi pada orang lain di luar sana.


"Jangan menangis lagi," ucap Marco sembari menghapus air mata terakhir yang menggenangi pipi Vanya.


"A-ak—"


Tok ... Tok.


Marco mengangkat tangannya sejenak untuk meminta jeda waktu karena Vanya sepertinya masih ingin menjelaskan dulu kronologi dari kejadian tadi. Ajudan itu mengangguk, lantas menunggu di luar mobil sampai Vanya dan Marco selesai bicara.


"Sepertinya ceritamu tentang pria yang bernama Syam itu masih belum lengkap. Apa ada lagi yang ingin kamu ceritakan tentang pria itu? Jika ada ceritakan saja, aku tidak akan marah sama sekali kepadamu."


"Hmmm." Mengangguk yakin, Vanya mengambil napas banyak-banyak sebelum mulai menjelaskan.


"Namanya tuan Syam. Dia terkenal sebagai mandor yang paling baik hati di tempat ini sehingga semua pekerja selalu menghormatinya. Kepadaku juga dia baik, tetapi akhir-akhir ini dia marah karena aku terus menolak ajakannya untuk menikah. Mungkin dia sudah tidak kuat, jadi dia nekat mengkonsumsi alkohol dan melakukan tindakan keji itu terhadapku."


"Jadi kalian sudah lama saling mengenal?" Tangannya seketika mengepal. "Lebih dari sekedar atasan dan bawahan maksudnya," jelas Marco lebih mendetail.


"Bukan begitu!" Vanya melirik ke arah dagu pria itu. Melihat wajah marah Marco sekilas dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.


"Sebenarnya dia adalah anak dari keluarga yang bajunya selalu kucucikan. Selama ini aku menjadi buruh tukang cuci di tempat keluarganya."


"Jadi dia orangnya!? Kamu mencucikan baju keparat itu?" Marco membentak tanpa sadar. Alisnya menikuk semakin rapat satu-sama lain. "Aku benar-benar tidak rela! Rasanya ingin memakan daging manusia saat ini juga!"


"Jangan memarahiku. Aku melakukan itu karena terpaksa keadaan dan butuh sekali uang. Setelah kamu datang aku juga langsung mengundurkan diri dari pekerjaan itu," keluh Vanya membela diri.


Kalau sudah begini Marco bisa apa? Bagaimana pun juga ini merupakan salahnya.


Kalau ia tidak menelantarkan Vanya terlalu lama, mungkin nasib wanita itu tidak akan separah ini sampai menjadi bahan hinaan orang-orang banyak dan dituduh memiliki anak haram. Untuk masalah itu Vanya sengaja tidak cerita. Ia takut Marco membunuh orang-orang itu dan berujung mendekam di penjara.


"Heuuh!"


Empasan napas kasar keluar dari saluran pernapasan Marco begitu saja. Pria itu meraup wajahnya dengan tangan kiri kasar sekali.