Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Delapan Puluh Dua


"Nad, bantulah aku menjelaskan masalah pernikahan kita pada Mami. Aku sudah lelah dan kehabisan kata-kata, tapi mami masih saja tidak percaya kalau kita berdua memang menikah tanpa cinta. Mami terus menyalahkanku, sementara aku tidak bisa membuang waktu di sini karena harus mengurus beberapa perusahaan yang memaksa memutuskan kontrak secara sepihak."


Seulas senyum terukir manis di bibir Nadia.


"Iya, mungkin sekarang sudah waktunya membongkar rahasia yang selama ini tersimpan." Nadia berbicara penuh arti. "Nanti aku akan bicara pada mami. Urus saja dulu kepentingan kantor," lanjutnya.


"Terima kasih Nad, aku sungguh mengandalkanmu untuk yang satu itu!"


Marco ikut bergabung duduk bersama Anna dan Nadia di ruang tamu. Wajahnya tampak lesu dan kuyu setelah mendapat panggilan telepon dari papinya di Amerika.


Tuan Fernando mengamuk karena perusahaan besar itu terancam guling akibat gosip yang menimpa anaknya. Dan sepertinya ada yang sengaja menggunakan kelemahan Marco yang satu ini untuk menjatuhkan I-Mush grup.


Selain masalah tentang gosip yang belum diketahui sumbernya dari mana itu, Hero juga menemukan beberapa data serangan sabotase dari perusahaan asing yang mungkin sengaja disewa untuk menjatuhkan I-Mush grup. 


Ini sangat mengejutkan. Sepanjang sejarah ia bekerja, Hero baru pertama kali menemukan kasus yang begitu licik menyerang I-Mush grup. Apakah ini ulah seseorang yang menyimpan dendam pada Marco?


Bisa jadi juga, penyabotasean ini sengaja mereka lakukan untuk menarik para perusahaan terkontrak yang bekerja sama dengan perusahaan Marco demi kepentingan pribadi perusahaannya.


Hero sudah pergi ke kantor terlebih dahulu untuk menyelidiki hal ini. Sementara Marco masih di rumah menyelesaikan masalahnya dengan sang mami.


Begitulah perusahaan besar.


Mudah berkembang pesat, tapi mudah juga lenyap jika nama baiknya tidak terjaga sebagaimana mestinya. Banyak pihak yang siap menjatuhkan I-Mush grup saat CEO perusahaan itu oleng sedikit saja.


"Oh ya, Kak? Di mana kakak ipar Vanya?" tanya Anna.


Anna terdiam miris. Ia mendadak kasihan pada Vanya setelah membaca komentar hujatan tentang wanita itu. Berbagai umpatan kasar terlontar kepada Vanya yang seharunya tidak patut untuk disalahkan.


Tanpa disadari, segala hal yang kakaknya lakukan itu telah menyakiti orang yang dicintainya hingga hancur. Jika Anna menjadi Marco, ia lebih baik merelakan Vanya pergi dari pada membelunggunya dengan tumpukkan senjata yang melukai wanita itu sendiri.


Nadia yang mendengarnya sedikit berkomentar. "Maaf, untuk masalah Vanya aku tidak bisa membantu. Aku sendiri saja sedang kebingungan menenangkan orang tuaku yang kalap karena menantunya menikah lagi," ujar Nadia.


"Tidak masalah. Seharusnya aku yang minta maaf padamu Nad! Gara-gara perbuatanku kamu jadi ikut terseret pada masalah seberat ini."


Nadia melempar senyum sedikit kecut. "Itu jalan yang kamu ambil, nikmatilah prosesnya sampai kamu menemukan titik terang."


Wanita itu lantas bangun dan berangsur melangkah. "Aku akan bicara pada mami dulu. Nanti kamu bisa ikut menyusul agar perjelasan kita lebih kuat."


Marco mengangguk. Matanya teduh menatap Nadia yang berjalan anggun dan menghilang di balik kamar maminya.


Ia merasa kasihan dan tidak enak pada wanita itu. Sebenarnya Nadia adalah perempuan baik-baik. Selama ini dia selalu berusaha bijak setiap kali Marco berulah. Sayangnya Nadia memiliki nasib yang sama buruknya dengan Marco.


Sama-sama terjebak dalam kubangan cinta masa lalu.


***


Kalau ada typo entar aku edit. Makasih ya...