Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Boncap 8


Sudah dipastikan bahwa kedua orang tua Anna akan mendapat julukan orang kaya baru setelah mendapat santunan dengan harga fantastis dari keluarga Fernando nanti.


Tentunya tak menunggu waktu lama, ayah Anna yang hobinya memancing dan berjudi itu langsung menandatangani surat pengajuan adopsi yang diberikan oleh tuan Fernando.


Tuan Fernando beserta pengacaranya baru saja pergi dengan keputusan mutlak bahwa Anna telah menjadi milik keluarganya. Cepat atau lambat gadis kecil bernasib beruntung itu akan segera dibawa ke rumah utama setelah surat adopsi yang sah resmi di keluarkan.


Mengenai masalah uang yang diberikan Hero, uang itu sudah habis seketika untuk berfoya-foya dan melunasi hutang pada seorang rentenir.


Itu sebabnya hal tak terduga seperti ini bisa menjadi tambang emas abadi. Setelah Anna diadopsi, mereka tidak perlu susah-susah mencari pekerjaan karena dapat menjadikan anak itu sebagai pion agar satu keluarga dapat hidup terjamin selama-lamanya.


***


Beberapa jam kemudian ibu Anna pulang ke rumah beserta Anna yang tertidur di gendongannya.


Ibu langsung menaruh Anna di atas sofa depan teve lantas berjalan ke ruang tengah menemui suaminya dengan tergesa-gesa.


"Yah ... Ayah,” panggil ibu agak cemas.


Terlihat sekali wajah takut ibu saat ini. Ia segera duduk menghampiri sang suami yang kini tengah memegang sebuah dokumen pengalihan hak asuh beserta keuntungan-keuntungan yang akan mereka dapat setelah Anna diadopsi keluarga Fernando.


“Ah, rupanya kau sudah pulang. Di mana berlian kekayaan kita, Bu? Apa dia masih baik-baik saja?”


Pertanyaan ayah tak segera dijawab, wanita itu malah menanyakan hal lain yang menurutnya lebih penting.


“Apa kau sudah menandatangani surat itu, Yah? Kau tidak mungkin menyetujuinya, ‘kan?”


Seketika itu juga ayah mendongak dengan tatapan meledek. Lantas dia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya tidak percaya.


“Pertanyaan bodoh macam apa itu, Bu? Tentu saja aku sudah menandatangani perjanjian adopsi itu. Manusia bodoh mana yang tidak tertarik diajak kaya raya?”


"Yah!"


“AKU TIDAK MAU TAHU, batalkan surat pengajuan adopsi itu. Bilang kalau kita keberatan memberikan anak kandung kita!”


Melihat istrinya marah seperti itu, ayah malah bersikap santai seolah tidak ada hal buruk yang sedang terjadi.


“Mana bisa seperti itu, Bu! Surat hitam di atas putih baru saja kutandatangani. Aku juga sudah menerima imbalan yang fantastis dari pihak mereka. Bahkan ... besok pagi dealer akan mengantarkan mobil baru kita. Kita juga tidak perlu tinggal di rumah jelek ini karena tuan Fernando telah menyiapkan istana yang megah untuk keluarga kita. Tidakkah kau sedikit bersyur dan berterima kasih padaku,” ucap ayah meyakinkan keraguan ibu.


“Aishh!” Satu tepukan melayang di pundak ayah. Ibu mendesahkan napasnya tidak senang karena ayah membuat keputusan secara sepihak tanpa persetujuannya terlebih dahulu.


“Dasar suami bodoh! Apa kau lupa siapa itu tuan Fernando? Bisa-bisanya kau pura-pura menyuruhku menjemput Anna agar dapat menandatangani surat itu tanpa seizinku!”


“Hahaha!” Tawa ayah terdengar nyaring di telinga. “Tentu saja sejak awal aku tahu siapa tuan Fernando. Jika hal itu yang kau khawatirkan, sebaiknya kubur saja kekhawatiran tidak pentingmu itu, sampai kapan pun tidak akan ada yang tahu rahasia besar kita! Lebih baik kau diam dan nikmati statusmu sebagai orang kaya baru.”


“Sampai mati pun kita tidak akan pernah kaya karena hobi burukmu itu, Yah! Apa kau lupa bahwa kau telah menghabiskan uang dua belas milyar yang diberikan anak itu dalam waktu seminggu?” tukas ibu kesal. Napas wanita itu sudah naik turun tak terkontrol.


“Sudahlah, Bu!” Ayah berjalan memutari meja dan memeluk tubuh ibu. “Kau masih saja mengungkit hal itu. Apa kau tega melihat suamimu mendekam di penjara karena tidak mampu membayar hutang pada rentenir? Lagi pula aku sudah janji tidak akan berjudi dan berhutang lagi ‘kan? Lupakan masa lalu yang tidak penting. Percayalah ... bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk keluarga kita.”


Ibu mendongak dalam dekapan. Tatapannya dipenuhi getar cemas yang lebih kentara dari sebelumnya. “Tapi aku takut Yah! Bagaimana jika—‘’


“Sttttt!” Ayah segera memotong pembicaraan ibu dengan jari telunjuknya. Kemudian berbisik pelan di telinga ibu. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama kau bisa menjaga mulutmu rapat-rapat, Bu.”


*


*


*


Boncapnya Cuma sepuluh bab. Abis itu aku buatin novel sendiri.... Kasih komen semangatnya dong gengs? Ntar aku up lagi. HEHEHE