
"Oh, begitu ceritanya!" Nenek Laura manggut-manggut mengerti saat Marco baru saja selesai menceritakan semua masalahnya di hadapan Vanya dan juga dirinya. Wajah Marco yang dipasang sebegitu menyedihkan membuat hatinya terenyuh dan kemudian luluh.
"Sebenarnya nenek sedikit kecewa dengan keputusan orang tuamu. Menelantarkan Istri dan anak hanya karena ingin mengetahui Vanya tipe perempuan yang mementingkan harta atau tidak, bagi nenek itu tidak masuk akal, tapi nenek berusaha mengerti, yang namanya orang tua pasti ingin mendapatkan yang terbaik untuk anaknya."
Senyum simpul nenek mengembang menghiasi wajah putih keriput miliknya untuk menutupi kesedihan.
Tidak ada yang bisa diperbuat sebagai orang tak punya. Rata-rata keluarga kaya memang seperti itu. Mereka menganggap orang miskin adalah bagian dari benalu merepotkan. Hanya bisa merangkak di kaki orang berada untuk meninggikan kasta. Meskipun nenek tahu Vanya tidak seperti itu, nenek memahi dengan bijak pikiran orang tua Marco.
"Maafkan saya dan kedua orang tua saya, Nek."
"Tidak apa, sebagai sesama orang tua nenek sangat mengerti keadaan orang tuamu."
Marco menarik sudut bibirnya sedikit untuk membalas senyum nenek. "Terima kasih banyak atas pengertiannya, Nek!" Rasanya begitu lega ketika Marco sudah menceritakan semua permasalahannya.
Sudah tidak ada dosa yang ia tutupi. Marco menceritakan kisahnya dengan Vanya serinci mungkin. Dari awal mereka berpacaran saat masih SMA, saat Vanya selingkuh, saat ia merebut Vanya dari tangan Adit dengan cara licik, dan termasuk kenapa ia menelantarkan Vanya dan juga anaknya selama empat tahun belakangan ini.
Ia melakukan itu untuk menuruti keinginan sang papi. Gara-gara kasus penipuan Nadia, papi jadi lebih selektif dan hati-hati terhadap siapa pun wanita yang mendekati Marco. Ia tidak mau Marco terjebak bersama dengan wanita pilihanannya yang salah. Itu sebabnya papi menguji Marco sekaligus Vanya dengan cara tidak memberi bantuan apa pun pada wanita itu dan juga anaknya.
"Sekali lagi Maaf saya, Nek. Saya sungguh tidak bermaksud menelantarkan cucu nenek dan putri kami Ella, saya terpaksa melakukan semua ini agar ke depannya hubungan kami bisa lebih tenang tanpa dikekang. Papi saya adalah orang yang sangat keras. Empat tahun ini pun saya tidak dapat menjalani kehidupan dengan baik karena terus memikirkan istri dan anak. Sebagai gantinya, saya pasti akan mengganti biaya finansial yang dikeluarkan keluarga ini selama empat tahun."
"Iya, nenek mengerti! Berhubung ini merupakan masalah pribadi kalian, silakan dibicarakan berdua kalau sudah ada waktu senggang. Diminum dulu tehnya, perjalan jauh pasti sangat melelahkan, maaf kalau hanya ada minum saja, kami tidak memiliki suguhan spesial karena kamu datang tanpa kabar."
"Tidak masalah, Nek. Diterima oleh Nenek saja saya sudah bersyukur." Marco mengangkat secangkir teh di atas meja sedikit sungkan, ia menyesap teh hangat itu dengan kepala menunduk menatap lantai kayu.
Sementara nenek melirik Vanya yang masih terpaku diam. Wanita itu hanya bisa menunduk seraya meremas jemari di atas pangkuan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun ia tahu Marco tidak sedang berbohong atau mengarang cerita, tetapi rasa kesalnya terhadap pria itu tak kunjung padam. Ia hanya bisa pasrah menahan marah lantaran tidak enak ribut-ribut di depan sang nenek.
Menyebalkan!
Andai Marco tahu betapa susahnya menjalani hidup tanpa suami. Apalagi diserang oleh hinaan tetangga hampir setiap hari. Sejak pertama kali Vanya menginjakkan kaki di rumah ini dalam keadaan hamil, sejak itu pula penderitaan barunya di mulai kembali.
"Huaaa!" Suara tangisan Ella memecah keheningan sesaat itu. Vanya lekas berdiri, namun buru-buru nenek mencegah. Langkah nenek lebih dulu sigap menuju kamar Ella. Wanita paruh baya itu bicara sambil berjalan.
"Biar nenek saja yang ke kamar Ella. Lebih baik kamu bawa suamimu ke kamar, dia pasti ingin beristirahat."
Ia berjalan acuh menuju kamar. Seperti biasa, Marco tetap mengekori wanita itu karena tahu statusnya masih belum aman. Butuh perjuangan ekstra untuk menjinakkan wanita murka yang satu itu.
Kamar minimalis bernuansa wanita dengan warna serba putih itu dibuka perlahan. Vanya berbalik ke arah Marco yang baru saja menutup pintu.
"Kalau ngantuk kamu tidur saja di kamar, aku mau pergi mengambil upah di perkebunan."
"Van ...." Pria itu menarik lengan Vanya yang hendak menarik knop pintu. "Kamu masih marah kepadaku?"
Hembusan napas kasar keluar dari lubang hidungnya. "Tidak perlu menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya apa, Marco. Mana ada istri yang tidak marah dengan kelakuan suaminya yang seperti itu!" pungkasnya.
Bahkan Vanya enggan menatap Marco saat bicara.
"Lalu aku harus bagaimana, Van? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkankanku?" Matanya memerah, Marco nyaris menangis di hadapan wanita itu.
"Pergi dari rumahku! Ketakutan papimu benar, aku hanya wanita gila harta yang mungkin saja akan menghancurkan hidupmu untuk kedua kali. Lebih baik cari wanita lain saja!"
"Van!" Pria itu kembali menarik Vanya ke dalam dekapan dada bidangnya. Kali ini air matanya benar-benar tumpah. Merembes membasahi pundak wanita itu. "Tolong berikanlah kesempatan sekali lagi untuk suamimu yang berlumur dosa ini, Van! Aku janji ini yang terakhir kalinya. Jika aku sampai mengecewakan lagi, kamu berhak mengambil langkah dan keputusan apa pun untuk hubungan kita kedepannya."
Kepasrahan Marco sudah di ambang batas. Ia menangis di pundak kurus Vanya tanpa rasa malu atau pun cangggung.
***
Iklannnnnn ....
Haters bertebaran, baca ceritaku enggak, tapi pake akun fake untuk komen bab akhirku agar terlihat seolah-olah tidak puas dengan isi ceritanya. Kenapa? Gak terima liat cerita ini hadir di noveltoon. Mau maksa pembaca buat berhenti baca cerita ini ya silakan. Wkkww. Sudah ketebak kali, yang mana pembaca nyinyir, yang mana punya banyak akun fake buat nyari poin, yang mana haters loncatan. Wkkwk. Hati-hati gengs, seramm!
Pokonya aku gak akan tinggal diam sama macam haters begini. Mari kita viralkan. Sebenernya ini cara lama, cara yang dipake sejak tahun 2019. Kalau author lama pasti tau banget ada haters model begini. Khusus nurunin rate, khusus hujat, dan ada yang berkelompok pula. Targetnya para author-author yang novelnya laku. Entah tujuannya buat apa. Doamat.