
Situasi menjadi kacau tak terduga. Mereka berdua terpaksa menghentikan perdebatan lantaran Ella mulai ketakutan dan bingung saat melihat keadaan tak biasa ini.
"Sayang, ini papa Nak!" Marco berusaha mendekat selagi Vanya mengatur emosi yang masih tampak belum mau stabil juga sedari tadi.
Pria itu menatap putri semata wajangnya dengan penuh haru dan rindu. Ia ingin sekali memeluk hasil buah cintanya dengan Vanya selama-lama mungkin.
"Itu Papa, Ma?" Ella menarik daster Vanya dengan kepala mendongak penuh.
"Emm—" Sedikit gugup, Vanya berlutut merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi badan Ella. Dielusnya kepala gadis kecil yang tengah kebingungan itu dengan lembut dan penuh kehati-hatian. "Iya, itu papa Ella. Papa Ella yang selama ini Ella tunggu-tunggu. Namanya Papa Marco, Papa baru saja pulang dari luar negri untuk menemui Ella."Vanya mencoba bicara pelan penuh kehati-hatian. Karena wanita itu memang tidak pernah memberitahukan seperti apa sosok Marco pada anaknya. Vanya takut pria itu tidak akan pernah datang dan akan menambah beban harapan Ella. Itu sebabnya Vanya merahasiakan rupa Marco dan hanya menegaskan bahwa wajah ayahnya sangat tampan.
Pelan-pelan gadis kecil itu menoleh. Sambil menahan rasa takut, Ella memberanikan diri memandang wajah Marco yang kini sudah memposisikan diri berlutut juga. Anak itu tampak cemberut dengan sorot mata kecewa.
"Kok jelek, Ma? Bukannya mama bilang papa Ella ganteng?" Lagi-lagi kata jelek keluar dari bibir Ella. Menurunkan kualitas pesona pria itu seketika.
"Papamu memang sudah jelek dari sananya, Ella. Tapi kamu tidak boleh berkata seperti itu! Ayo peluk Papa dulu ....”
Kontan pria posesif di depannya membulatkan mata lebar-lebar. Tertuju lurus pada Vanya yang baru saja berhasil mengejeknya di depan anak kandungnya sendiri.
Isyarat matanya seolah berkata, mana mungkin ada wanita yang berani menyematkan kata jelek saat melihat visual Marco kecuali anak dan istrinya itu.
Belum habis keterkejutan Marco akibat dihina anak kandungnya, mentalnya kembali diserang saat Ella tiba-tiba menjerit sampai membuat mereka berdua panik.
"Huaaaaa! Tidak mau! Pokoknya Ella tidak mau! Ella tidak mau punya papa jelek seperti itu!" Vanya langsung memeluk tubuh anak itu ke dalam dekapannya.
"Ella, tenang dulu, Sayang!"
Bukan hanya sekedar mengejek, nampaknya gadis kecil itu benar-benar tidak menyukai ayahnya. Tubuhnya langsung gemetar takut saat memperhatikan Marco dengan jarak sedekat itu.
"Ella jangan seperti itu. Dia Papamu, Sayang" Sekarang Vanya tak tahu harus berbuat apa.
Ia hanya dapat memasang ekspresi datar seoalah menegaskan, karma begitu instan menyerang mentalmu, Marco. Rasakan saja penderitaanmu. Ini adalah balasan untuk suami menyebalkan sepertimu.
"Apa yang harus aku lakukan, Van? Sepertinya Ella tidak menyukaiku." Tentunya Marco sangat panik. Membuat Vanya sedikit menaruh iba saat melihat ekspresi wajah pria itu dipenuhi kabut-kabut penderitaan. Rasanya ingin ikut berteriak rasakan, tapi Vanya kasihan.
Vanya lekas menggendong Ella ke dalam kamarnya kembali. Hal itu membuat Marco menarik sudut-sudut bibir lantaran kata 'tunggu' yang wanita itu ucapkan menandakan bahwa ia tidak jadi diusir.
"Kamu masih Vanyaku yang dulu, akan tetap menjadi Vanya-ku sampai akhir waktu."
***
Setengah jam berlalu, Marco berdiri di depan kamar Ella seraya melirik sofa di ruang tamu tanpa berniat mendudukan diri sedikit pun.
Beberapa kali ia mengumpat dan berniat mengetuk pintu. Ia penasaran sekali apa yang dilakukan ibu beranak satu dengan putrinya itu di dalam sana.
"Jangan-jangan dia kabur melewati jendela?" Seberkas pikiran jelek merasuk di kepala begitu saja. Kenapa bisa lama? Apakah Vanya sengaja melakukan itu untuk menghindarinya?
Ah, sialan! Jangan sampai aku kehilangan mereka untuk kesekian kali. Mulutnya terbuka lebar memanggil nama Vanya.
"Van! Apa yang sedang kalian lakukan di dalam sana?" Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Vanya!" Tak ada jawaban, kamar itu terdengar hening hingga mengundang kepanikan. Marco sama sekali tidak bisa berpikir positif kalau sudah seperti ini.
"Vanya!"
Doog .... Doog .... Doog!
Tanpa menunggu lima ratus tahun, Marco langsung mengetuk kamar itu sambil menyerukan nama Vanya lebih keras dari sebelumnya.
Please Van, jangan membuatku khawatir. Jangan meninggalkanku pergi lagi.
***
Hari ini udah 4 bab.
Kasih like dan komen gengs. Usahakan like komennya seimbang, biar aku mau crazy up.