Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Enam Puluh Dua


Ditelepon oleh bekas sekretarisnya dengan pemberitahuan yang sangat mengejutkan tentang mantan istrinya membuat Adit nyaris terkena serangan jantung mendadak. Pria itu langsung memacu mobilnya dengan kecepatan luar biasa. Membelah padatnya jalan raya begitu tergesa-gesa.


Adit berlari menyongsong arah matahari menuju lorong di mana Vanya sudah dipindahkan ke ruang perawatan khusus. Ia mencari-cari nomor kamar yang Monika berikan lewat pesan tadi.


"Tuan Adit!" teriak Monika saat melihat Adit tengah gusar mencari-cari nomor kamar. "Disini," lanjutnya kemudian.


Adit berlari kecil seraya mengelap titik-titik keringat di antara dahinya. "Bagaimana keadaan Vanya, Mon?"


"Nona Vanya mengalami pendarahan. Tadi dokter bilang kondisi kandungannya sudah cukup stabil. Dokter sedang memeriksa hasilnya lebih lanjutnya di ruang laboratorium, ada kemungkinan nona Vanya kelelahan," ujar gadis itu sedikit canggung karena sudah lama tidak berinteraksi dengan Adit. Padahal Adit tak memecetnya, tapi Monika merasa sadar dan memilih undur diri dari perusahaan Adit.


Adit mendorong pintu besi itu perlahan. Tampak Vanya tengah duduk menyandar di pembaringan dengan wajah bingung. Adit mendekat tanpa mengedarkan pandangannya ke mana pun. Manik matanya begitu fokus dan terisi penuh oleh wajah pucat Vanya.


"Van .... ini aku," lirih Adit sedikit tercekat saat menangkap perut Vanya yang tampak membuncit. Membuat wanita itu terhenyak melihat kedatangan tamu tak diundang yang sebenarnya sangat ia rindukan belakangan ini. "Jangan salah paham dulu. Monika yang menelponku untuk ke sini Van. Dia sudah lama memutus kontak dengan Marco, maka dari itu aku yang datang ke sini."


Tiba-tiba Vanya menangis. Hatinya tak sanggup melihat wajah Adit setelah sekian lama tak bertemu. Ia merangkul perut yang kini tengah diisi oleh darah daging Marco. Perasaan yang sudah ia lupakan kembali muncul saat melihat sosok Adit berdiri dengan jarak begitu dekat dengannya. Tak mudah bagi Vanya melupakan sosok Adit yang sudah mengisi hatinya bertahun-tahun.


"Apa yang terjadi padamu, Van?" Adit memberanikan diri memeluk Vanya. Wanita itu tidak memberontak saat tangan Adit mengalung lembut di pinggangnya. Mereka berdua seolah sedang melepas rindu menggebu yang selama ini selalu tertahan.


Vanya menumpahkan seluruh perasaan tak jelasnya di bahu Adit. Cukup lama keduanya saling berpelukan hingga bahu Adit terasa berat oleh kepala Vanya. Adit begitu hati-hati dalam bergerak agar tak mengenai perut Vanya yang begitu mengerikan di matanya.


Vanya melepas pelukannya setelah beberapa saat kemudian. "Maaf Mas, aku terlalu terbawa suasana," ujar wanita itu menunduk malu. Mengusap titik-titik air mata yang membanjiri wajah ayunya.


"Tidak masalah Van. Aku juga merindukanmu," jawab Adit bahagia. Senyum simpul terulas dari bibirnya. Ia masih dapat merasakan harum tubuh Vanya yang melekat di tangannya barusan. "Bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini? Apa tuan Marco masih suka menyiksamu seprti waktu itu, Van?"


"Mungkin sekarang dia tidak akan menyiksaku lagi Mas," jawab Vanya seketika.


Adit Menautkan dua alisnya heran. "Kenapa? Apa gara-gara ada anak itu di perutmu?" Tangannya reflek menunjuk perut besar Vanya meski dadanya begitu sesak.


Kalau boleh dikata, Adit sangat sakit melihat Marco menghamili mantan istrinya. Namun ia hanya bisa mengelus dada, tidak bisa berbuat apa-apa lantaran semua ini berawal dari kesalahannya.


Adit begitu terkejut. Darah di tubuhnya mengalir deras disertai keringat dingin yang mengembun tiba-tiba. "Ya Tuhan Van, kenapa kamu tidak cerita? Itu artinya tuan Marco sengaja memanfaatkan kelemahanku untuk mendapatkanmu lagi, bukan?"


Vanya mengangguk. Ia menatap lekat wajah Adit yang mengeluarkan cukup banyak keringat. "Beberapa bulan ini aku merasa tersiksa, bahkan aku harus mengandung anak dari orang yang sudah tidak aku cinta."


"Maaf Van, maaf." Air mata wanita jatuh berderai kembali. Adit begitu cekatan mengusapnya dengan ibu jari.


Andai ia tidak selingkuh dan menggunakan uang perusahaan, Vanya pasti tidak akan bernasib tragis seperti ini, pikirnya.


Vanya mendorong dada Adit hingga tercipta jarak yang cukup jauh. "Tapi Marco sudah berubah, sekarang dia telah menghentikan balas dendamnya padaku. Marco juga berkata, akan memberiku kebebasan setelah kontrak itu selesai. Kita hanya menikah selama masa kontrak, lalu aku akan kembali ke kampung nenek bersama anak kami," ujar wanita itu tersenyum. Ia tidak menceritakan keberadaan Nadia pada Adit karena merasa tidak penting.


"Maaf Van. Sekali lagi maafkan aku. Gara-gara kebodohanku di masa lalu, kamu harus menanggung semua ini, akulah yang patut disalahkan karena telah melimpahkan semua kesalahanku padamu. Aku suami gila yang wajib dibenci seluruh dunia." Satu tepukkan mendarat lembut di bahu Adit.


"Bukan sepenuhnya salahmu. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Kalau dipikir-pikir mmbencimu juga tidak ada gunanya bagiku. Aku hanya ingin hidup aman tanpa rasa dendam dan benci, itu jauh lebih baik untukku."


"Jadi kamu memaafkan segala kesalahanku Van? Termasuk perilakuku yang pernah menyelingkuhimu di belakang?" tanya pria itu memberanikan diri.


Vanya mengangguk disertai senyum tipis.


Adit lekas menggenggam tangan Vanya kembali. Kali ini begitu erat dan penuh penghayatan. "Sekarang aku tidak akan memaksa Van, tapi jika masih diberikan kesempatan, aku ingin menebus semua kesalahanku, aku ingin merawatmu dan anak itu," ujar Adit penuh harapan di setiap nada bicaranya.


Vanya mencampakan tangan Adit sedikit kasar. "Maaf Mas, untuk kembali adalah hal yang tidak mungkin. Meskipun aku masih belum menghilangkan perasaanku padamu sepenuhnya, tetap saja hubungan kita layak diakhiri selama-lamanya. Aku sungguh merindukan kehidupan tenang sekarang. Harapanku sederhana, cukup bisa membahagiakan anakku, itu sudah merupakan anugrah untukku."


Adit belum sempat menjawab. Pintu ruang terbuka di mana keduanya menatap ke arah Marco yang tengah mengatur napasnya yang tersengal-sengal di ambang pintu.


***


Jangan lupa berikan komen sebanyak-banyak.