Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Dua Puluh Empat


Bugh!


Tabrakan itu membuat tubuh Vanya menghantam tanah cukup keras hingga bagian lutut dan telapak tangannya sedikit lecet. Ia meringis, merasakan perih pada bagian tubuhnya yang terluka.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Suara bariton seorang pria terdengar begitu khas. Membuat Vanya mendongak dengan sejuta rasa penasaran.


Vanya membeku sejenak, menatap pria yang ternyata bukanlah sosok yang ia kira.


"Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu lagi.


Vanya masih terpaku. Otak wanita itu membayangkan bahwa Marco yang sangat ia butuhkan ada di depannya saat ini juga.


Ia berharap Marco bisa datang seperti pangeran berkuda putih untuk menyelamatkan hidupnya. Namun hal kebetulan seperti di sinetron itu tidak mungkin terjadi pada kehidupan nyata.


"Tolong aku ... aku mau diperkosa oleh tuan Syam!"


"Tuan Syam?" Pemuda yang tadi sempat Vanya kira Marco itu segera berjongkok. Dua tangannya terulur membantu berdiri menopang tubuh Vanya yang sudah mulai kehabisan tenaga karena dipaksa untuk terus berlari sedari tadi.


Rupanya teriakan Vanya di sepanjang jalan tadi cukup memancing perhatian banyak orang.


Tak hanya pemuda yang ia tabrak tadi, beberapa buruh pekerja lain juga mulai ikut berkerumun menghampir Vanya dan pria itu.


"Ada apa, Vanya?" tanya seorang pekerja wanita paruh baya sambil membawa sekeranjang rumput liar yang baru saja selesai dipotong. Ia meletakkan barang bawaannya, lantas bergabung bersama para pekerja lain yang sudah mengerumuni Vanya.


"Nona ini bilang mau diperkosa tuan Syam!" seru pemuda yang menolong Vanya tadi penuh pembelaan. Meksipun bekerja di tempat itu, ia tidak mengenal Vanya karena baru bergabung di perkebunan beberapa minggu lalu.


"Benar kamu mau diperkosa oleh tuan Syam Vanya?" tanya salah seorang ibu paruh baya lainnya.


Tempat Vanya berdiri sekarang sudah lebih dari aman karena para pekerja yang berkumpul melebihi sepuluh orang. Tiga laki-laki, dan delapan perempuan tengah mengerubuninya kini.


"Iya, tuan Syam mau memperkosaku! Bantu aku melaporkannya ke boss besar pemilik perkebunan ini agar manusia jahanam itu kapok!" Napas Vanya terdengar sangat memburu. Bahkan ia merapikan sedikit bajunya dengan tangan gemetar menahan rasa takut luar biasa.


"Bohong!" teriak Syam dari arah belakang Vanya. Semuanya menoleh ke arah pria itu, termasuk Vanya yang tengah memeluk dada seraya menahan rasa takut.


"Apa kalian percaya saya memperkosa wanita rendahan sepertinya?" Mata tuan Syam memicing jijik saat memandang keadaan Vanya seolah wanita itu tengah menebar fitnah tentang dirinya.


"Bedebah kau Syam! Jelas-jelas tadi kau mau mem—"


Plakk!


Tamparan tidak terduga mendarat sempurna di pipi Vanya. Wanita itu menoleh bengis sambil memegangi pipinya.


Ia bahkan belum selesai melanjutkan bicaranya saat salah seorang pekerja wanita mendekat dan menamparnya tiba-tiba.


"Kenapa Anda menampar saya Nyonya Ellson?" Teriakkan Vanya begitu menyulut dipenuh rasa emosi.


"Jangan sembarangan bicara Vanya! Mana mungkin Tuan Syam ingin memperksosa pegawai rendahan seperti kita! Kamu harus sadar siapa dirimu dan siapa Tuan Syam!"


"Iya betul!" seru beberapa orang ikut-ikutan.


"Jadi kalian semua menganggapku berbohong?" Vanya berteriak lebih keras dari sebelumnya. Sakit bekas tamparan pada pipi wanita itu tak sebanding dengan hancurnya harga diri yang baru saja terkoyak. Matanya merambang dan nyaris menumpahkan cairan bening yang sedari tadi memaksa turun dari sang peraduan.


Ia memberanikan diri melirik tuan Syam. Pria itu diam tanpa ekspresi seakan menyuraki kekalahan Vanya barusan.


"Maaf Vanya! Bukannya kami tidak ingin mempercayaimu. Tapi yang dikatakan nyonya Ellson barusan ada benarnya juga. Untuk apa tuan Syam memperkosamu? Beliau adalah atasan kita. Wanita yang menjadi seleranya jelas berkasta tinggi. Bukan buruh rendahan seperti kita." Salah seorang menanggapi. Membuat beberapa orang yang ada di sana semakin tidak percaya.


"Aku juga tidak percaya! Tuan Syam itu mandor paling baik di sini! Mungkin kamu hanya salah paham Vanya!" seru salah seorang pria ikut menambah pendapat.


Semua yang ada di sana mulai tidak memihak pada Vanya sedikit pun. Wanita itu justru dianggap rendahan karena telah memfitnah tuan Syam tanpa bukti. Apalagi Syam terkenal baik selama menjabat sebagai mandor di perkebunan ini.


"Betul-betul! Tuan Syam tidak mungkin memiliki hasrat untuk memperkosamu! Mungkin kamu yang menggodanya terlebih dahulu agar anak harammu segera memiliki ayah!"


Plak!


Vanya menampar wanita yang usianya masih seumuran dengannya itu.


"Jaga mulut kotormu sialan!"


***


Jangan lupa like dan komen dulu biar ada keajaiban up lagi.