
Pagi harinya, Marco bangun pagi-pagi sekali. Lelaki itu berusaha mempersiapkan sarapan pagi untuk Vanya supaya apa yang dia rencanakan bisa berjalan sesuai harapan.
Marco adalah anak yang pantang menyerah. Terlebih ia tidak suka penolakan. Jadi ia akan terus berusaha sampai Vanya mau mengikuti segala kemauannya. Meskipun harus dengan cara merayu seperti ini, pun akan dia lakukan dengan senang hati.
Setelah membuat sarapan yang tidak yakin enak atau tidak, Marco gagas masuk ke kamar. Lelaki itu tersenyum saat mendapati Vanya tengah duduk di tengah ranjang. Vanya sendiri agak terkesiap saat melihat suaminya datang sambil membawa nampan berisikan makanan.
"Apa lagi yang kau lakukan, Marco?" Marco mendekati Vanya sambil terus melempar senyuman genit.
"Aku hanya ingin menyiapkan sarapan untukmu, memang apa salahnya?" Marco menyeringai bodoh.
"Cih! Banyak alasan saja kamu. Ngomong saja kalau kamu sedang berusaha merayuku. Memangnya semudah itu membujuk? Apa pun yang terjadi aku tidak akan terpengaruh," pungkas Vanya. Tapi ia menyaut makanan yang ada di tangan Marco lalu memakannya perlahan.
"Agak keasinan!" Dia terus mengunyah.
"Asin kok dimakan!" Marco mendengkus kemudian berlalu.
*
*
*
Sesampainya di kantor, Marco berbicara dengan Hero mengenai kendala bulan madu. Dia kesal karena Vanya tidak mau menerima ajakannya.
"Jadi aku harus bagaimana?" Marco mendesah di ruang kerjanya. Jangan tanya seperti apa keadaan Marco hari ini. Pria itu bahkan sudah setengah hari hanya melamun tanpa bekerja.
Ini adalah jam makan siang, dan Hero sengaja membawakan makanan ringan untuk meredakan amarah lelaki itu.
"Tidak harus bagaimana, kalau istri tidak mau ya tidak usah dipaksa. Oh ya, besok Anna akan pulang dari Amerika. Mungkin siang dia sudah sampai ke rumah utama," ucap Hero.
"Ah, benarkah itu?" Marco sedikit tersenyum. Barang kali saja besok Anna akan langsung lengket dengan Ella. Jadi ia bisa punya alasam untuk mengajak Vanya liburan.
Marco tahu betul yang Vanya pikirkan adalah Ella. Jika ada Anna, kemungkinan Vanya berubah pikiran cukup besar.
"Semoga saja besok Anna bisa membantuku?! Aku benar-benar ingin liburan bersama Vanya. Entah kenapa bisa seingin ini."
Hero yang sedang menyiapkan makan siang lantas menoleh. "Apakah itu semacam nyidam?" tanya lelaki itu penuh tanda tanya.
"Ngidam?" Marco merengut bingung.
"Alasan apa Tuan?"
"Tentu saja alasan ngidam. Entah ini ngidam atau bukan, yang jelas aku akan menggunakan alasan ini untuk hal itu," ucap Marco.
Hero hanya mengangguk sebagai jawaban dari responnya.
"Oh ya, tolong kirimkan bunga ke rumah. Aku ingin memberi bunga untuk Vanya."
"Baik, Tuan. Apa ada lagi?"
"Emmm. Sepertinya makanan juga boleh. Kirimkan steak langganan kita. Wanita hamil harus banyak-banyak makan makanan bergizi bukan?"
"Baik, Tuan!" Hero mengangguk. Dia terlihat mengetikkan sesuatu di ponselnya. Sepertinya lelaki itu sedang memesan bunga dan makanan untuk Vanya.
"Kakak! How are you ...."
Tiba-tiba suara yang tidak asing itu terdengar dari arah luar. Yupz, itu adalah suara Anna.
Gadis itu masuk ke ruangan Marco sambil menyeret kopernya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Hero menjadi orang pertama yang terkesiap. Tentu saja lelaki itu marah karena Anna datang tiba-tiba. Padahal dia berkata akan pulang besok pagi.
*
*
*
*
*
*
Lagi gak? Gengs, komen dong...... 😭😭. Biar cepet liat Marco yang uwu-uwu