
"Kenapa kamu selalu galak begitu si, Kak? Padahal kita sudah lama tidak bertemu, tapi sikap kamu selalu cuek seolah hanya aku yang mencintaimu sendirian. Iya ... aku tahu aku salah karena membuatmu cemburu sampai hilang kepercayaan, tapi semua ini aku lakukan untuk memberikan sedikit kejutan padamu. Meskipun di luar sana banyak lelaki tampan dan baik, pilihanku sudah jatuh padamu sejak lama."
Anna menatap pria itu sedikit berani. Berselisih paham dengan Hero sudah menjadi hal yang biasa baginya. Anna pun sadar bahwa mereka berdua memiliki cara berpikir yang berbeda. Sering berdebat, masih suka putus nyambung, walau akhirnya selalu berakhir kembali seolah hubungan mereka adalah pelabunan terakhir untuk berlabuh.
Hero mendesahkan napasnya, pelan. Ingatan pria itu kembali pada dua hari yang lalu. Saat Anna tiba-tiba mengirim sebuah foto mesraanya bersama laki-laki. Lalu ponselnya dimatikan lantaran Anna sedang dalam perjalanan di atas pesawat.
Sumpah demi apa pun itu tidak lucu. Hari itu Hero tidak memiliki pemikiran positif sama sekali. Mengingat lingkungan tempat tinggal Anna adalah negara yang bebas dengan jutaan pria tampan di dalamnya, hal itu cukup membuat Hero sadar diri bahwa ia yang hanya kekasih jarak jauh bisa tersingkir dari hati Anna sewaktu-waktu.
Kini Hero merasa marah dan dipermainkan oleh gadis itu. Tangannya mencengkram kedua bahu Anna cukup erat. Matanya mengunci gadis itu hingga Anna mulai gemetar dengan perlakukannya.
"Ann, menjalani hubung jarak jauh bertahun-tahun itu tidak semudah yang kamu bayangkan! Bohong jika aku tidak memilik rasa cemburu sama sekali. Bohong jika aku tidak mencemaskan keadaanmu di luar sana. Memikirkan semua itu saja aku hampir gila, Ann. Dengan kamu melakukan hal seperti itu, tentu saja aku makin tidak percaya diri. Apalagi usiaku sudah tidak muda lagi, ditambah jarak jauh yang menjadi penghalang hubungan kita."
Anna tergugu hingga kesulitan menelan saliva. "Maaf Kak, maaf. Aku gegabah dan tidak memikirkan perasaanmu saat melakukan itu. Maaf jika membuatmu marah dan kesal."
Hero melepas cekalannya di bahu Anna. "Aku tidak marah, aku hanya kecewa, aku tidak suka melihatmu terlalu mengikuti trend yang tidak baik di luar sana!"
Pria itu berjalan menuju kamarnya. Membuat Anna seketika panik dan bingung memikirkan bagaimana caranya membujuk Hero.
"Kak, ya ampun! Kok jadi begini sih?" Anna mendesahkan napasnya, frustrasi. Dua tangannya kembali melingkar erat di pinggang pria itu sebelum berhasil masuk ke dalam kamar. "Aku kangen sama kamu Kak, aku mau hari ini kita baik-baik saja, bukan malah bertengkar seperti ini," ujarnya.
Hero melepaskan dua tangan Ana yang melingkar di pinggang, lantas masuk ke dalam kamar diikuti oleh gadis itu dari belakang.
Anna sudah putus asa, ia tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan kata maaf dari pria yang pikirannya sulit di tebak itu.
"Aku harus bagaimana supaya kamu memaafkanku, Kak?" gadis itu berjongkok di depan pintu seraya menelungkupkan kepalanya. Ia sudah menyerah dengan usahanya. Sekarang tak ada yang bisa Anna lakukan selain menangis sambil menunggu diusir oleh pria itu.
Gadis itu mulai terisak-isak sampai menimbulkan perhatian Hero. Terpaksa ia berbalik walau hatinya sedikit berkecamuk. Dilanda perasaan tak jelas, antara kesal sekaligus senang. Senang Anna datang, kesal lantaran sempat dibuat cemas.
Huh, kapan kamu bisa dewasa Ann?
Ia menarik Anna dari posisi berjongkok hingga tubuh gadis itu saling berhadapan dengannya sekarang.
"Bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu?" tanya Hero datar, memaksa Anna mendongak seraya memamerkan wajah sembabnya yang sudah berderaian air mata. "Bagaimana rasanya jika kamu sudah datang jauh-jauh, tapi aku mengabaikanmu seperti ini. Sakit bukan? Itulah yang aku rasakan dua hari ini saat kamu mengabaikan pesan-pesanku setelah memamerkan foto mesra itu. Kamu pikir aku tidak takut kehilanganmu?"
Ucapan Hero membuat Anna semakin dilingkupi perasaan bersalah. Ia ingin memeluk Hero, namun memilih diam dengan tangan saling meremas di bawah sana.
"Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Maaf," lirih gadis itu takut-takut.
Hero mengembuskan napasnya pelan. Sayangnya pada gadis itu tak pernah hilang meski terkadang ia sangat menyebalkan.
"Aku sudah memaafkankanmu meksi kata itu tidak pernah kauucap sekali pun." Lantas membawa tubuh gemetar itu ke dalam pelukanya. Meresapi setiap kerinduan yang selama ini tertanam secara permanen di hati pria itu.
Hero pun berkata kembali. "Tapi aku belum bisa memaafkanmu untuk hal nekat yang kau lakukan sekarang. Kenapa kamu malah datang ke sini? Bukankah jadwal skripsimu sedang padat-padatnya? Aku tidak mau orang tuamu semakin menyalahkanku karena tingkah putrinya yang nakal."
Hero melayangkan satu kecupan sayang di puncak kepala gadis itu sebagai bentuk apresiasinya. "Tapi aku tidak suka suka kamu mengunjungiku seperti ini. Jika ada waktu, aku pasti akan datang mengunjungimu ke sana."
"Itu lama dan entah kapan, aku bisa mati kangen tahu," rajuk gadis itu, manja. Terus membatantah dan menjabarkan fakta-fakta yang sudah mereka lalui sebelumnya.
"Jangan lupa kabar paman dan bibi. Nanti aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu. Mereka pasti sangat merindukan putrinya." Hero melepas pelukkannya sesaat, lantas berjalan ke arah nakas.
Ekor mata Anna terus mengikuti langkah kaki Hero hingga pria itu berhasil mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. "Kakak, mau apa?"
"Izin tidak masuk," ujar pria itu, sudah membuka layar ponsel dan hendak menelpon Marco di balik sana.
Anna segera merebut ponsel di tangan Hero dengan cepat. "Jangan Kak, aku tidak mau kamu bertemu ayah dan ibuku."
"Kenapa? Apa kamu pikir aku takut pada ayah ibumu? Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah Ann," ucap Hero sungguh-sungguh.
Meskipun kedua orang tua Anna tidak pernah setuju dengan Hero dikarenakaan umurnya terlalu tua untuk Anna, namun pria itu tidak gentar maju demi tujuan baiknya. Hero yakin bahwa dirinya masih pantas bersanding dengan Anna. Dan Hero akan terus memperjuangkan gadis itu selama nyawa masih bersemayam di tubuh pria itu.
Anna menangkupkan dua tangannya di sisi wajah Hero. Matanya yang sudah berhenti menangis menatap pria lekat-lekat penuh cinta. "Aku hanya tidak ingin hatimu terluka, Kak. Khusus di hari ulang tahunmu, aku ingin kita mengukir kebahagiaan tanpa memikirkan orang lain."
Seperti sebuah doa yang dikabulkan, sebuah pesan masuk di ponsel Hero membuat perhatian Anna teralihkan. Gadis itu membaca dan mengarahkannya pada sang kekasih.
"Binggo! Bossmu bilang hari ini tidak bisa masuk karena harus menemani istrinya pergi belanja keperluan bayi. Sepertinya doaku dikabulkan, bekerjalah dengan tenang, aku akan menunggu kepulanganmu di sini."
Hero mencubit pipi Anna gemas. Lantas meraih handuk dan bersiap ke kamar mandi. "Aku akan mengantarkanmu ke hotel. Jangan tinggal di apartemenku."
"Tidak mau! Aku mau menginap di sini."
Pria itu menoleh ke arah Anna yang sudah melipat tangannya di depan dada dengan wajah cemberut. "Aku tidak mengizinkanmu tinggal di rumah ini," ucap Hero tegas.
Meskipun ia sempat berandai-andai ingin diperkosa seorang wanita, namun Hero tak mau merusak tubuh berharga kekasihnya hanya untuk kepuasan diri sendiri. Toh masih ada kamar mandi. Setidaknya itu bisa menjadi alternafit untuk Hero memuaskan diri.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa. Janji!"
"...." Hening. Hero tidak menjawab dan lekas pergi ke kamar mandi.
Mungkin yang Anna ucapkan iya. Tapi tidak untuk Hero yang sejatinya adalah pria normal. Ia tidak mau merasakan siksaan hasrat lantaran bisa melihat tanpa dapat menyentuh.
***
Mau up lagi? Jangan lupa kasih semangat hadiah bunga dan kopinya.