Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Lima Puluh Delapan


Bahu Marco sedikit berguncang mendengar penuturan Vanya. Segala rasa sakit seakan terkumpul dan menghujam seluruh tubuhnya saat itu juga. "Keenapa kamu berkata seperti itu Van? Menikah adalah kewajiban kita sebagai manusia. Dengan kamu berkata seperti itu, sama halnya kamu menyiksa batinku tanpa sadar, hatiku serasa remuk mendengarnya, aku tidak rela dengan keputusan tak berdasarmu itu."


"Maaf Co, aku hanya ingin hidup tenang," lirih wanita itu penuh kesedihan. "Semua yang sudah kuputuskan mutlak berdasarkan keinginanku. Setelah perjanjian kita usai, aku ingin kembali ke kampung halaman nenekku dan hidup tenang di sana. Aku enggan memikirkan pria lagi," tandasnya.


"Ini karena kesalahanku, 'kan?" Marco sudah menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Dengan seluruh jiwa raganya, Marco sungguh tak rela, tak terima dengan keputusan yang Vanya buat begitu saja.


"Tidak Co. Itu bukan karena salahmu, tapi aku saja yang takut untuk memulai kisah cinta baru. Semua yang Adit lakukan sudah cukup bagiku. Aku tidak mau dibuang oleh pria untuk kesekian kalinya."


"Siapa yang akan melakukan itu hal seperti itu? Aku tidak akan membuangmu Van. Aku janji!" tegas Marco dengan suara selembut mungkin.


Vanya hanya mampu tersenyum getir ketika mendengar ucapan Marco. Lalu mengucapkan kata sarkasme yang membuat Marco tertohok seketika. "Mulut manusia memang bisa berjanji manis sekali, tapi dia sendiri tidak pernah tahu perubahan apa yang akan terjadi pada dirinya dikemudian hari. Begitu pun dengan Adit kala itu. Dia begitu tulus, aku begitu percaya, namun pada akhirnya kisah kami berakhir tragis."


Marco menggeleng tak setuju.


"Jangan pukul ratakan semua lelaki itu sama Van. Aku bukan Adit, meskipun aku bukan lelaki sempurna, dari dulu aku selalu tulus saat mencintaimu. Kamu wanita pertama, dan cinta pertama juga," ujar Marco penuh penekanan pada setiap nada bicaranya.


Lagi dan lagi Vanya menebar senyum getir. Ia yang sudah memakan asam pahitnya kehidupan tidak bisa mudah percaya begitu saja. "Kamu pikir dulu Adit tidak tulus padaku, Co? Dia sangat tulus saat mencintaiku, aku dapat merasakannya, sama sepertimu, Adit juga tidak bohong saat mengutarakan perasan cinta dan niatnya untuk hidup bersama. tapi seperti yang kubilang, manusia tidak pernah tahu perubahan apa yang terjadi pada hatinya di kemudian hari."


Marco terdiam. Tubuhnya membeku tanpa bisa berbuat apa-apa. Kalau Vanya pergi demi pria lain yang sangat ia cintai, mungkin Marco akan mengerti, tapi sekarang keadaannya sudah beda, wanita itu bahkan tidak mau bermimpi hidup dengan lelaki lagi. Sebuah trauma miris, yang mungkin menjadi dasar pertahanan hidup Vanya saat ini.


"Itu adalah pilihanku. Tolong mengertilah." Vanya melepas pelukannya mereka begitu saja. Hal itu membuat Marco reflek menggenggam kedua tangan wanita itu secepat kilat.


"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Marco.


"Minta apa?" Vanya sedikit mengernyit, membentuk tiga kerutan lurus pada dahinya.


"Aku ingin selama satu tahun ini kita menjalani hubungan selayaknya suami istri normal. Setelah itu kamu boleh melakukan apa saja, kamu mau ke mana pun itu hakmu, aku tidak akan menahan atau mengganggu hidupmu lagi. Kamu bisa hidup bahagia dengan keputusanmu."


Kemudian terdiam menunggu jawaban Vanya. Tentunya Marco bukan pria bodoh, ia tidak mungkin melepas wanita yang tengah mengandung anaknya itu tanpa bantuan finasial, hanya saja Marco belum ingin membahas hal itu. Pikirannya masih dipenuhi harapan bahwa dalam waktu satu tahun ini ia bisa menaklukan hati Vanya dan bahagia bersama buah hati yang mereka miliki.


Tring ....


Sebuah panggilan sialan masuk begitu saja. Membuat Marco dan Vanya reflek terhenyak.


"Maaf, aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku masih butuh waktu lebih untuk berpikir, silahkan angkat panggilan teleponmu dulu," ujar Vanya gugup, dan langsung mengalihkan pandangannya ke samping.


Marco mengepalkan tangannya, geram. Meraih ponsel di atas nakas yang layarnya menampilkan nama Hero—sekretarisnya.


Pria itu melangkah turun dari atas ranjang, berbicara sedikit menjauh dan tampak marah-marah. Ada sekitar dua menit, Marco baru kembali lagi menghampiri Vanya yang masih duduk diranjangnya.


"Ada sedikit masalah pribadi, aku harus pergi menemui Hero di apartemennya. Maaf, sepertinya acara belanja kita hari ini gagal. Aku harus pergi sekarang juga." Marco menyambar handuk dengan buru-buru. Berita yang Hero sampaikan hari ini cukup membuatnya marah dan tercengang.


"Iya, aku tidak masalah. Semoga urusanmu cepat selesai." Vanya memandang Marco yang berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi. Ia menghela pelan seraya memikirkan permintaan Marco barusan. Apakah ia mampu menjalani pernikahan sandiwara ini? Rasanya berat. Vanya takut jika sikapnya kedepan dapat mengecewakan Marco untuk kesekian kalinya.


***


Makasih untuk semua yang mau menunggu cerita ini.


Nanti up lagi kalau banyak yang kasih bunga dan kopi. Wkwkw.