Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Empat Puluh Dua


"Em ... emmm. Sedang apa ya?" Marco termangu kaku. Wajahnya masih memucat pertanda ia belum menemukan jawab apa pun sedari tadi.


*Oh p*lease! Otak ... tolong segera berpikirlah! Mengapa kau mendadak bebal seperti ini?


Perintah Marco seperti tak mendapat respon dari otak yang selama ini ia bangga-banggakan kecerdasannya dalam bidang pekerjaan. Baik dari otak kiri maupun kanan, mereka berdua kompak berhenti seakan tengah meneriaki perbuatan terkutuk Marco waktu itu.


Sialan! Tahu seperti itu Marco memilih libur dulu jika sedang ada Ella di kamarnya. Tapi entahlah ... saat menginginkan hal itu, Marco tak bisa menahan dan persetan dengan kehadiran Ella di ranjang tersebut. Saat itu Marco mau, dan ia harus segera mendapatkan apa yang dibutuhkan batangan Naraciaga di bawah sana.


"Sedang apa Pa? Ella mau tahu?"


Mati sejenak boleh tidak sih? Marco mengumpat kesal dalam hati.


Butuh waktu dan tenaga untuk berpikir ekstra sampai Marco dapat terlepas dari jerat pertanyaan Ella. Salah-salah bicara, pria itu akan lebih terperosok ke jurang maut tanpa dasar yang membuat dirinya semakin mati kutu di hadapan anaknya sendiri.


Setelah nyaris menyerah, akhirnya Marco menjawab bahwa mama sedang memijit badan Marco yang pegal-pegal.


Jawaban itu tak membuat Ella puas. Ia justru mengejek sang ayah yang bisa-bisanya sakit padahal tak pernah melakukan apa-apa sepanjang hari. Bahkan mengambil makan saja selalu Vanya yang melakukannya.


Akhirnya Marco berkata lagi bahwa diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Banyak pekerjaan Marco yang Ella dan Vanya tidak tahu, salah satunya memeriksa laporan perusahaan, memastikan Hero bekerja dengan baik, dan terakhir melakukan meeting melalui aplikasi video setiap hari. Yang tahu Marco sesibuk itu hanya nenek karena beliau tinggal di rumah sepanjang waktu.


Sangat terlihat sepele, si. Tapi itu juga hal yang melelahkan sebenarnya. Apalagi akhir-akhir ini Marco mulai melakukan struktur penataan perkebunan.


Ada banyak hal yang akan pria itu rubah agar perkebunan semakin berkembang pesat di tangannya. Tahu sendiri 'kan, Marco tidak pernah setengah-setengah jika sudah menyangkut bisnis dan perusahaan.


Angin sepoi berhembus perlahan-lahan menerpa pepohonan. Lama kelamaan Ella yang duduk di pangkuannya mulai tertidur pulas setelah puas bertanya ini itu.


Marco segera membawa gadis kecil itu ke kamar untuk membaringkannya. Ia lantas melangkah ke kamar sebelah setelah tidak berhasil menemukan Vanya di berbagai sudut ruangan mana pun.


"Van!" Dilihatnya sang istri tengah duduk di depan meja rias. Pantulan cermin memancarkan wajah Vanya yang dipenuhi bekas luka tamparan dan sedikit goresan-goresan kecil.


"Kamu kenapa menangis?" Langkahnya semakin mendekat. Ia mendudukkan diri tepat di samping istrinya. Sama-sama menghadap ke arah cermin yang kini membiaskan pantulan tubuh mereka berdua.


"Nenek menyuruhku kembali ke kota bersama Ella dan juga kamu. Lagi-lagi nenek menyalahkanku soal itu," lirih wanita itu penuh kegamangan pada setiap nada bicaranya.


"Huaaaaaa ... tidak mau!" Vanya semakin menjerit. Dalam hitungan detik tubuhnya menyeruak masuk ke dalam dekapan Marco. Tingkahnya persis seperti Ella saat sedang ingin bermanja-manja.


Pria itu menepuk-nepuk punggung istrinya sambil memasang raut wajah bingung.


Apa ada yang salah? Bukannya apa yang Marco ucapkan sudah benar? Perempuan tidak suka dipaksa, 'kan? Dan Marco memberi kebebasan pada Vanya karena rasa sayangnya yang luar biasa.


Ia kecup puncak kepala Vanya yang masih menangis sesenggukan di pelukannya. "Kenapa menangis? Apa aku salah lagi?" ucapnya pelan.


Vanya mendongak dengan air mata berlinangan. Bibirnya terlipat membentuk sebuah lengkungan sendu.


"Kenapa lagi?" ulang Marco penuh kesabaran. Berkali-kali ia mengingatkan pada diri sendiri bahwa Vanya sedang mengandung bayi di dalam perutnya. Jelas hati wanita itu sangat sensitif akhir-akhir ini.


"Mana mungkin aku tega melakukan itu padamu!"


"Lalu maumu bagaimana? Kuikuti segala keputusanmu apa pun itu Van. Kamu mau di sini tidak masalah, mau di sana pun ayoo! Keputusan ini ada di tanganmu sepenuhnya."


Marco sudah menebak, Vanya pasti akan melalui saat-saat bimbang seperti ini. Antara ingin memilih tinggal bersama dirinya di kota atau menetap bersama sang nenek.


Dua-duanya adalah pilihan sulit untuk cucu yang sudah sangat lengket dengan neneknya.


***


Total up 3 bab. Satu lagi ditunggu aja.


Jangan lupa kasih dukungan bintangnya ya mentemen. Biar aku seneng. Seneng aja sih. Karena aku gak mengharap dapet apa-apa selain kesenangan dapet dukungan dari kalian.


Hatiku senang, update pun lancar. Wkkww.