
"Ka—kamu hamil?"
"Serius hamil?"
"Ini bukan Mimpi, 'kan?"
Untuk memastikan sekali lagi, Marco membaca ulang lampiran surat rujukan pemeriksaan dari klinik tersebut. Tertulis bahwa Vanya sudah dinyatakan positif hamil menggunakan testpack dan sekarang membutuhkan pemeriksaan lanjut dari dokter ahli kandungan.
"Iya serius! Menurut dokter dari klinik yang memeriksaku tadi, usia kandungannya sudah memasuki minggu ke enam."
"ENAM?" Makin tambah terkejutlah ekspresi wajah Marco kini. Padahal ia tinggal di kampung halaman Vanya baru sebulan lebih. Namun hamilnya Vanya sudah memasuki usia ke enam minggu.
Untung ia sudah paham akan teori-teori orang hamil, pikirnya.
"Pelankan suaramu, Marco! Aku malu."
Pria itu tersenyum geli dengan tingkah lakunya sendiri. "Maaf ... aku terlalu senang sampai tak tahu harus berkata apa lagi. Ini benar-benar berita yang sangat mengejutkan dan membuat jantungku seperti terjun ke dasar perut."
Didekapnya tubuh Vanya sekali lagi. Kali ini tidak terlalu erat karena takut menyakiti setitik nyawa di rahim istrinya.
"Jangan berlebihan! Lagi pula ini masih perkiraan, belum pasti dan harus melalui pemeriksaan USG dulu."
"Masa sih? Tapi aku tidak peduli dengan perkiraan dokter salah ataupun benar." Marco mendekatkan bibirnya ke telinga Vanya hingga wanita itu bergidik merasakan geli. "Aku lebih percaya pada diriku sendiri. Bibit unggul yang kutanam pasti selalu membuahkan hasil yang memuaskan! Kalau tidak mana mungkin langsung jadi Ella pada waktu itu. Dan sekarang pasti hasilnya sama saja dengan yang waktu itu," kata Marco dengan penuh keyakinan.
"Iksh! Kauini!"
Vanya menggeleng heran kenapa pria itu sangat membanggakan batang Naraciaga miliknya. Tak dipungkiri ini sudah terjadi dua kali di mana Marco selalu berhasil menanam benih pada percobaan pertamanya. Pipi wanita itu pun merona menahan perasaan malu.
"Aku kenapa?" ledeknya terkekeh.
Vanya melepas pelukan seraya mencibir. "Sombong!" gerutunya sambil menahan senyum.
"Orang sepertiku memang pantas sombong Van! Ini pasti yang di gudang apel waktu itu, kan? Entah kenapa saat itu aku sangat yakin bisa langsung jadi saat melakukannya. Mungkin karena sudah menahannya selama empat tahun lebih," ujar pria itu semakin meninggikan kesombongannya.
Marco melepas tawanya keras-keras. Lantas bergumam-gumam sendiri seperti orang bodoh. "Jangan-jangan setiap kali membuat bisa langsung jadi bayi! Aduh , bagaimana ini? Sepertinya bibit unggulku masuk dalam kategori Sperm* super!"
"Co ....!" Satu tepukan mendarat gemas di pundak pria itu. "Pelankan suaramu!"
Marco menyengir ala kuda. Kemudian mengelus-elus perut Vanya sebanyak tiga kali. "Memang begitu kenyataannya, Vanya sayang! Kamu harus mengakui kehebatan suamimu yang satu ini. Dia paling ahli dalam menggiling mesin pembuat bayi."
"Hebat si hebat, tapi jangan berisik!"
Marco memasang wajah sok polos seperti tak ada dosa.
"Bayi instanku be like, papa tidak sabar menunggu kehadiranmu, Nak! Abaikan saja mamamu yang galak dan tidak peka dengan kebahagiaan papa."
"Astaga Marcooooo!"
*
*
*
"Benar sehat ya, Dok? Tidak ada tanda-tanda yang aneh dengan kandungannya, 'kan?" Marco bertanya seperti itu karena khawatir. Ia takut perut Vanya terbentur benda keras atau tak sengaja terpukul saat insiden di perkebunan tadi.
"Asli sehat! Anda tidak perlu khawatir. Bayi dan ibunya juga sehat," jawab dokter itu.
"Syukurlah kalau semuanya sehat."
"Tapi tetap harus dijaga emosionalnya ya. Wanita hamil sangat sensitif."
"Siap Dok! Untuk yang satu ini jangan khawatir."
Marco dan Vanya saling pandang dengan senyum terbit sepanjang memandang ke arah monitor USG yang menampilkan gambar-gambar tidak jelas. Mirip seperti buah kacang merah lebih tepatnya.
Pria itu mengecup dahi Vanya berkali-kali. Entah ke berapa kali juga ia mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena wanita itu telah bersedia mengandung anaknya untuk kedua kali.
Sang dokter kandungan mengambil hasil cetakan USG tersebut, lantas memberikannya kepada Marco. Pria itu menerimanya dengan sangat antusias sambil tersenyum memandangi hasil cetak USG kandungan Vanya.
"Terima kasih, Dok!"
Di tatapnya foto hitam putih berbahan thermal tersebut. gambar bayi mereka terlihat sangat kecil dan membentuk huruf C, yang merupakan kepala, kaki, dan tali pusat, dengan panjang 0,635 sentimeter.
"Aku senang sekali Van. Setelah sekian lama berpisah langsung mendapat hadian anak kedua seperti ini!"
"Iya, aku juga senang sekali." Vanya mengelus puncak kepala Marco. Sang dokter tersenyum dan melangkah ke ruang sebelah setelah menutup tirai pada kabin ruangan.
"Ella pasti senang sekali! Aku tidak sabar melihat ekspresi anak itu saat mendengar kabar bahwa kamu hamil."
"Iya," jawab Vanya datar. "Tapi bagaimana dengan orang tuamu?" Tentunya Vanya masih memikirkan kedua orang tua Marco yang belum pernah bertemu dengannya sama sekali hingga detik ini.
"Orang tuaku pasti baik-baik saja. Mami dan Papi sekarang sedang tinggal di rumah utama," jawab Marco. "Kalau kamu sudah siap, aku akan membawa kalian berdua menemui mereka sekalian menunjukkan calon anak kedua kita, tetapi jika belum aku tidak masalah. Itu artinya aku akan menumpang hidup di rumahmu lebih lama. Setahun jadi pengangguran juga tidak masalah untukku. Masih ada Hero yang bisa mengaliri banyak uang ke rekeningmu setiap bulannya. Aku tinggal jadi boss yang terima beres saja dari jarak jauh. Enak, 'kan?"
Satu cubitan gemas melayang di pipi kiri pria itu.
"Dasar kamu ini! Kasian Hero tahu!" Wanita itu terdiam setelahnya.
Kini Vanya mulai menimbang-nimbang keputusan yang harus segera ia putuskan. Tidak mungkin Marco meninggalkan pekerjaannya lama-lama hanya karena ingin berada di dekat Vanya. Ia tahu bahwa pria itu mengemban tugas berat dan menjadi penanggung jawab bagi ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahan I-Mush Grup. Vanya tidak boleh egois dan menahan Marco di tempat terpencil ini demi kepentingan dirinya.
Namun, di sisi lain ia merasa berat meninggalkan kampung halaman yang sudah menjadi tempat bernaung ia dan Ella selama ini. Nenek juga tidak mungkin mau ikut bersamanya tinggal di kota karena sempat berkata sudah nyaman dengan kehidupan di desa.
Jadi, apa yang harus Vanya lakukan?
Aku ingin bersama Marco, tapi bagaiman dengan nenek?
***
Like dan Komennya dong mentemen Sayang. Komen dan like gratis kok, gak pake acara bayar pake koin....