Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Seratus Enam


"Van, aku pengin!" Mulut pria itu merengek seperti bayi. Sementara Vanya yang baru saja terjatuh di pangkuan Marco berusaha mengatur napas akibat mendapat kejutan jantung yang terlalu berbelihan.


Perlakuan Marco membuat sebagian otaknya tercecer. Bahkan ia tak sadar bahwa bagian dada yang terbuka menjadi pemandangan lezat pria kelaparan di depannya. Marco tak berkedip melihat bagian tubuh mencolok itu. Sangat mengganggu dan membuat tubuh lainnya meronta tak karuan.


"Boleh 'kan, Van?" Kepala Marco memaksa menyeruak hingga membuat Vanya tersentak dari alam bawah sadar.


"Hey!" Teriakan Vanya memaksa pria itu untuk mendongak. Meninggalkan benda yang sangat dirindukan demi menatap ekspresi wanita itu. "Jangan sembarangan kamu, ya!"


Digenggamnya tangan wanita itu seolah sedang meminta izin. "Ayolah.... Empat tahun lebih ituku menganggur tanpa disentuh, Van! Kamu bisa bayangkan sendiri betapa tersiksanya aku selama ini! Sebagai pria normal, menahan hasrat seperti itu bukanlah hal yang mudah untukku!"


"Memangnya aku peduli?" Memicing sinis, wanita yang hatinya tak mudah digoyahkan itu memasang wajah ketus sebisa mungkin. "Tahu dirilah sedikit Marco, empat tahun menghilang tanpa kabar, lantas datang meminta jatah, kamu pikir aku wanita apa?"


Vanya berdiri merapikan diri. Tak lupa menutupi bagian daster yang robek dengan dua telapak tangan. "Silakan pergi dari rumah ini jika kamu berani bersikap seperti itu lagi kepadaku! Aku hadap kamu bisa menjaga batasanmu sampai aku benar-benar meaafkanmu!"


Ancaman mematikan itu bukanlah main-main. Setelah menghentakkan kaki ke lantai, Vanya meninggalkan Marco yang tengah memandang dirinya dengan wajah bingung sekaligus bersalah.


"Ah, sial! Kenapa aku sampai selancang ini?" Pria itu berdecak kesal. Menonjok bantal guling hingga benda itu terpental dari tempatnya.


Marco sadar betul bahwa menjinakkan wanita berotak keras seperti Vanya tak semudah memelihara banteng liar. Butuh perjuangan khusus agar Vanya mau memafkannya hingga kemudian menerimanya. Tapi sekarang, ia malah berbuat lancang sampai membuat Vanya menilainya sebagai buaya tak ber-ekor.


"Empat tahun aku bisa menahan semua itu. Harusnya beberapa hari lagi tidak masalah, bukan? Kenapa aku malah mengatakannya sekarang? Mulutku ini benar-benar nekat!"


Marco tak henti-henti mengumpat. Ingin rasanya pria itu membakar bagian tubuh tidak tahu malu miliknya.


*


*


*


"Upah kita minggu lalu sudah diambil Van?" Nenek yang baru selesai menyuapi Ella menyela pekerjaan Vanya. Wanita itu baru saja membawa tiga kantong baju kotor milik tetangga ke arah kamar mandi luar untuk dicuci.


Sejak memutuskan pulang kampung meninggalkan kehidupan Marco yang ribet, wanita itu memang merubah dirinya 180 derajat. Demi bisa mencukupi keluarga, Vanya rela bekerja apa saja. Membanting tubuhnya demi selembar upah yang mungkin tidak seberapa.


"Oh!" Pandangan nenek teralihkan saat pintu kamar terbuka. Marco keluar dengan penampilan berbeda hingga membuat yang tengah berdiri dari arah dapur dibuat gemetar gugup seraya menelan saliva.


Semua bulu-bulu yang menghiasi wajah Marco bersih tak tersisih. Sepertinya pria itu baru saja selesai mandi dan membersihkan diri. Kini baju yang tadi dipakainya telah terganti kaos berwarna putih dengan celana joger panjang sebagai penutup bawahnya.


"Ada apa?" Marco tampak bingung saat semua memandang ke arahnya. Terutama Ella yang tidak berkedip sedari tadi.


"Ah, kamu jauh lebih tampan! Ella pasti sudah tidak takut lagi. Iya 'kan Ella?" Nenek tersenyum bangga. Kakinya melangkah menuju Marco untuk mendekatkan anak itu dengan papanya.


Sementara Vanya mulai mencari kesibukan. Mengambil piring kotor di atas meja untuk mengalihkan perhatian.


"Sini anak papa yang cantik, sudah mandi ya?" Marco meraup paksa Ella dari gendongan sang nenek. Gadis kecil itu tampak diam, namun wajahnya jelas menggambarkan aura tertekan.


"Mamaaa!" Teriakannya sedikit tertahan. Bibirnya terlipat membentuk sebuah lengkungan cemberut.


"Kenapa?" Vanya menoleh sambil memcuci tangan di wastafle.


"Kenapa Ella, bukannya papa Ella sudah tampan?" sambung nenek.


Bibirnya memble. Matanya berbinar hendak seperti hendak menangis. Membuat Marco yang tadinya ingin mencium Ella jadi urung.


"Papanya masih jelek, Ella tidak suka dengan papa yang ini, Nek!"


Jelek?


Lehernya tercekat. Kerongkongan pria itu bak telaga kering saat Ella lagi dan lagi menghina soal wajahnya.


***


Tembusin komen yang banyak. Aku up lagi. Kwkwkw