
Terdengar egois dan menuntut, tapi apa yang Marco ucapkan ada benarnya juga. Nenek yang pernah kuliah di jurusan psikolog juga menyarankan hal yang sama untuk mengesampingkan perasaan egois demi Ella dan juga dirinya. Karena bagaimanapun juga, menyimpan perasaan benci di dalam hati bukanlah hal yang baik.
Namun, apakah ia harus memaafkan pria itu secepat ini? Bukankah dunia akan semakin menghujatnya sebagai wanita tidak berotak jika dengan mudahnya memaafkan kesalahan lelaki?
Tubuh Vanya kian melemah. Mempermudah Marco memeluk wanita itu dengan lebih leluasa.
Ia memberanikan diri mendongak serta menatap wajah Marco. "Tapi memaafkanmu tidak menjamin kamu tidak akan melakukan kesalahan lagi, bukan? Bagaimana kalau kamu mengulangi kesalahanmu lagi? Sudah cukup ibunya diperlakukan seperti ini. Aku tidak mau Ella harus ikut menjadi korban juga!"
Tatapan Vanya sangat menusuk.
Pria itu tampak menghela. Membiarkan air hujan masuk melalui cela bibirnya yang sedikit terbuka.
"Sikap tidak mudah percaya memang wajib dimiliki oleh wanita. Namun kamu harus bisa berpikir lebih jeli lagi bahwa aku sudah melakukannya semaksimal mungkin. Empat tahun aku berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahanku yang tidak mudah. Dan itu semua kulakukan atas dasar izinmu terlebih dahulu, kamu yang menyuruhku memperbaiki semuanya baru menyusulmu ke kampung halaman! Hero adalah saksi, dia yang memegang alamatmu. Perlukah kita telepon anak itu sekarang jika kamu lupa?"
Vanya menggeleng. Ia tidak menunduk, tidak juga berpaling dari pandangannya.
Marco tahu Vanya kesal lantaran Marco terlalu lama mengabaikannya. Namun satu hal yang tidak perlu Vanya tahu, empat tahun memulihkan perusahaan yang sudah nyaris hancur adalah waktu yang sangat singkat.
Jika bukan demi Vanya dan Ella, Marco tidak yakin bisa membereskan semuanya dalam jangka secepat itu.
"Semoga saja ini terakhir kalinya aku mengingatkan soal surat itu , Van. Aku tidak ingin konflik peedebatan kita hanya seputar itu-itu saja! Masih banyak hal yang harus kita urus. Kamu wanita cerdas, aku yakin kamu paham dengan apa yang aku maksud."
Duarrrr!
Suara petir yang menyambar salah satu pohon di sana membuat Vanya bergidik dan mengeratkan pelukannya pada Marco. Pria yang sedang berusaha keras meyakinkan istrinya itu terpaksa menghentikan aksinya.
"Kita akhiri dulu perdebatan hari ini. Kita harus segera mencari tempat untuk berteduh kalau tidak mau jadi korban keganasan petir!"
***
Langit mulai menggelap. Dua manusia itu bernaung di sebuah gudang penyimpanan apel yang hanya dihunii ketika musim panen tiba. Jika tidak sedang memasuki musim panen gudang penyimpanan sementara itu terbengkalai begitu saja.
Marco mengedarkan pandangannya ke sekeliling gudang yang penuh dengan tumpukkan peti kayu bekas yang biasa digunakan untuk mengemas buah apel.
"Sementara berteduh di sini saja!" Hujan masih turun dengan lebatnya. Vanya baru saja membuka mulut setelah mendiamkan Marco cukup lama. Nada suaranya sudah kembali seperti semula, menandakan bahwa wanita itu sudah tidak terlalu canggung lagi.
"Udaranya sangat dingin, kita harus segera membuat perapian kalau tidak ingin membeku!" Pria itu menunjukkan termometer cuaca di ponsel yang angkanya nyaris berada di angka empat.
"Sebentar, aku coba cari pemantik apinya dulu! Mungkin saja masih ada sisa bekas para pekerja." Vanya hendak melangkah, namun Marco menggandeng tangan wanita sesegera mungkin.
Vanya mengangguk.
Pada akhirnya mereka mencari pemantik api dengan bantuan senter ponsel. Beruntung di dekat tempat perapian masih ada sisa milik para petani apel. Kini Marco hanya perlu menumpuk kayu-kayu kering untuk membuat perapian. Ia menggunakan kayu bekas peti apel yang dipatah-patahkan untuk bahan bakarnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian perapian itu berhasil nyala sempurna. Marco menggelar sebuah tenda tepat di depan kobaran api.
Ia melirik Vanya yang masih menggigil. Tangannya memeluk dada dengan bibir mulai membiru.
"Lepas baju basahmu Van! Kita harus bisa saling menghangatkan dalam keadaan seperti ini!"
Kontan wanita itu menggeleng. Sedetik kemudian ia melihat Marco yang sudah membuka pakaian dan meletakkannya di samping perapian.
"Kamu tidak mau hipotermia, kan?" Kepala wanita itu sudah berpaling saat Marco menegurnya dengan tubuh nyaris polos. Tingal sisa kain kecil yang menutupi bagian pangkal pahanya.
"Jangan mencari kesempatan kamu!" gertaknya.
"Astaga Vanya! Kita sedang dalam keadaan seperti ini. Untuk apa aku mencari kesempatan. Kalau aku berniat, aku sudah melakukannya saat kita berada di dalam kamar tadi."
Vanya meneguk salivanya malu. Pipinya seketika merona mendengar serangan kata yang yang keluar dari bibir pria itu. Ada benarnya juga, untuk apa mencari kesempatan di tempat yang tidak layak begini?
"Ehmmmm. Lalu aku harus apa?" Memilih pura-pura bertanya seolah tidak tahu.
"Skin to skin! Saling menempelkan kulit untuk menjaga suhu tubuh kita agar tetap stabil."
"Bersamamu?" seru wanita itu melotot.
"Memangnya dengan siapa lagi? Kita hanya berdua di tempat ini!"
"Aku tidak mau! Lebih baik seperti ini saja!" Kini matanya sedikit mengintip. Melirik pada bagian otot-otot perut Marco yang tampak mencolok. Membayangkannya saja sudah membuat Vanya terbang melayang-layang.
"Jangan sok kuat! Tubuhmu sudah pucat seperti mayat hidup!" Di tariknya tubuh itu hingga tersungkur ke dalam pangkuannya. "Buka bajumu!"
***
Tau kan, apa yang akan terjadi di part selanjutnya. Yuk yuk. komen dan likenya di kencengin biar cepet up.