Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku

Dijual Suamiku Dan Dibeli Mantan Pacarku
Sembilan Puluh Tiga


Marco terperanjat kaget saat melihat hanya ada Hero tengah berdiri di samping tempat tidur seraya menatapnya dengan wajah datar. Lalu di mana Vanya?


Dua tangannya refleks mengepal, tidak terima melihat kelancangan Hero yang seenak jidatnya masuk ke dalam kamar tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Terlebih ia sudah memiliki Vanya sebagai istrinya sekarang.


"Di mana istriku?" Marco tak sempat menanyakan sejak kapan Hero datang ke pulau sebrang. Pikirannya langsung menjurus negatif saat Vanya tak menjadi pemandangannya pagi ini.


"Selamat pagi Tuan. Saya datang ke sini untuk menjemput Anda kembali atas perintah tuan Fernando. Untuk masalah nona, sekarang nona sudah berada di tempat yang aman," jawab Hero pelan.


"Apa yang kau lakukan bodoh! Di mana kau menyembunyikan Vanya?" Marco begitu murka mendengar jawaban Hero yang mengandung arti ketidakjelasan seperti sedang mempermainkannya.


“Saya tidak menyembunyikan nona di mana pun. Nona sendiri yang ingin pergi dari sini.” Kontan Marco membola murka. Sorot mata tajam itu menatap Hero dengan raut penuh ketidakpercayaan. 


“Jangan bercanda kau Her! Vanya tidak mungkin berani meninggalkanku begitu saja tanpa pamit.”


“Tapi kenyataannya memang seperti itu, Tuan. Nona sendiri yang memutuskan untuk pergi. Jika tidak percaya--” Hero merogoh sesuatu di dalam saku jasnya. Sepucuk surat yang dilipat menjadi bentuk persegi ia ulurkan kepada Marco. “Ini surat dari nona. Anda bisa membacanya sendiri jika tidak percaya.”


Marco menggeleng, enggan menerima surat tersebut karena masih menganggap ini hanya main-main. “Jangan membuat drama di pagi hari! Jelas-jelas sebelum kau datang Vanya sangat tidak ingin berpisah denganku. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Apa kau telah mengusirnya hingga wanita itu pergi?”


“Saya tidak memiliki keberanian sebesar itu hingga mengusir nona tanpa sepengetahuan Anda.”


"Lalu kenapa bisa dia pergi? Pasti ada peran kau dan juga papi, 'kan!"


Marco langsung tertunduk dengan tangan menelungkup ke permukaan wajah. Otaknya tiba-tiba berdenyut ngilu ketika harus mendapat masalah tambahan sepagi ini. Ia tidak percaya bahwa Vanya pergi meninggalkannya begitu saja lantaran wanita itu sudah berjanji sendiri untuk tidak meninggalkannya dalam keadaan apa pun. Kenapa tiba-tiba jadi begini? Pasti ada yang tidak beres, pikirnya.


“Katakan itu tidak benar, Her. Katakan …,”ucap pria itu dengan suara terlemahnya.  Bahu Marco nampak bergetar. Jika tidak ada Hero mungkin ia akan menangis saat ini juga.


Hero memalingkan wajah saat Marco menatapnya.


Hero memilih tertunduk menatap lantai marmer yang sebenarnya tidak menarik sama sekali untuk dipandang. Ia merasa kasihan terhadap Marco, tapi menurutnya ini adalah keputusan terbaik. Terlebih semua ini merupakan keinginan Vanya sendiri tanpa dasar keterpaksaan dari pihak mana pun.


 


Pria itu mendongak lagi. Meneliti ekspresi wajah Hero untuk menerka sesuatu.


 “Apa yang kau katakan kepadanya, hah?” Tiba-Tiba Marco berteriak sampai Hero tersentak. Teriakan pria itu cukup menggelegar sehingga memenuhi seisi ruangan luas kamar tersebut. Wajahnya memerah. Semakin marah tatkala melihat berdiri Hero mulai gelisah.


“Baca saja surat dari nona dulu saja, Tuan!” Hero kembali menyodorkan lipatan kertas tersebut. Kali ini Marco mulai menerima dan membukanya perlahan. Selagi pria itu membaca, Hero berjalan keluar untuk mengambil sesuatu di luar.


Hai, Marco Sayang ….


Saat kamu membaca sepucuk surat ini, itu artinya aku sudah membulatkan tekad tanpa bisa diganggu gugat.


Tangan Marco bergetar hebat seiring dengan kalimat pembuka yang baru saja dibacanya. Dadanya terasa sesak setelah melihat tulisan tangan itu memang asli tulisan tangan Vanya.


Kenapa kamu tega sekali padaku, Van? Kupikir kita sudah benar-benar baikan!


Rasanya Marco tak sanggup lagi melanjutkan membaca surat itu. Titik-titik keringat menghiasi seluruh dahi. Setelah menarik napas panjang beberapa kali, Marco memberanikan diri membaca kelanjutan surat tersebut demi ingin tahu alasan di balik Vanya mennggalkannya.


***


Sebelum baca part berikutnya tebak dulu yuk. kenapa Vanya tiba-tiba pergi? wkkwkw.


Dua part meluncur, jangan lupa komen dan like dulu sebelum lanjut.