
***
"Karena aku sudah mencintaimu!" Kalimat itu lolos dengan logis dari bibir mungil Vanya semudah air terjun yang mengalir dari atas gunung.
Seketika hening menyeruak. Marco terpaku sejenak. Hatinya saat ini bagaikan tersambar petir dan kilat.
Berkali-kali pria itu menyadarkan diri, namun otak bekunya masih saja tidak percaya dengan kalimat indah yang baru saja didengarnya langsung dari bibir Vanya. Semuanya begitu cepat hingga Marco menganggap hal ini hanya sebuah fatamorgana.
"Va-Van!" mulut Marco sedikit bergetar. "Ka-kamu sedang tidak bercanda, bukan?"
"Aku serius!" jawab wanita itu tegas.
Marco sedikit memiringkan kepala membentuk raut kebingungan. Ekspresi wajahnya masih menunjukkan bahwa ia masih belum bisa percaya begitu saja.
"Kok bisa?"
"Kok bisa apanya?" Vanya balik bertanya.
Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah. Pandangannya menatap lurus pada Vanya yang terus memalingkan wajah ke arah mana pun dengan tatapan kosong seperti tengah menyembunyikan malunya.
"Kok bisa kamu tiba-tiba menyatakan cinta dengan semudah itu?"
"Jadi maksudmu aku wanita gampangan?" Kontan ia menoleh pada Marco secepat kilat. Membuat Marco menggeleng seketika panik.
"Bu-bukan begitu, Van! Soalnya beberapa hari lalu kamu masih berkata ingin lepas dariku. Sekeras apa pun aku meyakinkan perasaan, tapi kamu masih tidak mau juga menjalin cinta denganku. Maka dari itu aku heran, kenapa perasaanmu bisa berubah secepat ini? Jujur aku merasa ada di tengah-tengah alam mimpi dan kenyataan. Belum percaya dengan kata-katamu barusan."
Vanya menunduk. Meremas jari-jemari yang terpangku di atas paha. "Aku juga tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini."
Wajah wanitai itu terlihat sedih. Rona merah yang sempat menghiasi pipi perlahan hilang berganti sendu dan sisa-sisa air mata yang mulai mengering di sana.
"Awalnya aku memang ingin lepas darimu secepat mungkin. Bagaimana pun juga aku tidak suka hidup bersama orang yang telah menjual dan membeliku! Ini terlalu gila! Meskipun aku tahu kamu sangat mencintaiku, tapi apa yang kamu lakukan tetap salah. Aku bodoh jika masih mau menerima orang seperti kamu ataupun mas Adit dengan lapang dada. Setidaknya aku harus menunjukkan pada kalian berdua bahwa aku masih memiliki harga diri!"
Benar yang wanita itu ucapkan, cinta yang di awali dengan dendam dan rencana kotor tidak pantas dipertahankan. Setidaknya Marco harus mengulang sekali lagi, mendapatkan Vanya dengan cara berjuang agar mendapat hakikat cinta suci.
Wanita itu mendongak, menatap penuh wajah Marco dengan mata berbinar. "Tapi bayi yang ada di dalam perutku seperti tidak rela jika harus berpisah dengan ayah kandungnya! Dia ingin selalu bersamamu! Sehingga aku terpaksa melawan arus. Meyakini kebodohanku adalah sebuah kewajaran atas dasar perasaan seorang manusia biasa yang mudah berubah dan juga goyah. Jadi aku memutuskan ingin bersamamu," ucap wanita itu sedikit merendahkan nada bicaranya pada akhir kalimat.
Ia mengelus perut buncit itu dengan perasaan bersalah karena telah membawa-bawa sang anak sebagai alasan. Padahal Vanya sendiri tidak tahu kejelasan pasti, apakah perasaannya merupakan bawaan bayi atau murni tumbuh dari hati.
"Itu sebabnya aku sakit hati saat kamu bilang hendak melepaskanku di saat keadaan kita seperti ini. Aku merasa dibuang! Sehina itu sampai aku harus banget kamu singkirkan!"
Marco meletakan dua telapak tangannya di bahu Vanya. "Tidak seperti itu Van! Justru aku melepaskanmu karena aku tidak kuat melihat kamu menderita. Aku ingin kamu bahagia dan tidak terus-menerus merasa sakit seperti ini. Tidakkah kamu sadar bahwa semua penderitaanmu berawal dari ulahku?"
"Iya. Aku tahu, aku sadar, maka dari itu kamu harus bertanggung jawab mengobati semua luka-lukaku. Terutama yang satu ini. " Vanya meraih satu tangan Marco, meletakkannya di bagian dada kiri. "Kamu harus bertanggung jawab karena perasaan yang sudah melebar ini tidak bisa dibendung lagi. Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku!"
"Van!"
"Hmmm." Wanita berdeham tanpa kata. Wajahnya merona kembali saat Marco meletakan telunjuknya di atas bibir wanita itu.
"Semua yang aku dengar dari bibir ini nyata, 'kan? Aku bukan sedang bermimpi atau lain sebagainya?"
"Tampar aku sekarang Van!"
"Tampar!"
"Bantu aku tersadar dari mimpi indah ini!"
***
Jangan lupa komen yang bersahabat.