
Vanya benar-benar tidak tahu pembalasan apa yang akan Marco lakukan terhadap mereka. Begitu mendapat pesan entah dari siapa, Marco langsung pamit pergi dengan alasan ingin membereskan semua orang-orang yang tadi sempat menghakiminya di lokasi kejadian.
Keadaan wanita itu juga dinilai sudah cukup membaik. Maka dari itu Marco tega meninggalkan Vanya yang sekarang masih diobati beberapa luka pada bagian wajahnya.
Sekarang wanita itu sedang berbaring di ruang pemeriksaan klinik. Dokter meletakkan kapas dan alkohol ke wadah stainless, lantas memberikannya kepada perawat setelah selesai mengobati.
"Untuk luka-luka memarnya sudah diobati semua ya, Nona. Sepertinya tidak ada luka yang serius. Wajah Anda akan sembuh kembali tanpa operasi." Dokter itu tersenyum, kemudian mengecek urat nadi Vanya yang dirasanya cukup aneh.
"Terima kasih Dok. Syukurlah kalau bisa sembuh dengan sendirinya," ujar Vanya merasa lega. Jika wajahnya tidak bisa kembali seperti semula, entah reaksi apa yang akan Marco berikan kepada para manusia jahat itu.
"Tetapi ada satu pemeriksaan lagi yang ingin saya lakukan untuk memastikan perihal yang membuat Anda jatuh pingsan. Apakah Anda bisa bangun sebentar untuk menampung wadah urine ini di kamar mandi?"
"Urine?" Vanya mengernyit bingung.
"Iya ... urine."
Lantas Vanya bangkit dari posisi berbaring dengan dibantu oleh dua perawat.
"Bisa sih,"jawabnya agak ragu. "Tapi untuk apa ya, apa saya punya penyakit dalam?"
Dokter itu tersenyum. "Hanya untuk memastikan sesuatu Nona."
"Hmmm ... baiklah!" Vanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Ia segera menjuntaikan ujung kakinya ke lantai. Ada sedikit getar kecemasan di wajah wanita itu saat melirik wadah urine di tangan perawat.
Vanya takut Dokter akan mendiagnosa bahwa dirinya memiliki penyakit dalam. Atau malah justru penyakit ganas yang selama ini tidak diketahuinya.
"Silakan di bantu ke kamar kecil, Sus." Berbicara pada dua perawat yang berdiri sigap di samping Vanya, doktet itu kembali fokus menulis resep obat untuk penyembuhan luka memar di wajah Vanya. Ia melirik sedikit ke arah Vanya yang memasuki kamar kecil dengan raut wajah sedikit takut.
Dokter itu sengaja tidak memberitahu apa-apa agar dugaannya bisa menjadi kejutan untuk Vanya.
*
*
*
Tiga puluh menit berlalu.
Vanya langsung bangkit dari posisi berbaring begitu dokter telah kembali dari ruang kerjanya. Wajahnya sedikit pucat bersama dengan keringat yang mengucur deras dari sekitar pelipisnya.
"Ganas? Ya Ampun! Tidak ... tidak ...! Anda sehat dan baik-baik saja. Bagaimana bisa Nona berfikir seperti itu?" Dokter itu menunjukkan benda pipih di tangannya. "Justru saya ingin memberikan selamat pada Nona, ternyata Anda sedang hamil!"
"Hamil?" Ia berseru kaget seolah suaranya ingin didengar oleh seluruh dunia.
"Iya, hamil!" Sambil mengulurkan hasil tespack di tangannya kepada Vanya. Wanita itu menerimanya dengan mulut menganga tidak percaya.
" Tadi saya sempat mengecek urat nadi, walau saya bukan dokter kandungan, tetapi saya sedikit paham dan tahu caranya membedakan wanita hamil dan tidak hamil. Jadi menurut kesimpulan saya, pingsan Anda tadi karena pengaruh dari kondisi psikis ibu hamil."
Ya Tuhan, benarkah aku hamil?
Pikirannya terasa linglung. Vanya masih menatapi benda pipih bergaris dua di tangannya dengan binar bahagia.
Wanita itu masih tidak menyangka kabar bahagia secepatnya terbit setelah ia mendapat serangan luka yang cukup parah.
"Nona ...."
"Nona ...."
"Nona ...."
Tiga kali dokter itu memanggil. Vanya baru mendongak begitu dokter menepuk lembut pundaknya.
"I-iya," jawab Vanya tergugu-gugu.
"Anda harus segera memeriksakan kandungan Anda setelah ini agar tahu berapa usianya. Bagaimanapun juga saya bukan dokter kandungan, saya hanya bisa memeriksa sekadarnya dengan alat seadanya," terang dokter itu.
Vanya mengangguk. "Tapi apakah benar saya hamil?"
"Seratus persen Anda hamil! Dari emosional, kondisi tubuh, bahkan tekananan darah yang tidak stabil, saya bisa memastikan bahwa ada nyawa dengan usia kandungan lebih dari lima minggu di perut Anda, Nona."
Lima minggu?
Vanya membulatkan matanya terkejut.
Apa dia langsung jadi begitu Marco bercocok tanam? Hebat sekali pria itu. Sudah dua kali Vanya mengalami hal seperti ini, pikirnya.
***